Sunday, 18 December 2011

Pulang Kampung Part 2

Edisi Narsis...

Melanjutkan hal yang kemaren-kemaren tuh. Tapi baru bisa di posting sekarang. Maklum belakangan ini lagi banyak kesibukan.

Di Bogor banyak hal yang bisa saya lakukan kecuali smsan atau teleponan atau internetan. Karena memang di sana hal-hal seperti itu nggak mendukung adanya jaringan sinyal. Sebenerya sih saya bingung. Bukannya kalau di atas gunung itu malah seharusnya banyak sinyal ya? kan di atas gitu loh! Eh nyatanya malah ga ada sinyal.

Dan sebenarnya saya udah lupa ingin melanjutkan cerita apa tentang pulang kampung ini, pasalnya belakangan yang membuat saya ingat itu sms dari teman-teman yang mengajak saya pulang kampung. Ya sudah deh... 

Ini adalah rumah yang biasa di duduki anak-anak Pesantren. Sederhana saja, kan? Sangat berbeda jauh dengan pesantren-pesantren modern yang ada di Jakarta. Kalau ini bisa dibilang versi wong ndesonya... Walau bagaimanapun ternyata fasilitas di pesantren ini sangat kurang memadai. Sering mati lampu. Bahan bacaan yang sangat sedikit, mereka juga mengandalkan satu guru untuk mengajar. Yup... hanya ada satu guru pengajar di sana. Namanya Ustad Amir (kalo gak salah). Tadinya saya berpikir ingin membantu mereka dengan cara  mengumpulkan teman-teman mengadakan baksos di sana. Dan InsyaAllah semoga dalam waktu dekat semuanya biasa terealisasikan dalam bentuk nyata. Aamiin... Siapa yang mau ikut membantu kami? Hayooo kita cari pahala bersama-sama...




Ingin merasakan bebas, dan lepas seperti ini... Rasanya tuh sesuatu banget...









Nah, kalau yang sudah pernah ke kampung saya pasti sudah tahu ini di mana, kan? Dulu waktu acara pramuka tempat ini jadi tempat berendam teman-teman yang dilantik waktu malam-malam itu. Masih ingat nggak? Eh tahu gak sih tempat ini biasanya jadi tempat mandinya kerbau atau sapi di kampung ini kalau para petani di sana habis membajak sawah... hahaha.....






Pohon kelapa ini keren abis ya? Hm... biasanya kalau mau kelapa ya metik sendiri aja. Tapi, saya nggak bisa manjatnya. Makanya kadang minta tolong Kakek atau Mang Asep buat manjat. Masalahnya waktu itu mereka sedang pada sibuk gitu buat acara nikahan Mang Asep. Jadinya ya gak bisa makan ini kelapa... Biasanya kalau ke sini saya nggak pernah absen untuk ngerujak kelapa... Fyuh... Curhat, Boi!




Tapi untungnya meskipun saya nggak bisa ngerujak kelapa, Setidaknya saya masih bisa ngerujak markisa... Hahaha,,, orang-orang di sana biasa pada metik pas masih ijo-ijo begini. Nanti isinya di masukkan ke dalam gelas trus di kasih gula merah atau gula putih lalu es batu. Jadilah es markisa. Dan yang bikin gue bingung kenapa pula rasanya seperti es jeruk gitu. Aneh kan? apa mungkin cita rasa dari lidah saya yang sedang  aneh? Saya juga nggak gitu ngerti sih. hahaha...




Tapi coba deh lihat lebih dalam, lebih dekat, dan lebih-lebih lainnya. Ini bener, kan buah markisa?? gue jadi linglung gini...









Lihatlah betapa bahagianya mereka.... Nah, kalau ini semacam tempat kumpul-kumpul gitu. Tempatnya tepat di belakangan rumah kakek. Ada ayunannya, ada empangnya, banyak pohon kelapa, pohon markisa, pohon pisang, pohon jambu kelutuk. wah pokoknya banyak pohon-pohon deh... hehehe Saat itu kita lagi pada ngerujak... Keren kan? 
(Baca: yang moto keren alias gue)





Ini dia yang saya maksud ayunan itu... Ayunan yang hanya bermodal tali tambang aja.. hahahaha....








Dan ini pohon pisangnya.... Kayaknya jodoh gitu deh sama gue, tingginya aja hampir samaan... :p





Tempat ini memang multifungsi... dan saya menjadikannya tempat bersemedi... Menikmati alam, merasakan hembusan angin yang sepoi-sepoi... dan lain-lain...

Mungkin segitu saja yang bisa saya sampaikan. Lebih dan kurang sama mohon maaf sebanyak-banyaknya. Saya kan hanya manusia biasa yang penuh dengan kesalahan ya kan? Jiah mulai deh kultum...

Lain kali kita sambung lagi pembahasan tentang kampung saya, okay... Takkan habis deh walau diceritakan...... Halah..

Monday, 28 November 2011

TRIBUTE TO EMAK HAJI


Bismillahir rahmaanir rahiim...

Mungkin saya tidak seberuntung mereka yang bisa hidup dalam naungan keluarga yang utuh, Namun bisa jadi saya setingkat lebih beruntung karena sudah dipertemukan dengan sosok, Emak Haji. Tapi sekarang rasanya berbeda… Semakin sepi tanpanya, saya benar-benar payah. Tidak tahu lagi harus bagaimana.

Saya hanya bisa terduduk lemas melihatnya sudah tidak berdaya lagi, tidak seperti dulu. Padahal dulu Emak selalu menunjukkan bahwa dirinya selalu baik-baik saja. Tapi kali ini…

Saya memang bukan siapa-siapa dan tidak bisa apa-apa. Namun saya sungguh berarti jika dihadapan Emak. Emak yang sering membanggakan saya, menganggap saya anaknya sendiri tak jarang sering bilang pada orang lain Emak anak gadisnya tinggal satu aja, paling bontot. Emak yang selalu membela saya disaat situasi yang tidak mendukung keadaan saya. Dan sekarang mungkin saya akan membiasakan diri hidup tanpanya.

25 November 2011
Jumat 14.30

            Masih teringat jelas saat saya berangkat ke TPA, sebenarnya saya berat meninggalkan Emak. Emak hanya bilang dia baik-baik saja. Selepas mengajar saya sempat jatuh dari motor sampai helm yang saya pakai tidak bisa digunakan lagi. Refleks melihat bendera kuning di pinggir jalan. Hati saya menjadi tidak karuan dan ingin cepat-cepat sampai rumah.

            Sampai di rumah keadaan mulai membaik, yang saya lihat Emak lagi makan. Katanya selama sakit Emak makannya banyak, lapar terus. Selama sakit Emak tidak mau yang namanya disuapin, ia lebih senang melakukannya sendiri. Tapi untuk pertama kalinya Emak mau T_T. Meski dalam keadaan sakit Emak memang tidak ingin merepotkan oranglain, untuk ke kamar mandi saja tidak mau di papah. Itulah Emak…

            Selepas Magrib jum’at malam…

            Emak memanggil Saya, Ummi, Mama, dan Mak Yeyeh. Beliau ingin mendengar kami mengaji, di kamarnya. Dalam keadaan beliau yang masih sesak. Beliah hanya bingung mengapa sakitnya tidak sembuh-sembuh, biasanya kalau kumat hanya sebentar tetapi kali ini sampai 2 hari dua malam. Tidak bisa tidur, hanya zikir. Emak hanya bilang Emak capek, Emak ingin tidur. Tadi emak nggak sempat sholat zuhur sama asar, nggak kuat bangun. Allahumma… Emak memang tidak pernah lalai dari sholatnya, bahkan dalam kondisi sakit sekalipun.

            Pukul 20.00... Jum’at Malam..

            Saya mengantar Mak yeyeh pulang, nggak bawa hape, sampai di rumah saya tidak pernah menyangka bahwa magrib tadi pertemuan saya terakhir dengannya, pertemuan berbincang terakhir dengannya. Ya Allah… Sebenarnya sudah sering sekali Emak bilang. Kalau orang meninggal jangan ditangisi, kasihan yang meninggalnya nanti tersiksa. Tapi, tangis ini memang tidak bisa dibendung lagi, semuanya pecah, padahal dulu saya pernah bilang, Iya Emak, Ani gak nangis. Dan yang saya tahu ikhlas itu tidak semudah itu. Sulit sekali… T_T Bahkan saya tidak bisa menahan airmata ketika menulis ini. Maafkan Ani, Mak.. Maafkan… Insya Allah kami semua belajar untuk ikhlas…

Selamat Jalan, Emak…

Wahai Allah…
Saya bersaksi selama saya hidup bersama beliau, emak tidak pernah sekalipun membuat saya menderita, sedikitpun.
Wahai Allah…
Emak adalah wanita baik yang selalu menularkan kebaikan untuk orang lain, di manapun.
Wahai Allah…
Saat beliau sakit, saya masih melihatnya melakukan sujud yang panjang disepertiga malam-Mu
Wahai Allah…
Dalam hidupnya saya tidak pernah melihatnya bersedih, sekalipun.
Wahai Allah…
Emak tidak pernah membuat susah oranglain, meski beliau ada di posisi paling sulit sekalipun.
Allahumma Ya Allah…
Tempatkan Emak disisi terbaik-Mu, berikan Emak Rahmat-Mu di Akhirat, Masukkanlah Emak ke dalam deretan orang-orang yang beriman kepada-Mu yang merindukan jannah-Mu, dan buat kami ikhlas menjalani ketetapan-Mu.
Aamiin...



29 November 2011
ditengah kesendirian

Thursday, 17 November 2011

Tiga 'S'



Sepi
Sunyi
Sendiri

Duniaku kembali

Tertatih menuju gelombang cinta

Hingga aku mengerti: Bahwa pengharapan selalu menyelimuti Sang Pecinta

Di sini aku bermuhasabah diri

Mengurai pikiran yang ringkih

Menelaah jundi-jundi hati yang pernah perih

Biarkanlah, aku tahu ini hidupku

Aku tak kan membiarkan diriku terjerat lagi

Lelah sekali

Hanya tertatih menuju abadi, dan tak sampai lagi

Biarkan aku bersama angin yang berhembus nyata,

Bersama langit yang diintip bulan bintang, mereka ada, tidak samar-samar

Mengertilah…

Tuesday, 8 November 2011

Pulang Kampung Part 1 ^_^

Jreng... Jreng... Jreng... Alhamdulillah akhirnya jadi juga mudik. Tapi belum puaaaaasss.... masih kangen suasana di sana. Belum sempat ngerujak kelapa ah, gak seru.

Entah mengapa perasaan ini makin bebas saja, lega, menikmati suasana di sana itu benar-benar mengobati luka ini. Eh belum semua sih, masih ada yang tersisa, dikit.. xixi

Ngarep banget di sana bisa menikmati hujan, nyatanya malah gak turun. Gimana nih, padahal kan Bogor itu julukannya Kota Hujan masa nggak hujan-hujan barang sedikit :( Tak apa deh yang penting sudah bisa menginjakkan kaki di sana. Saya sudah sangat bahagia. 


Dulu katanya saya lahir di desa ini... Tapi kasihannya sampai sekarang saya belum bisa mengerti bahasa sunda dengan baik dan benar. Lieur euy...


















Subhanallah ya... Indah banget, selalu rindu dengan desa ini. 
Poto ini diambil tadi, cantik, kan?
Di sebelahnya ada satu-satunya Masjid. Kalau siang hari halamannya suka dipake buat ngejemur gabah beras. Jadi multifungsi gini ya Masjidnya?












Banyak hal yang istimewa yang membuat saya betah tinggal di sini. Mau banget bisa tinggal di kampung, gak apa-apa deh nanti belajar di pesantren bareng Sugi (sepupu). Katanya pesantren di sana memang belum begitu terurus. Adanya masih deket rumah kakek masih tetanggaan gitu. Enak ya jadi kalo laper tinggal pulang. Nah kasihannya di sana kadang santrinya makan hanya pakai sambal dan lalapan saja. Miris kan?  Tapi asyik, kan.. Saya juga suka sekali makanan bogor. Apalagi sambalnya, beuh... Dan satu lagi, Ikan asin...





Mantap kan.... xixixi

Eh tapi saya nggak suka ah sama Pete!












Sengaja ngambil bunga ini, abisan lucu aja, cerah kan warnanya? Kuning-kuning gitu.. ^^














Friday, 4 November 2011

BEBENAH DIRI (lagi)

Bismillahir rahmaanir rahiim...

Semakin lama entah mengapa saya semakin tidak bisa mengenali diri saya sendiri. Perubahan secara otodidak yang membuat saya kadang bertanya. "Lo kenapa sih? Kenapa lo jadi begini sih, Er?" Begitu kata hati saya. Dan ternyata teman-teman yang lain juga beranggapan demikian, katanya ada yang berubah dari diri saya. Tapi, saya sungguh tidak ingin seperti ini.

Sudah hampir dua tahun ini masa hijrah saya, masa dimana saya mengevolusikan diri saya menjadi lebih baik. Dan nyatanya saya memang bodoh, saya belum bisa mengendalikan hati yang keruh ini. Padahal, padahal, padahal. Ah... Ternyata bangunan Iman yang saya bangun selama ini sudah hampir roboh.

Baiklah, saatnya bebenah diri. Sudah tidak perlu ditunda-tunda lagi. Karena semakin lama akan semakin menyiksa saja. Mulai sekarang saya gadaikan hati ini kepada Allah, agar tidak ada lagi yang perlu saya ragukan lagi. Insya Allah...

Wednesday, 2 November 2011

MENJADI ORANG BAIK

Bismillaahir rahmaanir rahiim...

Dulu saya pernah ditanya, jika sudah besar saya ingin jadi apa? Tentu menjawab bahwa saya ingin menjadi PENULIS dan seorang PSIKOLOG. Entah bagaimana akhirnya ketika saya mulai berpikir bahwa ternyata cita-cita seperti ini sudah banyak yang menginginkan, tentu akan lebih banyak saingan untuk itu. BERJUANG itu harus, SEMANGAT itu perlu,  IKHTIAR dan BERDOA yang penting.

Teringat perkataan seorang teman yang bilang bahwa kesuksesan itu terbagi menjadi TIGA macam:
Yang pertama: JADILAH YANG PERTAMA. Untuk meraihnya mungkin akan sulit, bukan?
Yang kedua    : JADILAH YANG BERBEDA. Bagaimana caranya? 
Namun jika keduanya tidak bisa dicapai, makan pilihan yang paling tepat adalah
Yang ketiga     : JADILAH YANG TERBAIK. Seberapapun kau mampu untuk itu.

Saya termasuk orang yang banyak sekali memiliki permintaan pada Allah, tidak terhitung malah. Tapi, saya yakin seberapa banyak yang kita pinta Dia akan selalu ada untuk mendengarkan lalu mengabulkannya. :)

Dan sekarang jika ditanya. SAYA INGIN JADI ORANG BAIK, baik itu relatif, kan? Mungkin semua orang memiliki sifat baik. Saya ingin menjadi orang baik yang bisa menularkan kebaikan pula untuk orang lain. Dan untuk sekarang sepertinya saya belum bisa mewujudkannya, sebab saya belum baik tetapi hanya terlihat baik karena Allah yang sedang menutupi Aib saya. Jadi sekarang saya ingin bertanya. Bagaimana menjadi PENULIS yang baik itu? Baik itu yang seperti apa? agar saya bisa menjadi orang baik. Beritahu saya teman. :)


KALIAN HADIR MERINGANKAN BEBAN SAYA, DIK!


Senang sekali melihat kalian, Dik! Kadang tertawa, kadang menangis, kadang juga suka ngadu kalau dijahatin teman. Hahaha... Alhamdulillah kehadiran adik-adik tadi sore kembali membuat saya kembali tersenyum. Ah... saya suka sekali melihat wajah-wajah polos mereka, wajah yang apa adanya seperti tanpa memiliki masalah. Apalagi saat melihat mereka antusias membaca doa, berebut minta dulu-duluan baca Iqro. Begitu semangatnya kalian, Dik!

Seperti tadi, seorang anak menarik-narik jilbab saya sambil ketakutan dan sekadar bicara
"Kak, Dia nakal!" Huh dasar bocah!

Intinya saya merasa lepas sekali jika bersama mereka, seperti menjadi anak kecil lagi, tertawa bersama, sedikit meringankan beban saya. Kangen merindukan suasana seperti ini padahal mah kadang saya merasa kerepotan sendiri kalau udah pada berantem, nangis, teriak-teriak.

Rasanya ingin jadi anak kecil lagi, meskipun masa kecil saya tidak begitu bahagia setidaknya saya cukup dimengerti. Namun, sudahlah. Insya Allah saya Ikhlas...

Jadi inget tadi pas lagi ngajar TPA, ceritanya ada seorang murid yang datang ke saya. Namanya Raffi.
Raffi : Kak, kakak mirip sama kakakku
Saya : Masa?
Raffi : Iya bener, namanya Kak Icha. Mukanya sama suaranya sama cuman Kak Icha nggak pake kacamata
Saya : Oh gitu, kenalin dong sama Kak Icha
Raffi : Ayo kak kapan-kapan ikut
Saya : Memang Kak Icha dimana
Raffi : Di Medan, Kak
Saya : *Ngurut dada* (Deuh kirain mah deket, pake ngajak-ngajak segala lagi)

Lain halnya dengan perbincangan tadi.
Raffi  : Kakak udah nikah, Ya?
Saya : Kata siapa Kakak udah nikah? belum kok.
Raffi  : Ah Kakak bohong ! (idih kok dia yang nyolot yak?)
Saya : Belum, ngapain Kakak bohong
Raffi  : Itu Kakak pakai cincin. *Gubrak* (Hah memang buat yang belum nikah nggak boleh pake cincin apa ya?)
Saya : Memang kenapa kalau pake cincin?
Raffi : Kata Mama kalau pakai cincin berarti udah nikah. Ya kan, Kak? itu cincin kawin kan, Kak?
Saya : *Nyengir* Bukan, Ini cincin hadiah waktu Kakak beli Chiki Zacki. (Jawabannya keren kan?) Dan Raffi percaya, Yess!!

Hahaha seru banget kan kalau udah berbincang sama anak kecil? meski sedikit-sedikit makan hati, tapi itu benar-benar membuat saya merasa dihargai dan dimengerti meski dengan cara yang berbeda...

Ah nanti kalau seandainya udah nikah, nggak mau seperti yang diiklan yang katanya dua anak lebih baik. Apaan coba tuh? Suka-suka dong.. Nanti maunya punya anak minimal tujuh.. itu angka kesukaan saya loh! Hahaha... Udah ah...

Tuesday, 1 November 2011

MENGALAH BUKAN BERARTI KALAH



Hari ini berbeda, tidak seperti kemarin-kemarin. Saya merasa lebih tenang. Sepertinya dunia ingin berdamai dengan saya (Pasti bingung) :D

Mungkin kali ini saya yang harus mengalah. Tak apa deh, saya kan baik. :) Tapi nyatanya saya masih kaku dan belum bisa menjadi seperti dulu yang lepas. Saya sudah mencoba terbuka. Gagal dan gagal lagi meski ternyata ada beberapa teman yang peka terhadap saya. Yang ada saya malah semakin tersiksa. Ya, dinikmati saja.

Hm... Percaya deh kau tidak akan pernah bisa mengerti bagaimana perasaan seseorang sebelum kau berada pada posisi si pelaku (deuileh.) Seperti saya juga yang belum bisa mengerti kalian dengan sempurna. Namun saya masih percaya bahwa saya juga masih membutuhkan teman-teman. Jangan pernah bilang sekali lagi kalau kalian tidak bisa menolong saya. Teman, Kalian telah menguatkan saya. Itu sudah sangat membantu.


Tidak apa jika ada yang menganggap saya aneh, saya benar-benar tidak tahan dengan keadaan seperti ini. Saya hanya ingin jikalau saya hadir dihadapan kalian, saya ingin menjadi pribadi yang jauh lebih baik daripada sekarang, harus lebih kuat, lebih bersemangat, dan lebih dewasa tentunya. Saya juga tidak ingin selamanya seperti ini.

Kali ini saya mengalah, bukan berarti kalah. Doakan saya selalu ya.. :) Semoga hal ini tidak berkepanjangan... Saya juga sebenarnya sudah jenuh...

Saturday, 29 October 2011

Mencari Keinginan Hati

Hingga saat ini saya masih belum mengerti apa maunya hati, ia seakan menarik saya kembali ke masa silam itu, masa di mana saya rapuh untuk pertama kalinya bahkan dulu lebih parah lagi, pikiran negatif yang selalu berputar di otak membuat saya kehilangan arah. Bedanya, sekarang saya sudah mulai bisa mengendalikannya. Sedikit demi sedikit.

Mungkin hanya butuh waktu untuk mengembalikannya seperti semula, saya ini hanya seorang wanita yang tengah terluka. Untung semuanya pikiran yang dulu menggerayangi saya sudah tidak ada lagi, sekarang saya ingin hidup yang baru. Mencoba belajar mendewasakan diri. Mulai mengerti bahwa bahwa membuka diri itu penting meski sulit. 

Saya pernah untuk pertama kalinya membuka diri setelah sekian lama menjadi sosok introvert, kepada Murobbiyah/Guru Ngaji saya. Dia mengerti dan memahami masalah yang saya hadapi, membantu menguatkan dengan doa, membantu mendengar dengar telinganya, membantu menguras airmata saya yang sudah lama hanya terpendam tak bisa dikeluarkan, dan membantu menopang beban saya. Ternyata memang benar lega sekali rasanya. Tapi, setalah itu saya jadi malu jika bertemu dengan beliau, segan dan tidak enak hati. Meski beliau hanya menanggapinya biasa saja. Seperti biasa, senyuman yang tulus.

Dan sekarang masalah yang saya hadapi lebih pelik, mungkin Allah sudah bosan mendengarkan cerita saya setiap malam meski saya tahu Dia tidak akan pernah meninggalkan saya sekejapan mata pun. Saya yakin itu. Seperti yang diucapkan Guru saya "Ketika kita tidak memiliki siapapun di dunia ini, tapi ketika ada Allah di hati semuanya sudah lebih dari cukup," Saya setuju pernyataan seperti itu. Dan menyakini bahwa Allah adalah satu-satunya yang bisa menolong saya saat ini. 

"Saya memang tidak bisa mengobati rasa sakit hatimu, tapi percayalah bahwa saya akan mendengarkan kamu.  Kamu tidak bisa selamanya seperti ini."
Seorang teman pernah berkata seperti itu. Tapi tetap saya belum mampu lagi untuk bicara apapun. kau pasti mengerti keadaan saya sekarang, kan, teman?

Izinkan saya untuk menemukan keinginan hati, bersama Allah saat ini. Percayalah saya tidak pernah sendiri. Dan saat saya bertemu kalian lagi saya tak ubahnya seperti dulu, masih sama. Masih seorang yang kadang pendiam dan seorang yang kadang bawel dan cerewet, kau tahu kan bagaimana sifat saya? Sifat saya memang aneh bukan? hehehe...

30 Oktober 2011

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...