Wednesday, 19 October 2011

Cerpen # Surprise Terindah


Aku melakukan ini semua bukan karena aku membencimu. Asal kamu tau aku menyayangimu karena Allah. Sahabatku, percayalah tanpamu aku hanyalah sebuah sepi.

Sahabatku adalah saudaraku sampai akhir hayatku. Ipah sahabatku dengan nama lengkap Cholifah. Beberapa hari lagi adalah hari jadimu, aku gak tau apa yang harus aku berikan padamu. Aku tahu mungkin ipah tidak berharap apapun. Tapi, salahkah jika aku ingin memberikannya sebuah hadiah sebangai tanda persahabatan kita.

Seperti biasa jam istirahat berdering. Ipah sahabatku  bergegas menuju kantin sekolah, ia membantu ibu kantin yang biasa di sapa Ibu roro melayani dan menjaga kantin. Terkadang ia teriak-teriak karena ditemui ada siswa yang tidak membayar  jajanan di kantin. Padahal setahuku Ipah menjaga kantin tidak medapat gaji, hanya dapat makanan gratis di kantin setiap hari tanpa bayaran materi. Namun, yang membuatku kagum kepadanya ia tak pernah gengsi ataupun malu di ledek teman-teman sekelas yang biasa menjadikannya bahan celaan.

Ipah hanya jajan tiga ribu setiap hari bahkan tidak jajan sama sekali sementara pengeluaran di sekolah jauh lebih besar dan membuatnya harus bekerja karena himpitan ekonomi keluarganya. Terkadang ia menjadi kuli cuci sehabis pulang sekolah sehingga waktunya tidak banyak untukku juga teman-teman lainnya.

 Aku bersama dengan teman-temanku membuat sebuah rencana untuk hari milad Ipah yang tinggal menghitung hari.

“Mau ngasih kado apa nih?” Tanya Puji ketika di kelas.
“Apa aja yang berkesan,” Jawabku.
“Iya tapi yang berkesan itu apa Er?” Tanya Mutia. Aku diam tanda bingung.
“Eh kita ceplokin aja yok?”  Iftah memberi solusi.
“Jangan, cabe mahal kali,” Ceplosku.
“Apa hubungannya Er nyeplokin sama cabe mahal?”
“Ya pokoknya ngaruhlah. Mubazir pula, lebih baik kita kasih telurnya sama Ipah biar dia masakin daripada di buang-buang,”
“Trus kadonya apa? Jujur aja gue lagi Kismin, kita patungan aja ya seperti biasa,” Kata Siti. Kami hanya menarik nafas panjang-panjang. Belum selesai rapat kami tiba-tiba Ipah hadir di tengah-tengah kami. Ia membawa satu bungkus siomay juga air mineral dari kantin.
“Eh kok pada enggak jajan sih? Nih pada mau gak?” Tanya Ipah menawarkan siomay jatahnya. Aku hanya tersenyum. Juga teman-temanku yang lain pada nyengir kuda. Ipah malah cengo.

 Sepulang sekolah Iftah mengambil HP Ipah tanpa sepengetahuannya dan memberikannya kepadaku. Niatnya teman-teman ingin memberi kejutan untuk Ipah. Dalam hatiku masih tersimpan rasa kasihan, bukannya di kasih hadiah malah dikasih musibah. Ipah terlihat kelabakan karena HPnya ilang. Keesokan harinya tepat hari Ulang Tahunnya aku jujur kepadanya jika HPnya ada denganku. Ia marah dan ngambek. Entah dengan cara apa aku meluluhkan hatinya. Aku berniat mengambil HPnya yang ada ditasku. Aku menyesal sekali jika akhirnya akan menjadi seperti ini padahal sebuah kado belum diberikan padanya. Namun kemana HP ipah? Mengapa tidak ada di tasku? Hilangkah? Bagaimana mungkin?

“Udah jujur siapa yang ngambil? Kalian gak kasihan apa ngeliat Ipah? Udah dua hari nih HPnya sama kita. Lagian dia juga kan pastinya banyak keperluan,” Kataku dihadapan empat orang teman-temanku.
“Kemarin kan HPnya udah aku kasih kamu Er,” Kata Iftah.
“Iya tapi enggak ada, tadi pagi tuh masih ada. Kenapa sekarang ilang?”
“Yah gak tau…” sahut teman-temanku dengan wajah panik.

@@@

Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan jika sudah begini? Aku ingin marah tapi gak tau mau marah sama siapa? Yang ngambil HP ipah juga aku gak tau siapa orangnya. Ipah masih marah dengan Kami terutama denganku yang telah menghilangkan Hpnya. Aku dan teman-teman bersama-sama ke Rumah Ipah untuk meminta maaf atas kecerobohanku.

Sampai di gang rumah Ipah. Entah mengapa teman-temanku berhenti begitu juga dengan aku. Masih dengan wajah panik dan merasa bersalah yang amat sangat sehingga langkah kami terhenti.

“Er, jalan duluan dong,” Suruh Mutia.
“Ye  jangan gitu dong. Niat kita kan mau minta maaf. Jadi bareng-bareng aja biar adil,” Aku mencoba memberi saran.
“Gimana sih, ini kan gang kecil mana bisa jalan bareng berlima,”
“Eh iya ya… yaudah deh ngalah,” Kataku. Hatiku masih was-was dan ketar-ketir tidak karuan. Aku tahu banget sifat Ipah apalagi kalau lagi ngambek begini, biasanya dia suka kabur-kaburan dan gak mau di ajak bicara.

Sampai di depan rumahnya. Kulihat Ibunya Ipah tersenyum, aku mangucapkan salam dan mencium punggung tangannya. Di rumahnya ku lihat banyak makanan yang sudah tersusun rapi. Apa jangan-jangan Ipah merayakan Ulang Tahunnya? Tapi kok kami teman-temannya gak di undang?

“Ayo masuk-masuk… udah di tungguin daritadi,” Suruh Ibunya Ipah. Aku dan teman-teman melongo. Dan menurut masuk ke dalam rumah Ipah, Ipah muncul dari kamarnya dan terkejut melihat kami.
“Mau ngapain?” Tanya Ipah.
“Ipah, gak boleh gitu. Udah tuh ajak makan temen-temen lu, kasian datang jauh-jauh,” Ajak Ibunya Ipah. Namun Ipah tidak menggubrisnya sama sekali. Pasti Ipah masih sangat marah atas kejadian ini. Bagaimana mau minta maaf kalau Ipah masih emosi begini.
“Pah, dengerin kita mau ngomong,” Kataku.
“Gak mau denger!” Bentak Ipah.
“Tuh kan, udah yuk pulang aja. Pulang.. percuma Ipah gak mau denger,” Kata Iftah mundur sebelum berperang. Semua terdiam.

“HAHAHAHAHA….” Ipah tertawa ngakak. Kenapa ini anak? Nyeremin ih… kami bengong melihat tingkahnya yang aneh binti ajaib. “Muka kalian tuh pada ngenesin banget yaa, hahaha,”
“Hah??” Kami kaget berbarengan sambil berpandang-pandangan.
“Udah ah jangan kaget gitu, biasa aja kali. Yaudah pada makan yuk, emakku udah masak sayur asem sama sambel terasi. Hanya makanan seadanya nih, alakadarnya,” Ajak Ipah. Kami semua masih bengong melihat tingkah Ipah yang berubah drastis.
“Beneran nih?” Tanyaku yang memang sudah lapar banget.
“Iyaaa… sekalian aku mau bilang kalo HP aku udah sama aku loh. Lagian ngerjain orang gak dipikirin dulu sih. Tadi pagi kalian gak ada di kelas, aku miscall HPku eh ada getar-getar di tas Erny. Yaudah aku ambil aja siapa suruh HPku gak di nonaktifin. Kali ini gagal ya ngerjain aku? Kasian deh, hahaha,” Ipah tertawa bangga tanda kemenangan telah mengelabuhi kami. Niat ngerjain Ipah kenapa malah kami yang di kerjain??

Hari ini kami tertawa bersama di temani sayur asem juga sambel terasi kesukaan kami semua. kami memberikan sebuah kado untuknya. Sebuah boneka Teddy Bear kesukaannya dan Ipah menyukai dan langsung memeluknya. Ia ke kamarnya dan mengambil sebuah bungkusan keresek yang di dalamnya ada 5 buah boneka kecil berwarna pink. Ia memberikannya kepadaku juga teman-teman.

“Ini pegang satu-satu ya buat kenang-kenangan, buat Erny boneka Tazmania, Mutia Doraemon, Puji bintang, Iftah Hello kitty dan Siti boneka monyet,” Katanya. Sebenarnya yang milad siapa sih? Kok yang di kasih hadiah malah aku sama teman-teman.

Kami terharu dengan pemberiannya dan kami saling berpelukan di temani butir airmata gembira yang hadir. Entah sudah berapa lama Ipah menabung untuk memberikan hadiah ini untuk kami. Terimakasih sahabat telah membuat hidupku seindah pelangi.


(Cerpen yang terinspirasi dari kisah nyata saat saya masih di Aliyah dulu... Sungguh Saya merindukan kalian semua teman, Saya rindu seperti dulu... )

Oleh: Erny Binsa


No comments:

Post a Comment

Yang baca dan komentar saya doain nambah cakep... :D

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...