Skip to main content

Hanya Ingin Ngeluarin Unek-unek Aja

             
                Gue pingin cerita waktu tiga hari gue training kerja itu. sebenernya sih pekerjaan itu masih bikin gue ragu dan setengah hati ngejalaninnya. Pasalnya terlihat sekali kesenjangan sosial di sana. Beda jauh banget apa yang sering gue temui di jalan-jalan sama di kantor, malah gue rasa lebih parah lingkungan orang-orang kantoran deh. 

                Awal dateng gue emang udah dicurigai oleh satpam di sana, buset dah dikira gue teroris gitu? masa tampang cakep kayak gini dicurigai? gak sopan banget, gara-gara ngeliat gue pake jilbab kali? wah makin gak sopan ini orang. Tapi, ya udahlah. Dia minta KTP gue kasih. Tuh, mau apa dah?

                Saat masuk di sana gue bener-bener ngerasa asing seasing-asingnya. Ih bukan dunia gue banget ini mah. Dan di sana gue mulai belajar tentang Margin Trading semacam Saham gitu, weks halal atau haram ini? ini yang membuat gue merasa ragu untuk masuk di sini. Bukan hanya itu kebanyakan dari orang-orang yang ikutan Training kerja itu dari kalangan anak-anak kuliahan, ibu rumah tangga, atau pensiunan. Dan mulailah awal perkenalan satu per satu.

                Pertama di mulai dari seorang anak kuliahan yang ngakunya kuliah di BINUS. umurnya masih 19 tahun yah seumuranlah cuman nasibnya aja mungkin lebih baik daripada gue. Katanya Ortunya usaha kos-kosan dan udah punya 16 kos-an yang seharga 1.200.000/bulan. Gila ye? 

                Ada lagi  Seorang ibu rumah tangga yang datang dengan suaminya. Mereka pensiunan, suaminya bekas manager apa gitu, gak ngertilah. Dan mereka juga sering maen saham, sekarang udah punya perkebunan kelapa berhektar-hektar diluar kota. Katanya anaknya sekarang kuliah di singapura di universitas paling paporit di sana. 

                Dan pertanyaan gue adalah, mereka ini niat mau kerja atau mau pamer harta sih? Okelah gue emang nggak punya apa-apa dan cuman bisa diem seribu bahasa di sana. Bayangin aja gue kuliah cuman bertahan satu semester, kerjaan gue cuman ngajar TPA yang kata orang gajinya nggak seberapa. Dan orang tua gue hanyalah seorang buruh. So, apa yang bisa gue banggain di sana? tapi, gue bangga jadi diri gue sendiri, kenapa? Karena setidaknya gue masih bisa nabung, meski di dunia gak bisa seenggaknya gue nabung buat bekal akherat gue. Kata Emak gak boleh hanya ngejar dunia aja, itu hanya sesaat. Dan ketika gue menginjakkan kaki di sana, gue bener-bener merasa bahwa kesenjangan sosial mulai terlihat di sini.

                Contohnya saat jam istirahat semua temen-temen training gue berangkat ke kantin buat makan siang, sedangkan gue hanya bisa pasrah nunggu pulang kerja lalu makan di rumah aja dan hanya bisa berdiam diri di mushola. Tapi itu lebih baik.Dan di sana gue bener-bener nggak punya teman barang seorang yang bisa gue ajak ngobrol. Semuanya masing-masing. Kelompok orang banyak duit seturunya, kelompok orang gak punya duit ya hanya gue doang di sini. jiahahaha…

                Kok gue jadi ngerasa minder begini ya? sumpah ini tuh bukan tempat gue, gue nggak mau punya temen model begini.  Lah mereka juga belum tentu mau punya temen kayak gue, kan? Sok banget deh gue!

                waduh nggak tahu juga deh kalo mereka pada baca postingan gue di blog bakal gimana ya reaksinya? Gue sih bukan mau cari ribut atau mau ngadu, gue hanya ingin ngeluarin unek-unek gue aja yang seminggu belakangan bikin gue semakin nggak PD. Tapi kali ini gue rasanya udah lebih baik.

Comments

Popular posts from this blog

Seperti Hujan yang Jatuh Ke Bumi (Review)

Boy CandraKategori Fiksi (Novel)Penerbit Mediakita288 halamanRp. 65.000


Aku pernah belajar merelakanmu berkali-kali. Melepasmu pergi mencari cinta yang lain. Membiarkan kesempatan memilikimu hilang untukku. Sebab kamu berhak bahagia; meski sesungguhnya aku tidak bahagia dengan keputusan itu.
Kupikir hidup akan baik-baik saja. Semua harus berjalan seperti sedia kala. Kamu dengan seseorang yang dipilihmu. Aku entah dengan siapa,sendiri atau dengan yang lain. Aku mulai mencoba memberikan hatiku pada seseorang yang lain. Kubiarkan siapapun menggantikanmu. Namun, aku keliru. Melupakanmu ternyata tidak pernah semudah itu.
. . . Ini adalah pertama kalinya saya membaca karya Boy Chandra. Entah kenapa saya tertarik ketika melihat covernya dan tulisan belakang buku tersebut. Sebelumnya karena memang penasaran sih, by the way kenapa di setiap bukunya ada kata senja atau hujan? Kenapa yah?
Mulai baca BAB awal saya suka dengan gaya Boy Chandra bercerita. Di sana saya berkenalan dengan salah satu tokoh b…

Sepenggal Kisah di Pedalaman Baduy

Saya selalu menikmati sebuah perjalanan, dan beberapa pekan yang lalu saya menuju pedalaman Baduy. Sebenarnya untuk tahun ini perjalanan ke Baduy tidak ada dalam daftar list yang akan saya kunjungi. Namun, entahlah. Saya juga tidak menyangka bisa sampai disana.

            Suku Baduy terbilang unik dan berbeda dari lainnya. Mereka masih menjunjung tinggi adat istiadat dan saya memberi jempol untuk orang-orang yang masih bertahan dengan kehidupan di Baduy khususnya Baduy Dalam.

            Sebelum menuju Baduy Dalam kami diperkenalkan dengan seorang bapak-bapak bernama Mang Alim. Beliau suku Baduy asli dan kami akan bermalam di rumahnya. Mang Alim mewakili suku Baduy Asli, Suku Baduy Dalam memakai baju warna putih, memakai ikat kepala, jalan tidak memakai sandal. Mereka berbahasa sunda.

            Sebelum keberangkatan menuju Baduy, Mang Alim memberikan petuah sebelum melakukan perjalanan sekitar 2 jam dari Desa (Saya lupa nama desanya) sebut aja desa itu.

TRAGEDI PULAU DOLPHIN

Tragedi Pulau dolphin
Bismillahir rahmaanir rahiim
Udah lama banget ga nulis ya… gak produktif banget nih gak pernah posting tulisan.. -__-
Alhamdulillah karena saya abis jalan-jalan jadi saya jadi ada bahan buat ditulis. Sebenernya sih bahan banyak ada di mana-mana malah, masalahnya saya males ke toko bahan. Apalah apalah…

Pulau dolphin adalah salah satu pulau di sekitar pulau seribu. Mau kesana kudu transit dulu ke pulau harapan yang jaraknya 3-4 jam dari muara angke. Siap-siap mabok…
Beberapa kali pula saya dan teman-teman merencanakan ke pulau tapi hasilnya nothing alias gak pernah jadi. Kali ini saya tekadkan kalau perjalanan ini harus tetap jadi, berapapun orang yang ikut. Alhamdulillahnya terkumpul sekitar 11 orang yang ikut perjalanan ke pulau lumba-lumba yang pada kenyataannya ga ada lumba-lumbanya adanya malah ikan lepuh. #eh
Kita berangkat sekitar jam 8 pagi dari muara angke, kapal mulai berangkat. Karena sudah penuh kita kebagian duduk di belakang deket mesin, silahkan men…