Skip to main content

Mencari Keinginan Hati

Hingga saat ini saya masih belum mengerti apa maunya hati, ia seakan menarik saya kembali ke masa silam itu, masa di mana saya rapuh untuk pertama kalinya bahkan dulu lebih parah lagi, pikiran negatif yang selalu berputar di otak membuat saya kehilangan arah. Bedanya, sekarang saya sudah mulai bisa mengendalikannya. Sedikit demi sedikit.

Mungkin hanya butuh waktu untuk mengembalikannya seperti semula, saya ini hanya seorang wanita yang tengah terluka. Untung semuanya pikiran yang dulu menggerayangi saya sudah tidak ada lagi, sekarang saya ingin hidup yang baru. Mencoba belajar mendewasakan diri. Mulai mengerti bahwa bahwa membuka diri itu penting meski sulit. 

Saya pernah untuk pertama kalinya membuka diri setelah sekian lama menjadi sosok introvert, kepada Murobbiyah/Guru Ngaji saya. Dia mengerti dan memahami masalah yang saya hadapi, membantu menguatkan dengan doa, membantu mendengar dengar telinganya, membantu menguras airmata saya yang sudah lama hanya terpendam tak bisa dikeluarkan, dan membantu menopang beban saya. Ternyata memang benar lega sekali rasanya. Tapi, setalah itu saya jadi malu jika bertemu dengan beliau, segan dan tidak enak hati. Meski beliau hanya menanggapinya biasa saja. Seperti biasa, senyuman yang tulus.

Dan sekarang masalah yang saya hadapi lebih pelik, mungkin Allah sudah bosan mendengarkan cerita saya setiap malam meski saya tahu Dia tidak akan pernah meninggalkan saya sekejapan mata pun. Saya yakin itu. Seperti yang diucapkan Guru saya "Ketika kita tidak memiliki siapapun di dunia ini, tapi ketika ada Allah di hati semuanya sudah lebih dari cukup," Saya setuju pernyataan seperti itu. Dan menyakini bahwa Allah adalah satu-satunya yang bisa menolong saya saat ini. 

"Saya memang tidak bisa mengobati rasa sakit hatimu, tapi percayalah bahwa saya akan mendengarkan kamu.  Kamu tidak bisa selamanya seperti ini."
Seorang teman pernah berkata seperti itu. Tapi tetap saya belum mampu lagi untuk bicara apapun. kau pasti mengerti keadaan saya sekarang, kan, teman?

Izinkan saya untuk menemukan keinginan hati, bersama Allah saat ini. Percayalah saya tidak pernah sendiri. Dan saat saya bertemu kalian lagi saya tak ubahnya seperti dulu, masih sama. Masih seorang yang kadang pendiam dan seorang yang kadang bawel dan cerewet, kau tahu kan bagaimana sifat saya? Sifat saya memang aneh bukan? hehehe...

30 Oktober 2011

Comments

Popular posts from this blog

Seperti Hujan yang Jatuh Ke Bumi (Review)

Boy CandraKategori Fiksi (Novel)Penerbit Mediakita288 halamanRp. 65.000


Aku pernah belajar merelakanmu berkali-kali. Melepasmu pergi mencari cinta yang lain. Membiarkan kesempatan memilikimu hilang untukku. Sebab kamu berhak bahagia; meski sesungguhnya aku tidak bahagia dengan keputusan itu.
Kupikir hidup akan baik-baik saja. Semua harus berjalan seperti sedia kala. Kamu dengan seseorang yang dipilihmu. Aku entah dengan siapa,sendiri atau dengan yang lain. Aku mulai mencoba memberikan hatiku pada seseorang yang lain. Kubiarkan siapapun menggantikanmu. Namun, aku keliru. Melupakanmu ternyata tidak pernah semudah itu.
. . . Ini adalah pertama kalinya saya membaca karya Boy Chandra. Entah kenapa saya tertarik ketika melihat covernya dan tulisan belakang buku tersebut. Sebelumnya karena memang penasaran sih, by the way kenapa di setiap bukunya ada kata senja atau hujan? Kenapa yah?
Mulai baca BAB awal saya suka dengan gaya Boy Chandra bercerita. Di sana saya berkenalan dengan salah satu tokoh b…

Sepenggal Kisah di Pedalaman Baduy

Saya selalu menikmati sebuah perjalanan, dan beberapa pekan yang lalu saya menuju pedalaman Baduy. Sebenarnya untuk tahun ini perjalanan ke Baduy tidak ada dalam daftar list yang akan saya kunjungi. Namun, entahlah. Saya juga tidak menyangka bisa sampai disana.

            Suku Baduy terbilang unik dan berbeda dari lainnya. Mereka masih menjunjung tinggi adat istiadat dan saya memberi jempol untuk orang-orang yang masih bertahan dengan kehidupan di Baduy khususnya Baduy Dalam.

            Sebelum menuju Baduy Dalam kami diperkenalkan dengan seorang bapak-bapak bernama Mang Alim. Beliau suku Baduy asli dan kami akan bermalam di rumahnya. Mang Alim mewakili suku Baduy Asli, Suku Baduy Dalam memakai baju warna putih, memakai ikat kepala, jalan tidak memakai sandal. Mereka berbahasa sunda.

            Sebelum keberangkatan menuju Baduy, Mang Alim memberikan petuah sebelum melakukan perjalanan sekitar 2 jam dari Desa (Saya lupa nama desanya) sebut aja desa itu.

TRAGEDI PULAU DOLPHIN

Tragedi Pulau dolphin
Bismillahir rahmaanir rahiim
Udah lama banget ga nulis ya… gak produktif banget nih gak pernah posting tulisan.. -__-
Alhamdulillah karena saya abis jalan-jalan jadi saya jadi ada bahan buat ditulis. Sebenernya sih bahan banyak ada di mana-mana malah, masalahnya saya males ke toko bahan. Apalah apalah…

Pulau dolphin adalah salah satu pulau di sekitar pulau seribu. Mau kesana kudu transit dulu ke pulau harapan yang jaraknya 3-4 jam dari muara angke. Siap-siap mabok…
Beberapa kali pula saya dan teman-teman merencanakan ke pulau tapi hasilnya nothing alias gak pernah jadi. Kali ini saya tekadkan kalau perjalanan ini harus tetap jadi, berapapun orang yang ikut. Alhamdulillahnya terkumpul sekitar 11 orang yang ikut perjalanan ke pulau lumba-lumba yang pada kenyataannya ga ada lumba-lumbanya adanya malah ikan lepuh. #eh
Kita berangkat sekitar jam 8 pagi dari muara angke, kapal mulai berangkat. Karena sudah penuh kita kebagian duduk di belakang deket mesin, silahkan men…