Skip to main content

Saat Rinduku Tumpah

          
            Kata yang tak mudah untukku ungkapkan adalah kata Rindu. Entah mengapa aku terlalu bebal, terlalu lemah. Padahal rindu ini ku alamatkan padamu, Ma.

            Semalam aku memimpikanmu lagi, kali ini wajahmu terlihat jelas sekali. Tidak seperti dahulu sebelum aku mengenalmu, samar-samar. Sebenarnya aku ingin sekali bersamamu, hanya saja aku tak memiliki banyak kesempatan untuk itu.

            Mungkin aku memang tidak seberuntung teman-temanku, yang bisa setiap hari mengungkap rasa dan berpeluk mesra. Tapi, aku juga beruntung karena aku sempat mengenalmu, bisa lebih dekat denganmu, bisa mencium tanganmu. Toh banyak orang-orang yang sama sekali tidak bisa mengenal ibunya, mereka yang terbuang, dan mereka yang tidak dianggap.

            Aku masih ingat saat pertama kali aku bertemu denganmu, tepat empat tahun lalu. Aku telah menyimpan rindu selama belasan tahun. Tapi, aku terlalu lemah mengungkap rindu, semuanya kaku. Sedangkan kau, Ma. Mama memelukku erat sekali, sambil menangis dan semoga itu tangisan bahagiamu. Aku tahu bagaimana perasaanmu, sebab rindumu terbaca olehku. saat itu pula aku bisa melihat wajah yang kurindukan, kudamba, kumimpikan, kudo’akan, aku tak pernah habis pikir bahwa ini adalah sebuah kenyataan. Aku janji akan selalu menyebut namamu dalam setiap doaku.

            Aku juga tak akan pernah ingin bertanya. Mengapa Mama pergi selama belasan tahun ini? Sebab aku tak sanggup jika nanti harus kehilangan lagi.

            Satu, dua, tiga, empat, aha… Lima belas, sampai detik ini aku telah bertemu denganmu lima belas kali selama hampir Sembilan belas tahun usiaku. Bahkan teman-temanku bisa bertemu ibunya setiap hari 356 hari setahun, sedang aku rata-rata hanya 4 kali setahun selama 4 tahun belakangan. Tapi tak apa, jika Allah meridhoi, aku sudah ikhlas menjalani garis hidupku.

            Hanya satu yang aku sesalkan, rasa rindu yang hingga kini belum terungkap. Sepertiga malam tadi aku mengadu pada Allah, aku bilang agar Allah bisa membantuku untuk menyampaikan rinduku pada Mama, Aku tak sanggup berucap sendirian. Aku tidak bisa. :(

            Maaf jika aku belum bisa menjadi seorang anak yang baik menurutmu, menjadi anak yang sholehah, menjadi anak yang sempurna buatmu.

21 Oktober 2011
Buat Mamaku di sana
(Waduh gimana ya kalo seandainya dibaca Mama beneran?) :D

           

Comments

Popular posts from this blog

Seperti Hujan yang Jatuh Ke Bumi (Review)

Boy CandraKategori Fiksi (Novel)Penerbit Mediakita288 halamanRp. 65.000


Aku pernah belajar merelakanmu berkali-kali. Melepasmu pergi mencari cinta yang lain. Membiarkan kesempatan memilikimu hilang untukku. Sebab kamu berhak bahagia; meski sesungguhnya aku tidak bahagia dengan keputusan itu.
Kupikir hidup akan baik-baik saja. Semua harus berjalan seperti sedia kala. Kamu dengan seseorang yang dipilihmu. Aku entah dengan siapa,sendiri atau dengan yang lain. Aku mulai mencoba memberikan hatiku pada seseorang yang lain. Kubiarkan siapapun menggantikanmu. Namun, aku keliru. Melupakanmu ternyata tidak pernah semudah itu.
. . . Ini adalah pertama kalinya saya membaca karya Boy Chandra. Entah kenapa saya tertarik ketika melihat covernya dan tulisan belakang buku tersebut. Sebelumnya karena memang penasaran sih, by the way kenapa di setiap bukunya ada kata senja atau hujan? Kenapa yah?
Mulai baca BAB awal saya suka dengan gaya Boy Chandra bercerita. Di sana saya berkenalan dengan salah satu tokoh b…

Sepenggal Kisah di Pedalaman Baduy

Saya selalu menikmati sebuah perjalanan, dan beberapa pekan yang lalu saya menuju pedalaman Baduy. Sebenarnya untuk tahun ini perjalanan ke Baduy tidak ada dalam daftar list yang akan saya kunjungi. Namun, entahlah. Saya juga tidak menyangka bisa sampai disana.

            Suku Baduy terbilang unik dan berbeda dari lainnya. Mereka masih menjunjung tinggi adat istiadat dan saya memberi jempol untuk orang-orang yang masih bertahan dengan kehidupan di Baduy khususnya Baduy Dalam.

            Sebelum menuju Baduy Dalam kami diperkenalkan dengan seorang bapak-bapak bernama Mang Alim. Beliau suku Baduy asli dan kami akan bermalam di rumahnya. Mang Alim mewakili suku Baduy Asli, Suku Baduy Dalam memakai baju warna putih, memakai ikat kepala, jalan tidak memakai sandal. Mereka berbahasa sunda.

            Sebelum keberangkatan menuju Baduy, Mang Alim memberikan petuah sebelum melakukan perjalanan sekitar 2 jam dari Desa (Saya lupa nama desanya) sebut aja desa itu.

TRAGEDI PULAU DOLPHIN

Tragedi Pulau dolphin
Bismillahir rahmaanir rahiim
Udah lama banget ga nulis ya… gak produktif banget nih gak pernah posting tulisan.. -__-
Alhamdulillah karena saya abis jalan-jalan jadi saya jadi ada bahan buat ditulis. Sebenernya sih bahan banyak ada di mana-mana malah, masalahnya saya males ke toko bahan. Apalah apalah…

Pulau dolphin adalah salah satu pulau di sekitar pulau seribu. Mau kesana kudu transit dulu ke pulau harapan yang jaraknya 3-4 jam dari muara angke. Siap-siap mabok…
Beberapa kali pula saya dan teman-teman merencanakan ke pulau tapi hasilnya nothing alias gak pernah jadi. Kali ini saya tekadkan kalau perjalanan ini harus tetap jadi, berapapun orang yang ikut. Alhamdulillahnya terkumpul sekitar 11 orang yang ikut perjalanan ke pulau lumba-lumba yang pada kenyataannya ga ada lumba-lumbanya adanya malah ikan lepuh. #eh
Kita berangkat sekitar jam 8 pagi dari muara angke, kapal mulai berangkat. Karena sudah penuh kita kebagian duduk di belakang deket mesin, silahkan men…