Skip to main content

(Kisah Ringan) anak kecil yang keren

Dunia anak-anak itu memang paling menyenangkan, lucu dalam setiap tingkah lugunya. Dan tidak menyangka saya sudah tidak ada lagi dalam masa-masa itu, waktu cepat sekali berlalu.

            Setiap pribadi memiliki keunikan, begitu juga dengan anak-anak. Sifat sok taunya kadang bikin saya ngikik juga. Jadi teringat seorang keponakan saya sewaktu merengek minta dibelikan buah rambutan sama uminya. Otomatis pedagang rambutan sumringah pagi-pagi, yakin banget dagangannya bakal laris. Terkadang sifat ngambek anak kecil bisa menjadi sumber rezeki buat para pedagang (Ngarang) :D

Si Anak           : Umi, beliin rambutan. Itu ada penjualnya di depan.
Umi                 : Nanti aja ya, kita kan mau pergi.
Si Anak           : Ah maunya sekarang aja. Umi pelit banget sih sama anak sendiri
Umi                 : Iya, tapi kita buru-buru udah siang.
Si Anak           : Orang masih jam Sembilan juga, Mi. pokoknya aku mau sekarang titik nggak pake koma. (Halah tuh anak dapat kata-kata darimana?)

            Akhirnya Umi terpaksa membelikan juga buat anaknya yang sudah mulai ngambek. Dan mulailah proses penawaran dengan bapak-bapak penjual rambutan.
Umi                 : Pak, ini rambutan seikatnya berapa?
Pendagang      : Tujuh ribu aja, Bu. Buat penglaris (senyam-senyum ganjen)
Umi                 : Lima ribu aja ya, Pak.
Si Anak           : Dih umi, baru juga tujuh ribu belum sepuluh ribu. Kan kasihan Mi bapak-bapaknya udah tua.
            Ini anak bawel banget, masih untung dibeliin pake protes segala lagi. Akhirnya emaknya nyerah juga dah beli tuh rambutan seharga tujuh ribu. Di keluarkan uang sepuluh ribuan dari dompet lalu diserahkan pada penjual rambutan.
Umi                 : Ini pak, beli satu ikat.
Si Anak (lagi)  : Udah, Mi. kembaliannya kasih bapak-bapaknya aja.
Umi                 : Loh kok dikasih bapaknya?
Si Anak (lagi)  : Kan kasihan, bapaknya udah tua.

ANAK PINTER!!
setahu saya yang namanya bapak-bapak di mana-mana udah tua deh.. :D

***
         Lain hal suatu ketika saya pernah berbincang pada keponakan saya, karena dirinya masih mengompol. (Nah loh siapa di sini yang masih ngompol?)
Saya                : Udah gede masih ngompol, malu deh udah sekolah juga. (Niat ngeledek)
Arra                 : Biarin aja sih, Teh. (pasang wajah cuek) *songong
Saya                : Mau gak dikasih capung udelnya, biar nggak ngompol? (Duh bahasa ‘Udel’ yang lebih sopan apa ya? Saya sering denger hal semacam itu. Kalau ada anak kecil yang masih ngompol maka udel/Puser/apapunlah itu namanya, kudu digigit capung supaya nggak ngompol lagi. Begitu kata orang-orang zaman baheula, sebenarnya saya hanya niat nakutin aja. :D)
Arra                 : Udah sering, Teh. dicariin sama abang. Tapi nggak berasa apa-apa, malah sampai capungnya kepalanya copot. (bicara tanpa dosa)
Saya                : HAH? *shock (Lebayyyy)

            Saya nggak nyangka kalau kejadiannya bakal se-tragis itu. Malah sampai mengakibatkan korban dari golongan capung yang niat nolong malah menghadapi ajal dengan cara yang nggak keren.

            Yah begitulah, dunianya begitu indah. Makanya kadang merasa ingin menjadi kecil lagi, menghadapi masalah tanpa masalah seperti Mottonya prudensial ‘Always listening always understanding’ (bener gak tulisannya?)
Yeahhh… Jadilah anak-anak yang kreatip eh kreatif. Selagi masih kecil, soalnya kalau udah besar gak bisa kecil lagi. Bagaimanapun sifat anak-anak yang ada di sekitar kita, entah dia adalah seorang yang banyak bicara atau kasarnya ‘cerewet’, dan ada juga yang pendiam tanpa banyak kata. Selalu ada keunikan dalam setiap pribadinya. Begitu istimewa.

            Dan karena saya termasuk seorang yang tidak bisa disebut anak kecil lagi, karena setahu saya anak kecil itu berkisar usia 12 tahun ke bawah. sedangkan saya kan 13 tahun :p maka dari itu saya buat catatan ini sebagai pengobat rasa rindu saya pada masa kecil, dulu… *nyengir*



2 Maret 2012

Comments

Popular posts from this blog

Seperti Hujan yang Jatuh Ke Bumi (Review)

Boy CandraKategori Fiksi (Novel)Penerbit Mediakita288 halamanRp. 65.000


Aku pernah belajar merelakanmu berkali-kali. Melepasmu pergi mencari cinta yang lain. Membiarkan kesempatan memilikimu hilang untukku. Sebab kamu berhak bahagia; meski sesungguhnya aku tidak bahagia dengan keputusan itu.
Kupikir hidup akan baik-baik saja. Semua harus berjalan seperti sedia kala. Kamu dengan seseorang yang dipilihmu. Aku entah dengan siapa,sendiri atau dengan yang lain. Aku mulai mencoba memberikan hatiku pada seseorang yang lain. Kubiarkan siapapun menggantikanmu. Namun, aku keliru. Melupakanmu ternyata tidak pernah semudah itu.
. . . Ini adalah pertama kalinya saya membaca karya Boy Chandra. Entah kenapa saya tertarik ketika melihat covernya dan tulisan belakang buku tersebut. Sebelumnya karena memang penasaran sih, by the way kenapa di setiap bukunya ada kata senja atau hujan? Kenapa yah?
Mulai baca BAB awal saya suka dengan gaya Boy Chandra bercerita. Di sana saya berkenalan dengan salah satu tokoh b…

Sepenggal Kisah di Pedalaman Baduy

Saya selalu menikmati sebuah perjalanan, dan beberapa pekan yang lalu saya menuju pedalaman Baduy. Sebenarnya untuk tahun ini perjalanan ke Baduy tidak ada dalam daftar list yang akan saya kunjungi. Namun, entahlah. Saya juga tidak menyangka bisa sampai disana.

            Suku Baduy terbilang unik dan berbeda dari lainnya. Mereka masih menjunjung tinggi adat istiadat dan saya memberi jempol untuk orang-orang yang masih bertahan dengan kehidupan di Baduy khususnya Baduy Dalam.

            Sebelum menuju Baduy Dalam kami diperkenalkan dengan seorang bapak-bapak bernama Mang Alim. Beliau suku Baduy asli dan kami akan bermalam di rumahnya. Mang Alim mewakili suku Baduy Asli, Suku Baduy Dalam memakai baju warna putih, memakai ikat kepala, jalan tidak memakai sandal. Mereka berbahasa sunda.

            Sebelum keberangkatan menuju Baduy, Mang Alim memberikan petuah sebelum melakukan perjalanan sekitar 2 jam dari Desa (Saya lupa nama desanya) sebut aja desa itu.

TRAGEDI PULAU DOLPHIN

Tragedi Pulau dolphin
Bismillahir rahmaanir rahiim
Udah lama banget ga nulis ya… gak produktif banget nih gak pernah posting tulisan.. -__-
Alhamdulillah karena saya abis jalan-jalan jadi saya jadi ada bahan buat ditulis. Sebenernya sih bahan banyak ada di mana-mana malah, masalahnya saya males ke toko bahan. Apalah apalah…

Pulau dolphin adalah salah satu pulau di sekitar pulau seribu. Mau kesana kudu transit dulu ke pulau harapan yang jaraknya 3-4 jam dari muara angke. Siap-siap mabok…
Beberapa kali pula saya dan teman-teman merencanakan ke pulau tapi hasilnya nothing alias gak pernah jadi. Kali ini saya tekadkan kalau perjalanan ini harus tetap jadi, berapapun orang yang ikut. Alhamdulillahnya terkumpul sekitar 11 orang yang ikut perjalanan ke pulau lumba-lumba yang pada kenyataannya ga ada lumba-lumbanya adanya malah ikan lepuh. #eh
Kita berangkat sekitar jam 8 pagi dari muara angke, kapal mulai berangkat. Karena sudah penuh kita kebagian duduk di belakang deket mesin, silahkan men…