Skip to main content

ZAMAN EDAN ZAMAN GALAU

Katanya sekarang lagi zamannya anak-anak galau. Deuh nyebutnya aja gimannnaaaa gitu… Zaman galau? ada juga zaman reformasi, zaman Ayu Ting-ting, Zaman Showimah. What?

            Iseng-iseng saya memang suka jadi pemerhati status-status para galauers, kayaknya anak-anak galau malah bikin komunitas tersendiri. Pernah suatu hari saya dimasukkan ke dalam grup anak-anak galau. Apaan nih? Aku kan bukan anak galau, aku anak SGM! Dan akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari grup tersebut. Takut nular ah, katanya kan galau itu menular. Udah kayak penyakit aja!

            Pernah juga ketika saya buka beranda tiba-tiba ada status anak galau yang muncul:

Status Pagi : Saya sedang galau… (Gak penting!)
Status  siang : Pusing… (banyak obat di warung, tuh!)
Status sore: Bete banget… (Goyang gayung aja biar gak bete)
Status malam: Hidup segan mati tak mau (Bunuh diri aja deh…)
Ya Ampyuuunnn… Menderita Sekaleeeeeee hidupmuu… hehehe…
            Hm… kalau saya termasuk anak galau bukan ya? *Gak kuku deh*

            Saya pernah merasakan dilema akut yang hampir menuju titik kegalauan, halah… Hanya saja saya jarang sekali menunjukkan keadaan saya dalam status, paling di wall akun yang satu lagi… *Apa bedanya dodol!*

            Saya juga pernah berkomentar di status seorang teman yang masih dalam tema ‘Galau’.
            “Galau mulu, buang-buang umur aja! :p”
            “Biarin aja sih, suka-suka gue. Lu mah enak, kalau lagi galau tinggal ngadu sama akun yang satunya.”

           *gubrak*
            Hahaha… Nyindir banget… Itulah gunanya punya akun Fesbuk lebih dari satu, Fren! xixixi

            Ya, saya memang suka ngadu sama akun saya yang satunya, nggak jelas memang. Tapi, lebih baik daripada dibuat di status yang kudu dibaca banyak orang. Sedangkan ini tujuannnya jelas hanya untuk satu orang saja, ya diri saya sendiri. Namun, kadang ada beberapa teman yang menganggap saya aneh binti sanusi. Sekadar kirim inbox.

            “Er, Gila lu ngomong sendiri. Obatnya abis ya? sini gue anterin ke dokter.” kata seorang teman.  Padahal menurut saya ini adalah salah satu hal jitu yang membuat saya bangkit semangat kembali. Ada sisi dalam jiwa saya yang selalu membuat saya optimis. Dan itulah hati… cieeee…

            Dan menurut saya hal yang saya lakukan bukanlah sebuah kegalauan, hanya sebuah curahan yang saya tujukan kepada hati saya sendiri. weitss…. berat.

            Intinya sih, saya sedang menyelamatkan diri saya sendiri dari virus galau itu. Kalau lagi iseng-iseng buka status-status zaman sekolah dulu. Duh… kayaknya gue gak ada bedanya sama anak galau zaman sekarang deh! Ampuuun… nggak banget dah!

            Semakin lama di dunia ini semakin banyak orang yang sakit jiwa, edan!… Hayooo selamatkan diri kita dari virus itu, CEMUNGUDHHH!! *alay.com*

*Ini bukan catatan galau kan, ya?* xixi Iseng…



Chemity, 16 Januari 2012

Comments

Popular posts from this blog

Seperti Hujan yang Jatuh Ke Bumi (Review)

Boy CandraKategori Fiksi (Novel)Penerbit Mediakita288 halamanRp. 65.000


Aku pernah belajar merelakanmu berkali-kali. Melepasmu pergi mencari cinta yang lain. Membiarkan kesempatan memilikimu hilang untukku. Sebab kamu berhak bahagia; meski sesungguhnya aku tidak bahagia dengan keputusan itu.
Kupikir hidup akan baik-baik saja. Semua harus berjalan seperti sedia kala. Kamu dengan seseorang yang dipilihmu. Aku entah dengan siapa,sendiri atau dengan yang lain. Aku mulai mencoba memberikan hatiku pada seseorang yang lain. Kubiarkan siapapun menggantikanmu. Namun, aku keliru. Melupakanmu ternyata tidak pernah semudah itu.
. . . Ini adalah pertama kalinya saya membaca karya Boy Chandra. Entah kenapa saya tertarik ketika melihat covernya dan tulisan belakang buku tersebut. Sebelumnya karena memang penasaran sih, by the way kenapa di setiap bukunya ada kata senja atau hujan? Kenapa yah?
Mulai baca BAB awal saya suka dengan gaya Boy Chandra bercerita. Di sana saya berkenalan dengan salah satu tokoh b…

Sepenggal Kisah di Pedalaman Baduy

Saya selalu menikmati sebuah perjalanan, dan beberapa pekan yang lalu saya menuju pedalaman Baduy. Sebenarnya untuk tahun ini perjalanan ke Baduy tidak ada dalam daftar list yang akan saya kunjungi. Namun, entahlah. Saya juga tidak menyangka bisa sampai disana.

            Suku Baduy terbilang unik dan berbeda dari lainnya. Mereka masih menjunjung tinggi adat istiadat dan saya memberi jempol untuk orang-orang yang masih bertahan dengan kehidupan di Baduy khususnya Baduy Dalam.

            Sebelum menuju Baduy Dalam kami diperkenalkan dengan seorang bapak-bapak bernama Mang Alim. Beliau suku Baduy asli dan kami akan bermalam di rumahnya. Mang Alim mewakili suku Baduy Asli, Suku Baduy Dalam memakai baju warna putih, memakai ikat kepala, jalan tidak memakai sandal. Mereka berbahasa sunda.

            Sebelum keberangkatan menuju Baduy, Mang Alim memberikan petuah sebelum melakukan perjalanan sekitar 2 jam dari Desa (Saya lupa nama desanya) sebut aja desa itu.

TRAGEDI PULAU DOLPHIN

Tragedi Pulau dolphin
Bismillahir rahmaanir rahiim
Udah lama banget ga nulis ya… gak produktif banget nih gak pernah posting tulisan.. -__-
Alhamdulillah karena saya abis jalan-jalan jadi saya jadi ada bahan buat ditulis. Sebenernya sih bahan banyak ada di mana-mana malah, masalahnya saya males ke toko bahan. Apalah apalah…

Pulau dolphin adalah salah satu pulau di sekitar pulau seribu. Mau kesana kudu transit dulu ke pulau harapan yang jaraknya 3-4 jam dari muara angke. Siap-siap mabok…
Beberapa kali pula saya dan teman-teman merencanakan ke pulau tapi hasilnya nothing alias gak pernah jadi. Kali ini saya tekadkan kalau perjalanan ini harus tetap jadi, berapapun orang yang ikut. Alhamdulillahnya terkumpul sekitar 11 orang yang ikut perjalanan ke pulau lumba-lumba yang pada kenyataannya ga ada lumba-lumbanya adanya malah ikan lepuh. #eh
Kita berangkat sekitar jam 8 pagi dari muara angke, kapal mulai berangkat. Karena sudah penuh kita kebagian duduk di belakang deket mesin, silahkan men…