Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Rindu Ikhlasmu

Aku tak tahu lagi bagaimana bentuk ikhlas itu Sebab semua jelas-jelas memanipulasi Aku hanya rindu ikhlasmu Ikhlas tanpa kata, seperti dedaun yang jatuh Tak mengharap apapun Bukankah ikhlas itu memang tidak terlihat? Karena ikhlas itu urusan hati, bukan lisan Sejujurnya tanpa perlu diucapkan Disimpan baik-baik, kalau mau ditelan silakan Itulah ikhlas yang pernah kau ajarkan Rindu Ikhlasmu...Yang bersembunyi di balik mendung Yang suaranya beriringan dengan deru kereta api Sehingga tak terdengar Tigaratusempatpuluhtujuhhari... Aku masih belum bisa belajar ikhlas seperti yang kau ajarkan 8 November 2012

Lugu sapamu, Bu

Gambar
Bangunlah, Nak." Ceracau sapaan hangat hinggap ditelingaku Aku bergeming, menelantarkan keluguanmu, Bu Kembali mata terpejam, terdengar lagi bisikan syahdu "Nak, Bangunlah." Aku tetap bergeming, mengurung diri di alam mimpi Berlimpah sepotong ilusi Dan aku kembali menelantarkan lugu sapamu, Bu "Hari semakin siang, Nak. Tidakkah kau malu pada ayam yang berkokok lebih dulu?" Jejakmu tertinggal Lagi-lagi menelantarkan lugu sapamu, Bu Kau kembali mengais serpihan rupiah dengan tertatih hingga tepian senja Peluhmu terlihat kasat mata, Luruh dalam keluguanmu Kini, Segalanya hanya kenangan yang tertinggal. #sedang rindu Emak, betapa menyedihkan sendiri itu.

Tentang Rindu Kita

Aku masih ingat saat bias matamu menelusup dan bersemayam dalam sadarku Menebarkan bulir-bulir keelokan yang tiba-tiba merasuk rongga dadaku Kamu pernah menepikan hatimu di belantara jiwaku, membuat aku tersadar tentang kata rindu Sekelebat bayangmu singgah Membuatku kembali mencoba mengeja satu demi satu titik pengharapan Aku ingin bertemu, paling tidak ada sesuatu yang akan kuberikan untukmu Dan semoga kamu suka meski tidak seberapa Tapi, kapan? Semoga dirimu baik-baik saja dan semoga kita bisa bertemu dan menumpahkan rindu ini, secepatnya... *Aku rindu menunggumu saat turun bus kota di depan halte Perpustakaan Nasional, hari senin kan itu?* Sebenarnya aku tidak bisa berpuisi ^^

H a m p a

Mengais serpihan sepi yang menelusup Sunyi itu menikam, menelantarkan hati dengan jerit ketakutan Merambah hingga ke pucuk getar sayup Sedu sedan, menasbihkan kata melibas keterasingan Sepotong senyum yang ada pada arakan senja Mengusik sepi menjadi tawa merekah Menatap nanar segulung kehampaan Sampai hujan menghapus puing jengah Dan Aku berpayung pada satu jejak langkah Tertatih menuju dermaga cahaya ungu Mencercap lugu sapa yang memagut kisah Hingga mimpi bertekuk ilusi menjadi nyata Kamis, limaaprilduaribuduabelas Persinggahan Nila

Sepi dan Sendiri

Gambar
Malam-malam kemarin, aku menatap nanar kamar itu Masih seperti dulu, tak berubah Yang berubah setelah kepergianmu yang begitu singkat Tanpa pesan. Namun, begitu banyak kenangan Dan ketika hujan itu datang satu-satu Aku kembali merindu se rindu-rindunya Kadang bertanya Inikah caramu mengajarkanku arti sepi? Saat menyinggahi lemarimu lagi Masih seperti dulu, tak berubah Yang berubah, hanya baju-bajumu yang tak lagi terjamah Namun, masih ada aroma yang tersimpan Ketika gerimis dengan kesejukan yang nyata Aku menengadahkan wajahku ke langit Kadang bertanya Inikah caramu mengajarkanku arti sendiri? Sepi dan sendiri #Merindu sepertiga malam saat kau menepuk tangan lembutmu ketika lelap dan bertanya "Mau puasa, gak?" Di rumahmu, 30 Januari 2011

Sepi Sunyi Sendiri

Gambar
sumber foto: google.com Sepi Sunyi Sendiri Duniaku kembali Tertatih menuju gelombang cinta Hingga aku mengerti: Bahwa pengharapan selalu menyelimuti Sang Pecinta Di sini aku bermuhasabah diri Mengurai pikiran yang ringkih Menelaah jundi-jundi hati yang pernah perih Biarkanlah, aku tahu ini hidupku Aku tak kan membiarkan diriku terjerat lagi Lelah sekali Hanya tertatih menuju abadi, dan tak sampai lagi Biarkan aku bersama angin yang berhembus nyata, Bersama langit yang diintip bulan bintang, mereka ada, tidak samar-samar Mengertilah…