Postingan

tujuh-satu-sepuluh => tujuh-satu-dua belas

Seandainya semudah mengedipkan kelopak mata Aku akan lebih sering melakukannya Seandainya semudah membalikkan telapak tangan Aku akan lebih sering meninggalkannya Kembali lagi ke tanggal tujuh bulan satu. dua tahun yang berlalu, aku masih ingat sekali saat di mana aku mulai belajar mengevaluasikan diriku menjadi lebih baik. Tapi kenyataannya aku masih berjalan di tempat sambil melihat mereka yang lalu lalang, hanya bisa tersenyum getir mendengar sapaan “Dadah aku duluan” kira-kira seperti itu. Atau sekadar bergurau, “Hei, ngapain kamu masih duduk manis di sini? tidakkah kamu merasakan sesuatu.” Mereka yang meninggalkan aku atau aku yang sudah jauh tertinggal. Entahlah. Yang aku tahu aku masih di sini, tak bergerak, pasif. 2011 yang penuh dengan keunikan 2011 yang penuh dengan keanehan Segala rasa bercampur aduk menjadi satu. Senang, sedih, berat, takut, bingung, tawa, intinya kegelisahan terparah sepanjang masa. Semoga tidak terjadi lagi di ta...

Tentang Rindu Kita

Aku masih ingat saat bias matamu menelusup dan bersemayam dalam sadarku Menebarkan bulir-bulir keelokan yang tiba-tiba merasuk rongga dadaku Kamu pernah menepikan hatimu di belantara jiwaku, membuat aku tersadar tentang kata rindu Sekelebat bayangmu singgah Membuatku kembali mencoba mengeja satu demi satu titik pengharapan Aku ingin bertemu, paling tidak ada sesuatu yang akan kuberikan untukmu Dan semoga kamu suka meski tidak seberapa Tapi, kapan? Semoga dirimu baik-baik saja dan semoga kita bisa bertemu dan menumpahkan rindu ini, secepatnya... *Aku rindu menunggumu saat turun bus kota di depan halte Perpustakaan Nasional, hari senin kan itu?* Sebenarnya aku tidak bisa berpuisi ^^

Sekitaran Monas

Tempat kenangan yang pernah saya kunjungi: MONAS Entah kenapa harus MONAS yang jadi nomor satu, yang pasti di tempat ini memang banyak kenangan yang sulit dilupakan. Di sana ada abang-abang penjual ketupat sayur yang enak banget, asli! Pernah juga saya jalan kaki bersama dua orang teman menuju MONAS mentok beli ketupat sayur doang. Dan di tempat itu pertama kali saya beranikan diri untuk bertemu dengan teman facebook, seorang teman yang luar biasa dan sangat istimewa menurut pandangan saya padahal dulunya saya takut diculik. Bersepeda ke MONAS juga jadi hal terindah bersama teman-teman zaman sekolah dulu, meski sempat bertengkar dengan supir angkot di jalanan. 2. Perpustakaan Nasional seberang MONAS Ah, perasaan enggak jauh-jauh dari MONAS. Iya memang enggak jauh, perpustakaan ini asik dan nyaman buat baca buku, diskusi, tapi saya lebih sering numpang internet gratisan, maklumlah, Indonesia, gitu. 3. Halte bus Perpustakaan Nasional, seberang MONAS juga ...

H a m p a

Mengais serpihan sepi yang menelusup Sunyi itu menikam, menelantarkan hati dengan jerit ketakutan Merambah hingga ke pucuk getar sayup Sedu sedan, menasbihkan kata melibas keterasingan Sepotong senyum yang ada pada arakan senja Mengusik sepi menjadi tawa merekah Menatap nanar segulung kehampaan Sampai hujan menghapus puing jengah Dan Aku berpayung pada satu jejak langkah Tertatih menuju dermaga cahaya ungu Mencercap lugu sapa yang memagut kisah Hingga mimpi bertekuk ilusi menjadi nyata Kamis, limaaprilduaribuduabelas Persinggahan Nila

Rotan Tak Bertuah

            Tidak sengaja saya bertemu dengan teman SD saya di perjalanan kemarin pagi, sempat ngobrol-ngobrol sebentar lalu dan mengulang kembali ke masa-masa zaman SD dulu. Saya jadi teringat dengan sosok guru kesayangan saya, Pak Abdullah namanya. Yang sosoknya sudah menghilang, entah ada di mana sekarang. Teman saya sempat begidik mendengar nama Pak Abdullah.             “Hah Pak Abdullah? guru yang galak itu? wali kelas kita waktu kelas 4 itu, kan?” tanyanya, saya mengangguk mengiyakan, emang Pak Abdullah yang mana lagi?             Dulu sosok Pak Abdullah begitu menyeramkan di mata teman-teman sekelas, selalu membawa rotan kemana-mana. Bahkan memberi nama rotan yang selalu dibawa itu “Rotan Tak Bertuah” Tidak jarang kami sekelas hampir kena pukulan rotannya setiap hari, entah di kepala atau ...

Sepi dan Sendiri

Gambar
Malam-malam kemarin, aku menatap nanar kamar itu Masih seperti dulu, tak berubah Yang berubah setelah kepergianmu yang begitu singkat Tanpa pesan. Namun, begitu banyak kenangan Dan ketika hujan itu datang satu-satu Aku kembali merindu se rindu-rindunya Kadang bertanya Inikah caramu mengajarkanku arti sepi? Saat menyinggahi lemarimu lagi Masih seperti dulu, tak berubah Yang berubah, hanya baju-bajumu yang tak lagi terjamah Namun, masih ada aroma yang tersimpan Ketika gerimis dengan kesejukan yang nyata Aku menengadahkan wajahku ke langit Kadang bertanya Inikah caramu mengajarkanku arti sendiri? Sepi dan sendiri #Merindu sepertiga malam saat kau menepuk tangan lembutmu ketika lelap dan bertanya "Mau puasa, gak?" Di rumahmu, 30 Januari 2011

Menikah Itu

Agak deg-degan juga nulis tema pernikahan. lebay.com banget dah ah. Menikah itu bukan hal yang mudah tapi juga bukan hal sulit. Katanya sih. Ini mengutip filosofi seorang teman jadi intinya ya sedang-sedang saja. Mengenai resolusi saya tahun ini yang menyebutkan ingin menikah muda. Sebenarnya memang butuh pertimbangan yang matang untuk hal ini. Mungkin bisa saja ada yang menyebutkan saya anak songong yang belagu. Masih muda udah mau nikah, mau dikasih apa anaknya nanti? tapi itu sih hanya pemikiran saya saja toh belum ada yang bilang gitu soalnya. hehehe Pernah sesekali saya bercerita dengan seorang akhwat. "Kalau kakak ingin punya suami yang tahfiz Qur'an, dek." "Subhanallah," kata saya "Kalau Erny memang ingin yang seperti apa?" tanyanya balik.  Waduh, kalau ditanya seperti itu rasanya masih belum pantas untuk sekadar membicarakan masalah seputar kriteria. Memang wajar sih dah saya rasa setiap orang punya kriteria tertentu untu...

Pulang Kampung Part 2

Gambar
Melanjutkan hal yang kemarin-kemarin tuh. Tapi baru bisa di posting sekarang. Maklum belakangan ini lagi banyak kesibukan. Di Bogor banyak hal yang bisa saya lakukan kecuali smsan, teleponan, dan internetan. Karena memang di sana hal-hal seperti itu enggak mendukung adanya jaringan sinyal. Sebenarnya sih saya bingung. Bukannya kalau di atas gunung itu malah seharusnya banyak sinyal ya? kan di atas gitu loh! Eh nyatanya malah enggak ada sinyal. Dan sebenarnya saya sudah lupa ingin melanjutkan cerita apa tentang pulang kampung ini, pasalnya belakangan yang membuat saya ingat itu sms dari teman-teman yang mengajak saya pulang kampung. Ya sudah deh...  Ini adalah rumah yang biasa di duduki anak-anak Pesantren. Sederhana saja, kan? Sangat berbeda jauh dengan pesantren-pesantren modern yang ada di Jakarta. Kalau ini bisa dibilang versi wong ndesonya... Walau bagaimanapun ternyata fasilitas di pesantren ini sangat kurang memadai. Sering mati lampu. Bahan bacaan yang sangat...

Tribute To Emak Haji

Gambar
Bismillahir rahmaanir rahiim... Mungkin saya tidak seberuntung mereka yang bisa hidup dalam naungan keluarga yang utuh, Namun bisa jadi saya setingkat lebih beruntung karena sudah dipertemukan dengan sosok, Emak Haji. Tapi sekarang rasanya berbeda… Semakin sepi tanpanya, saya benar-benar payah. Tidak tahu lagi harus bagaimana. Saya hanya bisa terduduk lemas melihatnya sudah tidak berdaya lagi, tidak seperti dulu. Padahal dulu Emak selalu menunjukkan bahwa dirinya selalu baik-baik saja. Tapi kali ini… Saya memang bukan siapa-siapa dan tidak bisa apa-apa. Namun saya sungguh berarti jika dihadapan Emak. Emak yang sering membanggakan saya, menganggap saya anaknya sendiri tak jarang sering bilang pada orang lain Emak anak gadisnya tinggal satu aja, paling bontot . Emak yang selalu membela saya disaat situasi yang tidak mendukung keadaan saya. Dan sekarang mungkin saya akan membiasakan diri hidup tanpanya. 25 November 2011 Jumat 14.30    ...