Saturday, 29 October 2011

Mencari Keinginan Hati

Hingga saat ini saya masih belum mengerti apa maunya hati, ia seakan menarik saya kembali ke masa silam itu, masa di mana saya rapuh untuk pertama kalinya bahkan dulu lebih parah lagi, pikiran negatif yang selalu berputar di otak membuat saya kehilangan arah. Bedanya, sekarang saya sudah mulai bisa mengendalikannya. Sedikit demi sedikit.

Mungkin hanya butuh waktu untuk mengembalikannya seperti semula, saya ini hanya seorang wanita yang tengah terluka. Untung semuanya pikiran yang dulu menggerayangi saya sudah tidak ada lagi, sekarang saya ingin hidup yang baru. Mencoba belajar mendewasakan diri. Mulai mengerti bahwa bahwa membuka diri itu penting meski sulit. 

Saya pernah untuk pertama kalinya membuka diri setelah sekian lama menjadi sosok introvert, kepada Murobbiyah/Guru Ngaji saya. Dia mengerti dan memahami masalah yang saya hadapi, membantu menguatkan dengan doa, membantu mendengar dengar telinganya, membantu menguras airmata saya yang sudah lama hanya terpendam tak bisa dikeluarkan, dan membantu menopang beban saya. Ternyata memang benar lega sekali rasanya. Tapi, setalah itu saya jadi malu jika bertemu dengan beliau, segan dan tidak enak hati. Meski beliau hanya menanggapinya biasa saja. Seperti biasa, senyuman yang tulus.

Dan sekarang masalah yang saya hadapi lebih pelik, mungkin Allah sudah bosan mendengarkan cerita saya setiap malam meski saya tahu Dia tidak akan pernah meninggalkan saya sekejapan mata pun. Saya yakin itu. Seperti yang diucapkan Guru saya "Ketika kita tidak memiliki siapapun di dunia ini, tapi ketika ada Allah di hati semuanya sudah lebih dari cukup," Saya setuju pernyataan seperti itu. Dan menyakini bahwa Allah adalah satu-satunya yang bisa menolong saya saat ini. 

"Saya memang tidak bisa mengobati rasa sakit hatimu, tapi percayalah bahwa saya akan mendengarkan kamu.  Kamu tidak bisa selamanya seperti ini."
Seorang teman pernah berkata seperti itu. Tapi tetap saya belum mampu lagi untuk bicara apapun. kau pasti mengerti keadaan saya sekarang, kan, teman?

Izinkan saya untuk menemukan keinginan hati, bersama Allah saat ini. Percayalah saya tidak pernah sendiri. Dan saat saya bertemu kalian lagi saya tak ubahnya seperti dulu, masih sama. Masih seorang yang kadang pendiam dan seorang yang kadang bawel dan cerewet, kau tahu kan bagaimana sifat saya? Sifat saya memang aneh bukan? hehehe...

30 Oktober 2011

Friday, 21 October 2011

Saat Rinduku Tumpah

          
            Kata yang tak mudah untukku ungkapkan adalah kata Rindu. Entah mengapa aku terlalu bebal, terlalu lemah. Padahal rindu ini ku alamatkan padamu, Ma.

            Semalam aku memimpikanmu lagi, kali ini wajahmu terlihat jelas sekali. Tidak seperti dahulu sebelum aku mengenalmu, samar-samar. Sebenarnya aku ingin sekali bersamamu, hanya saja aku tak memiliki banyak kesempatan untuk itu.

            Mungkin aku memang tidak seberuntung teman-temanku, yang bisa setiap hari mengungkap rasa dan berpeluk mesra. Tapi, aku juga beruntung karena aku sempat mengenalmu, bisa lebih dekat denganmu, bisa mencium tanganmu. Toh banyak orang-orang yang sama sekali tidak bisa mengenal ibunya, mereka yang terbuang, dan mereka yang tidak dianggap.

            Aku masih ingat saat pertama kali aku bertemu denganmu, tepat empat tahun lalu. Aku telah menyimpan rindu selama belasan tahun. Tapi, aku terlalu lemah mengungkap rindu, semuanya kaku. Sedangkan kau, Ma. Mama memelukku erat sekali, sambil menangis dan semoga itu tangisan bahagiamu. Aku tahu bagaimana perasaanmu, sebab rindumu terbaca olehku. saat itu pula aku bisa melihat wajah yang kurindukan, kudamba, kumimpikan, kudo’akan, aku tak pernah habis pikir bahwa ini adalah sebuah kenyataan. Aku janji akan selalu menyebut namamu dalam setiap doaku.

            Aku juga tak akan pernah ingin bertanya. Mengapa Mama pergi selama belasan tahun ini? Sebab aku tak sanggup jika nanti harus kehilangan lagi.

            Satu, dua, tiga, empat, aha… Lima belas, sampai detik ini aku telah bertemu denganmu lima belas kali selama hampir Sembilan belas tahun usiaku. Bahkan teman-temanku bisa bertemu ibunya setiap hari 356 hari setahun, sedang aku rata-rata hanya 4 kali setahun selama 4 tahun belakangan. Tapi tak apa, jika Allah meridhoi, aku sudah ikhlas menjalani garis hidupku.

            Hanya satu yang aku sesalkan, rasa rindu yang hingga kini belum terungkap. Sepertiga malam tadi aku mengadu pada Allah, aku bilang agar Allah bisa membantuku untuk menyampaikan rinduku pada Mama, Aku tak sanggup berucap sendirian. Aku tidak bisa. :(

            Maaf jika aku belum bisa menjadi seorang anak yang baik menurutmu, menjadi anak yang sholehah, menjadi anak yang sempurna buatmu.

21 Oktober 2011
Buat Mamaku di sana
(Waduh gimana ya kalo seandainya dibaca Mama beneran?) :D

           

Wednesday, 19 October 2011

Untuk Saudaraku...


Renungan Sejenak,,,

1. Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia, Allah tau betapa kau lelah berjerih payah.

2. Jika kau telah menangis sekian lama dan hatimu terasa perih, Allah telah menghitung dentingan airmata mu.

3. Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menanti sesuatu dan waktu serasa berlalu, Allah sedang menanti bersamamu.

4. Jika kau merasa sendirian dan saudara2 mu sibuk dengan banyak urusan, Allah senantiasa berada di dekatmu.

5. Ketika kau berfikir, kau sudah mencoba segalanya dan tak tau harus berbuat apa lagi, Allah selalu punya jawabnya.

6. Ketika segala sesuatu tidak masuk akal da kau merasa tertekan, Allah mampu menenangkanmu.

7. Jika kau merasa ada jejak2 harapan terbesit di hatimu, Allah sedang berbisik kepadamu.

8. Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kamu ingin mengucapkan syukur, Allah telah memberkahimu.

9. Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan punya mimpi untuk digenapi, Allah telah membuka dan memanggil dengan namamu.

10. Ketika sesuatu yang indah terjadi dan engkau dipenuhi ketakjuban, Allah telah tersenyum padamu


ingatlah saudaraku,,,

dimanapun engkau, kemanapun engkau, dan kapanpun engkau menghadap, Allah tau!

mari mendekatkan diri pada Allah lebih dekat. Agar tunduk kala yang lain angkuh. Agar teguh kala yang lain runtuh.Agar tegar kala yang lain terlempar.Rapatkan shaf!
bangkitkan ghirohmu demi agama kita Islam yang mulia serta jangan kufur dan terlena dalam dunia yang penuh badai, fitnah, dan syahwat serta kemusyrikan dan kemaksiatan juga penuh dengan fatamorgana ini.

Marilah kita mendekatkan diri kepada Allah Rabb kita yang menciptakan kita dan mematikan kita. ALLAHU AKBAR!

Mari kita bersama berlomba-lomba meraih Shirothul mustaqiem yang membawa kita ke jalan Allah ta'ala, jangan melalui jalan yang tidak diridhoi Allah karena akan mendapatkan azabnya yang sangat pedih...
Wallahu'alam bish showab

Cerpen # Surprise Terindah


Aku melakukan ini semua bukan karena aku membencimu. Asal kamu tau aku menyayangimu karena Allah. Sahabatku, percayalah tanpamu aku hanyalah sebuah sepi.

Sahabatku adalah saudaraku sampai akhir hayatku. Ipah sahabatku dengan nama lengkap Cholifah. Beberapa hari lagi adalah hari jadimu, aku gak tau apa yang harus aku berikan padamu. Aku tahu mungkin ipah tidak berharap apapun. Tapi, salahkah jika aku ingin memberikannya sebuah hadiah sebangai tanda persahabatan kita.

Seperti biasa jam istirahat berdering. Ipah sahabatku  bergegas menuju kantin sekolah, ia membantu ibu kantin yang biasa di sapa Ibu roro melayani dan menjaga kantin. Terkadang ia teriak-teriak karena ditemui ada siswa yang tidak membayar  jajanan di kantin. Padahal setahuku Ipah menjaga kantin tidak medapat gaji, hanya dapat makanan gratis di kantin setiap hari tanpa bayaran materi. Namun, yang membuatku kagum kepadanya ia tak pernah gengsi ataupun malu di ledek teman-teman sekelas yang biasa menjadikannya bahan celaan.

Ipah hanya jajan tiga ribu setiap hari bahkan tidak jajan sama sekali sementara pengeluaran di sekolah jauh lebih besar dan membuatnya harus bekerja karena himpitan ekonomi keluarganya. Terkadang ia menjadi kuli cuci sehabis pulang sekolah sehingga waktunya tidak banyak untukku juga teman-teman lainnya.

 Aku bersama dengan teman-temanku membuat sebuah rencana untuk hari milad Ipah yang tinggal menghitung hari.

“Mau ngasih kado apa nih?” Tanya Puji ketika di kelas.
“Apa aja yang berkesan,” Jawabku.
“Iya tapi yang berkesan itu apa Er?” Tanya Mutia. Aku diam tanda bingung.
“Eh kita ceplokin aja yok?”  Iftah memberi solusi.
“Jangan, cabe mahal kali,” Ceplosku.
“Apa hubungannya Er nyeplokin sama cabe mahal?”
“Ya pokoknya ngaruhlah. Mubazir pula, lebih baik kita kasih telurnya sama Ipah biar dia masakin daripada di buang-buang,”
“Trus kadonya apa? Jujur aja gue lagi Kismin, kita patungan aja ya seperti biasa,” Kata Siti. Kami hanya menarik nafas panjang-panjang. Belum selesai rapat kami tiba-tiba Ipah hadir di tengah-tengah kami. Ia membawa satu bungkus siomay juga air mineral dari kantin.
“Eh kok pada enggak jajan sih? Nih pada mau gak?” Tanya Ipah menawarkan siomay jatahnya. Aku hanya tersenyum. Juga teman-temanku yang lain pada nyengir kuda. Ipah malah cengo.

 Sepulang sekolah Iftah mengambil HP Ipah tanpa sepengetahuannya dan memberikannya kepadaku. Niatnya teman-teman ingin memberi kejutan untuk Ipah. Dalam hatiku masih tersimpan rasa kasihan, bukannya di kasih hadiah malah dikasih musibah. Ipah terlihat kelabakan karena HPnya ilang. Keesokan harinya tepat hari Ulang Tahunnya aku jujur kepadanya jika HPnya ada denganku. Ia marah dan ngambek. Entah dengan cara apa aku meluluhkan hatinya. Aku berniat mengambil HPnya yang ada ditasku. Aku menyesal sekali jika akhirnya akan menjadi seperti ini padahal sebuah kado belum diberikan padanya. Namun kemana HP ipah? Mengapa tidak ada di tasku? Hilangkah? Bagaimana mungkin?

“Udah jujur siapa yang ngambil? Kalian gak kasihan apa ngeliat Ipah? Udah dua hari nih HPnya sama kita. Lagian dia juga kan pastinya banyak keperluan,” Kataku dihadapan empat orang teman-temanku.
“Kemarin kan HPnya udah aku kasih kamu Er,” Kata Iftah.
“Iya tapi enggak ada, tadi pagi tuh masih ada. Kenapa sekarang ilang?”
“Yah gak tau…” sahut teman-temanku dengan wajah panik.

@@@

Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan jika sudah begini? Aku ingin marah tapi gak tau mau marah sama siapa? Yang ngambil HP ipah juga aku gak tau siapa orangnya. Ipah masih marah dengan Kami terutama denganku yang telah menghilangkan Hpnya. Aku dan teman-teman bersama-sama ke Rumah Ipah untuk meminta maaf atas kecerobohanku.

Sampai di gang rumah Ipah. Entah mengapa teman-temanku berhenti begitu juga dengan aku. Masih dengan wajah panik dan merasa bersalah yang amat sangat sehingga langkah kami terhenti.

“Er, jalan duluan dong,” Suruh Mutia.
“Ye  jangan gitu dong. Niat kita kan mau minta maaf. Jadi bareng-bareng aja biar adil,” Aku mencoba memberi saran.
“Gimana sih, ini kan gang kecil mana bisa jalan bareng berlima,”
“Eh iya ya… yaudah deh ngalah,” Kataku. Hatiku masih was-was dan ketar-ketir tidak karuan. Aku tahu banget sifat Ipah apalagi kalau lagi ngambek begini, biasanya dia suka kabur-kaburan dan gak mau di ajak bicara.

Sampai di depan rumahnya. Kulihat Ibunya Ipah tersenyum, aku mangucapkan salam dan mencium punggung tangannya. Di rumahnya ku lihat banyak makanan yang sudah tersusun rapi. Apa jangan-jangan Ipah merayakan Ulang Tahunnya? Tapi kok kami teman-temannya gak di undang?

“Ayo masuk-masuk… udah di tungguin daritadi,” Suruh Ibunya Ipah. Aku dan teman-teman melongo. Dan menurut masuk ke dalam rumah Ipah, Ipah muncul dari kamarnya dan terkejut melihat kami.
“Mau ngapain?” Tanya Ipah.
“Ipah, gak boleh gitu. Udah tuh ajak makan temen-temen lu, kasian datang jauh-jauh,” Ajak Ibunya Ipah. Namun Ipah tidak menggubrisnya sama sekali. Pasti Ipah masih sangat marah atas kejadian ini. Bagaimana mau minta maaf kalau Ipah masih emosi begini.
“Pah, dengerin kita mau ngomong,” Kataku.
“Gak mau denger!” Bentak Ipah.
“Tuh kan, udah yuk pulang aja. Pulang.. percuma Ipah gak mau denger,” Kata Iftah mundur sebelum berperang. Semua terdiam.

“HAHAHAHAHA….” Ipah tertawa ngakak. Kenapa ini anak? Nyeremin ih… kami bengong melihat tingkahnya yang aneh binti ajaib. “Muka kalian tuh pada ngenesin banget yaa, hahaha,”
“Hah??” Kami kaget berbarengan sambil berpandang-pandangan.
“Udah ah jangan kaget gitu, biasa aja kali. Yaudah pada makan yuk, emakku udah masak sayur asem sama sambel terasi. Hanya makanan seadanya nih, alakadarnya,” Ajak Ipah. Kami semua masih bengong melihat tingkah Ipah yang berubah drastis.
“Beneran nih?” Tanyaku yang memang sudah lapar banget.
“Iyaaa… sekalian aku mau bilang kalo HP aku udah sama aku loh. Lagian ngerjain orang gak dipikirin dulu sih. Tadi pagi kalian gak ada di kelas, aku miscall HPku eh ada getar-getar di tas Erny. Yaudah aku ambil aja siapa suruh HPku gak di nonaktifin. Kali ini gagal ya ngerjain aku? Kasian deh, hahaha,” Ipah tertawa bangga tanda kemenangan telah mengelabuhi kami. Niat ngerjain Ipah kenapa malah kami yang di kerjain??

Hari ini kami tertawa bersama di temani sayur asem juga sambel terasi kesukaan kami semua. kami memberikan sebuah kado untuknya. Sebuah boneka Teddy Bear kesukaannya dan Ipah menyukai dan langsung memeluknya. Ia ke kamarnya dan mengambil sebuah bungkusan keresek yang di dalamnya ada 5 buah boneka kecil berwarna pink. Ia memberikannya kepadaku juga teman-teman.

“Ini pegang satu-satu ya buat kenang-kenangan, buat Erny boneka Tazmania, Mutia Doraemon, Puji bintang, Iftah Hello kitty dan Siti boneka monyet,” Katanya. Sebenarnya yang milad siapa sih? Kok yang di kasih hadiah malah aku sama teman-teman.

Kami terharu dengan pemberiannya dan kami saling berpelukan di temani butir airmata gembira yang hadir. Entah sudah berapa lama Ipah menabung untuk memberikan hadiah ini untuk kami. Terimakasih sahabat telah membuat hidupku seindah pelangi.


(Cerpen yang terinspirasi dari kisah nyata saat saya masih di Aliyah dulu... Sungguh Saya merindukan kalian semua teman, Saya rindu seperti dulu... )

Oleh: Erny Binsa


Ayahku (Bukan) Pembohong # Sebuah Cerita Tentang Kesederhanaan Hidup #



JUDUL BUKU          : AYAHKU (BUKAN) PEMBOHONG
PENULIS                   : TERE-LIYE
PENERBIT                 : GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA
TERBIT                      : I, APRIL 2011
HARGA                     : Rp. 45.000
TEBAL                       : 299 HALAMAN

            Setiap membaca lembar demi lembar novel yang di tulis oleh penulis Tere-Liye mebuat saya semakin menyadari makna hidup yang sebenarnya, dari yang paling dekat dengan kita, yaitu keluarga. Dalam novel ini bahasa yang digunakan mudah untuk dimengerti dan tidak bertele-tele. Di sini pembaca akan mengerti hakikat kebahagiaan yang sebenarnya. Seperti yang dikatakan oleh Pak Arwin Rasyid, “Isinya tak hanya menggugah dan membuat haru, tapi membuat kita merasa perlu meneguhkan kembali keyakinan dan kecintaan pada keluarga. Salut atas novel ini.”

            Tere-Liye bukan penulis yang asing dikalangan pembaca. Banyak karya-karyanya yang berhasil membuat pembaca menahan nafas bahkan sampai berlinang air mata. Ia juga berhasil membuat pembaca penasaran pada setiap jelmaan kata yang ditorehkan dan tak membiarkan berhenti membaca sebelum semuanya tuntas. Begitu juga dengan belasan novel yang sudah diterbitkan sebelumnya. Seperti Hafalan Sholat Delisa yang akan diangkat ke layar lebar. 

            Kekurangan dalam novel ini adalah ketika penulis menceritakan hal-hal yang tidak wajar dan tidak rasional. Namun, banyak pesan yang terkandung dan sangat menginspirasi. Buku ini layak untuk menjadi koleksi siapa saja, mulai dari yang muda sampai dewasa. Kearifan kata-katanya bisa membuat hati siapa saja tergugah.

            Bermula dari seorang anak bernama Dam, yang sedari kecil tak pernah bosan mendengar cerita dari sang ayah. Bahkan selalu menunggu dan tak sabar untuk mengetahui apa cerita selanjutnya. Ayah, seorang yang terkenal jujur dan sederhana. Membesarkan Dam dengan cara yang sederhana pula. Dam tak habis pikir bahwa ayahnya begitu hebat, bisa bersahabat dengan kapten pemain bola terkenal yang sangat diidolakan Dam, ELCAPITANO! EL PRINCE! Ayah juga pernah bercerita tentang petualangnya di lembah Bukhara  dan Ayah memakan apel emas di lembah Bukhara. “Kau tahu, Dam, mereka hanya punya satu pohon diseluruh lembah, dan apel itu hanya tumbuh sepuluh tahun sekali.” (Hal.140)

            Dan hal itu membuat Dam bertanya-tanya apakah kisah itu nyata? Dam tahu ayah tak akan pernah berbohong. Namun, saat Dam mulai sekolah di Akademi Gajah ia berteman baik dengan Retro dan secara tidak sengaja saat Dam dan Retro dihukum untuk membersihkan perpustakaan sekolah. Retro menemukan sebuah buku yang sudah lusuh, membacanya dan menunjukkan pada Dam. Dam penasaran saat membaca judul buku tersebut. “Apel Emas dan Lembah Bukhara”  cerita-cerita yang pernah Ayah ceritakan ada di dalam buku tersebut, hanya saja ayah menambah-nambahkan hal tentang dirinya yang tak ada dalam buku. Saat itu Dam merasa bingung, dan berusaha mencari tahu apakah ayah bohong atau tidak? Meski dalam hati Dam selalu teringat bahwa Ayah adalah orang yang jujur. Bahkan semua orang mengakuinya.

            Namun, filosofi Retro ada benarnya juga. Mungkin Ayah berbohong karena cerita ayah terlalu berlebihan. Bahkan Ayah juga berbohong tentang Ibu yang sudah memiliki penyakit bawaan sejak 20 tahun terakhir. Dan sejak Ibu meninggalkan Dam, Dam tak ingin lagi mendengar cerita-cerita Ayah, Dam membenci Ayah karena telah tega membohonginya.

            Sampai Dam menikah dan punya anak Zas dan Qon, cerita itu masih berlanjut untuk anak-anak Dam. Ayah sering bercerita pada Zas dan Qon tentang cerita-cerita yang sama yang dulu pernah diceritakan pada Dam, Zas pernah protes dan bertanya pada Dam, apakah cerita itu nyata atau tidak? Dam hanya menjawab. “… Tidak penting lagi itu sungguhan atau bukan, Zas. Sepanjang itu menarik dan seru, anggap saja seperti film hebat yang kita tonton, tidak penting itu kisah nyata atau hanya film. Kakek boleh jadi sedang bergurau, kakek boleh jadi sedang menceritakan yang sebenarnya. Ketika kita belum tahu, tidak penting itu sungguhan atau bohong.” (Halaman194)

Dam semakin geram saat mengetahui anak-anaknya bolos sekolah karena sedang mencari tahu kebenaran cerita Ayah. Hingga akhirnya Dam mengusir Ayah dari rumah dan segalanya terungkap saat akhir novel ini. “Aku turut berduka cita, Dam. Ayah kau adalah segalanya bagi kapten tua ini. Ayah kau terlalu sederhana untuk mengakuinya.” (hal.298)

Sampai detik-detik terakhir penggalan novel ini saya terhanyut. Berusaha menyelami kata-kata yang ingin disampaikan penulis. Bukan hal yang mudah untuk seorang  penulis membuat pembacanya akan selalu terkenang pada setiap kata per kata yang ditulis. Dan, Tere-Liye telah berhasil.

Oleh: Erny Binsa

Monday, 17 October 2011

Hidup Anak Kecil (Curhat Colongan)

Jadi anak kecil itu enak banget yak? seperti menciptakan duniannya sendiri gitu. Kalo diomelin tinggal nangis, kalo laper tinggal bilang aja, kalo berantem diomelin trus nangis (Lah kok ngulang sih?). Intinya sih begitu. Aduh saya kok jadi pengen jadi anak kecil lagi ya? 

Kemarin ada anak kecil yang dateng ke rumah, ada 4 orang anak SD yang saya sendiri nggak tahu tujuannya apa, kira-kira masih kelas 2 SD. Saat itu saya lagi masak trus keluar, saya mendadak bingung. Mau apa ini bocah pada?  salah seorang diantaranya langsung meluk saya tiba-tiba. Waduh ada apa ya? bingung.

            Setelah saya peretelin mukanya satu-satu (idih bahasa apaan tuh peretelin? maksud saya tuh dilihat dengan seksama.) saya baru inget kalo anak itu anaknya sepupu saya, setelah meluk saya lama tahu-tahu dia nangis, matanya basah. Hadeuh dimana-mana mah nangis matanya emang basah yak? masa iya idungnya yang basah? jee… itu lain lagi ceritanya. Nggak lama temen-temennya yang 4 orang juga ikutan pada nangis. Ih saya salah apa sih? Plis dong jangan bikin saya kayak orang bego begini. 

            Perlahan tapi pasti saya nyuruh mereka pada duduk, trus saya omongin pelan-pelan. Anak kecil, kan harusnya dibaikin. Anaknya sepupu saya yang namanya Cha-cha (Kayak nama permen, yak?) mulai bercerita, aduh tapi gak kedengeran. Yang salah suara Cha-cha yang kekecilan atau kuping saya yang rada-rada? Ah ternyata pendengaran saya masih normal kok. Samar-samar saya mendengar suara lembutnya yang diselingi dengan tangisan dan tarikan ingus yang khas banget anak kecil (ada gitu?)

            “Hiks… Teh Eni (waduh kurang ‘R’ tuh, tapi karena masih kecil saya maapin dah) Cha-cha diomelin sama abang Inu, Srooottt…. (narik ingus)” 

            “Cha-cha kenapa, sayang? diomein gimana?” Wadughh saya ngerasa tiba-tiba punya jiwa emak-emak deh.

            “Cha-cha mau nabung, tapi nggak boleh sama abang Inu,” kata Cha-cha masih juga meneteskan airmata. Sekedar pemberitahuan Cha-cha punya abang namanya Inu dan mereka satu sekolahan cuman beda kelas aja, dan sekolah itu lumayan deket dari rumah saya hanya sekitar 5 menitlah kalo jalan kaki, tapi jalan raya di sana tuh serem-serem banget, bukannya serem karena apa hanya saja motor-motor kebanyakan pada ngebut karena jalanan suka sepi dan saya ngerasa salut banget sama Cha-cha dkk. mereka kecil-kecil udah pada bisa nyebrang, wah keren kan? sedangkan saya aja buat nyebrang sendiri butuh umur 14 tahun baru bisa tuh. Eh giliran saya tanya sama cha-cha ternyata dia ngaku kalo disebrangin tukang ojek. Yaelah kalo gitu saya salutnya sama tukang ojek aja dah. Lah ini tulisan malah ngelantur kemana-mana. balik lagi ya ke topik (Sumpah masih penasaran saya sama yang namanya topik itu, lagian namanya disebut terus!)

            “Memang Cha-cha mau nabung berapa? Trus uangnya mana?”

            “Cha-cha nabung lima ribu, sroooott (narik ingus lagi). Uangnya udah dikasih ibu guru buat nabung. Tapi, tapi sama abang Inu nggak boleh nabung, disuruh buat jajan aja, srrrooooottt (narik ingus lagi-lagi, sempet-sempetnya deh),” wah bagus dong kalo gitu, itu tandanya abang Inu baik, kan? Ah dasar anak kecil, begitu aja nangis. Perasaan dulu waktu saya masih kecil nggak gitu-gitu amat deh, eh saya juga masih tanda tanya nih emangnya saya pernah gitu jadi anak kecil yang punya perasaan.

            Ternyata masalahnya gara-gara duit, gak tua gak muda kayaknya bermasalah banget sama makhluk satu kata bernama “DUIT” ini yak? heran deh saya. 

            “Oh gitu, yaudah cep, cep, jangan nangis dong. Nanti uangnya Teteh gantiin ya,” Cha-cha mendadak diem girang (diem girang itu kira-kira ekspresinya pegimane ye?) Setelah itu saya balik ke belakang, hoakkksss masakan saya angus, Gan! Sial!

Trus saya tuang air dan kue kering lebaran yang masih nyisa tapi masih enak loh lalu saya kirim ke Cha-cha dkk, Biar mereka pada makan, kasian banget, ngenes deh ngeliatnya. Setelah itu saya ke belakang lagi, minjem duit sama Emak. Hahaha mau ngasih orang tapi modal pinjeman, waduh jangan pernah dicontoh ya sifat seperti ini.

Ah iya saya masih heran sama satu hal lagi. Kan waktu Cha-cha dateng dia meluk saya tuh. Trus kenapa temen-temennya pada nangis ya? Seakan-akan lagi pada nonton seorang anak dan ibu yang sudah tak bertemu belasan tahun. Halah sinetron banget nggak sih? Aduh kenapa ya mereka pada nangis? sampai sekarang saya nggak tahu tuh apa jawabannya makanya penasaran banget. Apa iya sifat solidaritas mereka karena melihat temannya sedang kesusahan. Gila ye? Perlu dicontoh nih. Anak kecil aja udah begini apalagi kalo udah gede?

Setelah dapat duit mereka langsung pamit balik ke sekolahan. Pinter banget ye? Ah… Dulu saya juga pernah merasa kayak begitu. Bedanya saya dizolimi temen-temen atau saya yang malah menzolimi temen-temen yak? hm pura-pura lupa aja deh!

Nah enaknya jadi anak kecil tuh, ahahhaii… Kalo ada apa-apa banyak yang ngebantuin. Dan bukan hanya itu saja. Saya ngerasa masa kecil saya tuh kelam banget dan udah nggak bisa memperbaiki semuanya sekarang. STOP berandai-andai ERNY!! Lanjutkan HIdupmu!! Hidup anak kecil!!! Semangat Semangat…


11 Oktober 2011

Maaf, Ini Pilihan Saya.

             Teman, kau pernah tersudutkan pada sebuah pilihan? pilihan yang sulit sekali kau jawab. Sedangkan jika kau tidak menjawab, kau malah akan menyakiti banyak orang. Pilihan itu mutlak, Iya atau tidak! Ini atau itu! Jika saya ragu maka saya akan disebut sebagai pecundang yang tidak bisa teguh pendirian. 

            Namun, itulah saya adanya. Seperti memakan buah simalakama “Jika dimakan Ibu mati, jika tidak Ayah mati” Jika dihadapkan oleh pertanyaan itu, mau jawab apa? hoho… Pusing, kan? 

            Sebenarnya bukan masalah yang begitu pelik, sebenarnya saya sudah memiliki pilihan. Tapi, pilihan saya bisa menyakitkan banyak orang. Mengecewakan banyak orang tentunya yang sudah lama mengharapkan saya. Mengapa sulit sekali untuk mengungkapkannya? membuat hati ini galau lagi galau lagi, dilema lagi dilema lagi. Bosan sekali rasanya.

            Saya tahu saya belum bisa memberikan banyak dan saya terlalu banyak merepotkan selama ini. Saya sangat senang dengan pilihan yang saya jalani saat ini, hanya saya belum mampu mengoptimalkannya saja. Tapi saya yakin, semua butuh proses bukan? saya hanya butuh waktu untuk merealisasikannya, menggapainya. 

            Saya tak ada niat untuk mengecewakan sedikitpun, saya hanya manusia yang harus memilih yang terbaik bukan? lalu mengapa saat aku memilih yang baik mereka malah memojokkan saya? membuat saya semakin berhenti berharap. Sebenarnya masih sangat sulit. Maafkan saya belum bisa memberi suatu hal yang membuat bangga. Mereka membutuhkan saya, bergantung pada saya. Subhanallah tempat terindah di akhirat yang dijanjikannya jika saya masih bertahan. Maafkan saya sekali lagi, tak maksud membuat kecewa. Tapi sudah saya bilang bahwa saya memiliki pilihan. Dan pilihan saya tetap! Biarkan saya menjadi diri saya sendiri. Semoga Allah Meridhoi.

Wednesday, 12 October 2011

Ketika Belum Bisa Bermanfaat (Curhat Lagi)

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh…

Mau curhat lagi…
Kalian pernah ngerasain gimana rasanya nggak bisa berguna? Nggak bisa bermanfaat buat orang lain. Saya pernah mengalaminya, sangat sering.

            Saya sering membaca sebuah hadits yang isinya. “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain.” Sedangkan yang saya rasakan saat ini jangankan berguna buat orang lain atau keluarga di rumah, buat diri sendiri aja saya belum mampu. Jadi, apakah ketika saya belum bisa bermanfaat buat orang lain saya belum jadi manusia yang baik? whatever, hanya kalian yang bisa menilai.

            Tapi saya deikejutkan oleh seorang teman yang bilang begini, ceritanya nasehatin saya gitu.

            “Lu bukan nggak guna, hanya saja lu ngerasa kalo lu nggak guna (Lah emang!) Kalo lu nggak bisa berguna buat oranglain, mau ngapain lu hidup? mending mati aja gih!” Hehehe kata-katanya dalem binti nyelekit banget deh ini, 

            “Coba hal berguna apa yang pernah gue lakukan?”

            “Hm, apa yah?” (kelamaan mikir)

            “Ah, kan nggak bisa jawab!”

            “Sabar dong! Ah iya, lu tuh sangat berguna kalo dimaki-maki, buat dicela-cela. Senggaknya lu masih bisa bikin orang seneng, kan?” Ini orang belom pernah dicakar kucing apa ya? pengen banget rasanya nimpuk nih orang satu.  Tapi habis gitu temen saya lanjutin lagi omongannya.

            “Jangan ngomel-ngomel dulu! Sekarang gini deh (masang tampang serius). Nggak semua orang bisa menjadi yang mereka inginkan. Tapi setidaknya Allah menciptakan lu bukan jadi orang yang bener-bener nggak guna (belibet banget ngomongnya). Sedikit contoh aja ya, Misalnya elu masih bisa bikin orang ketawa, masih bisa infaq barang sedikit, masih punya banyak temen, dan banyak lagi, itu tandanya lu masih dibutuhkan. Yang harus lu lakukan hanyalah berbuat sebisa elu, jangan terlalu memaksakan kehendak. di dunia ini nggak ada yang sempurna lagi, bener juga tuh kata dorce show Kesempurnaan hanya milik Allah.”

            Saya bengong!

            Ini anak abis makan apa ya? kenapa bisa mendadak Mario teguh gini? Haduh saya lagi mimpi nggak sih? Saya bener-bener nggak percaya kalo omongan itu bisa keluar dari mulut seorang pencela sejati, surprise banget, kalo kata Syaherni ‘Sesuatu banget’

            Kali ini saya belajar dari seorang teman, meski hobby ngeledek orang tapi saya kasih 4 jempol buat dia, keren gila ucapannya. Ketika kita bisa memberikan kontribusi lebih buat orang lain meskipun hanya sedikit, itu berarti masih bisa bermanfaat buat orang lain asal jangan dimanfaatin aja. Kadang kebanyakan orang malah kesel kalo dimanfaatin.
            
Kalo kata orang kurang baik:

            “Hah! Jadi selama ini elu hanya manfaatin gue ajah? Lu bener-bener tega! sumpah gue bener-bener nggak nyangka, Yaudah kita udahan aja kalo gitu! Puas!” Itu yang sering saya denger. Lebay alay banget!

Kalo orang yang baik jawabnya:

            “Owh jadi kamu hanya manfaatin saya saja ya? Ah nggak apa-apa kok, saya malah Alhamdulillah banget bisa bermanfaat buat oranglain. Lain kali kalo mau pinjem uang sama saya lagi aja, yah?”

            Hahaha…. Semoga saja tulisan ini bermanfaat… J

Jakarta, 12 Oktober 2011


Monday, 10 October 2011

Hanya Ingin Ngeluarin Unek-unek Aja

             
                Gue pingin cerita waktu tiga hari gue training kerja itu. sebenernya sih pekerjaan itu masih bikin gue ragu dan setengah hati ngejalaninnya. Pasalnya terlihat sekali kesenjangan sosial di sana. Beda jauh banget apa yang sering gue temui di jalan-jalan sama di kantor, malah gue rasa lebih parah lingkungan orang-orang kantoran deh. 

                Awal dateng gue emang udah dicurigai oleh satpam di sana, buset dah dikira gue teroris gitu? masa tampang cakep kayak gini dicurigai? gak sopan banget, gara-gara ngeliat gue pake jilbab kali? wah makin gak sopan ini orang. Tapi, ya udahlah. Dia minta KTP gue kasih. Tuh, mau apa dah?

                Saat masuk di sana gue bener-bener ngerasa asing seasing-asingnya. Ih bukan dunia gue banget ini mah. Dan di sana gue mulai belajar tentang Margin Trading semacam Saham gitu, weks halal atau haram ini? ini yang membuat gue merasa ragu untuk masuk di sini. Bukan hanya itu kebanyakan dari orang-orang yang ikutan Training kerja itu dari kalangan anak-anak kuliahan, ibu rumah tangga, atau pensiunan. Dan mulailah awal perkenalan satu per satu.

                Pertama di mulai dari seorang anak kuliahan yang ngakunya kuliah di BINUS. umurnya masih 19 tahun yah seumuranlah cuman nasibnya aja mungkin lebih baik daripada gue. Katanya Ortunya usaha kos-kosan dan udah punya 16 kos-an yang seharga 1.200.000/bulan. Gila ye? 

                Ada lagi  Seorang ibu rumah tangga yang datang dengan suaminya. Mereka pensiunan, suaminya bekas manager apa gitu, gak ngertilah. Dan mereka juga sering maen saham, sekarang udah punya perkebunan kelapa berhektar-hektar diluar kota. Katanya anaknya sekarang kuliah di singapura di universitas paling paporit di sana. 

                Dan pertanyaan gue adalah, mereka ini niat mau kerja atau mau pamer harta sih? Okelah gue emang nggak punya apa-apa dan cuman bisa diem seribu bahasa di sana. Bayangin aja gue kuliah cuman bertahan satu semester, kerjaan gue cuman ngajar TPA yang kata orang gajinya nggak seberapa. Dan orang tua gue hanyalah seorang buruh. So, apa yang bisa gue banggain di sana? tapi, gue bangga jadi diri gue sendiri, kenapa? Karena setidaknya gue masih bisa nabung, meski di dunia gak bisa seenggaknya gue nabung buat bekal akherat gue. Kata Emak gak boleh hanya ngejar dunia aja, itu hanya sesaat. Dan ketika gue menginjakkan kaki di sana, gue bener-bener merasa bahwa kesenjangan sosial mulai terlihat di sini.

                Contohnya saat jam istirahat semua temen-temen training gue berangkat ke kantin buat makan siang, sedangkan gue hanya bisa pasrah nunggu pulang kerja lalu makan di rumah aja dan hanya bisa berdiam diri di mushola. Tapi itu lebih baik.Dan di sana gue bener-bener nggak punya teman barang seorang yang bisa gue ajak ngobrol. Semuanya masing-masing. Kelompok orang banyak duit seturunya, kelompok orang gak punya duit ya hanya gue doang di sini. jiahahaha…

                Kok gue jadi ngerasa minder begini ya? sumpah ini tuh bukan tempat gue, gue nggak mau punya temen model begini.  Lah mereka juga belum tentu mau punya temen kayak gue, kan? Sok banget deh gue!

                waduh nggak tahu juga deh kalo mereka pada baca postingan gue di blog bakal gimana ya reaksinya? Gue sih bukan mau cari ribut atau mau ngadu, gue hanya ingin ngeluarin unek-unek gue aja yang seminggu belakangan bikin gue semakin nggak PD. Tapi kali ini gue rasanya udah lebih baik.

Sunday, 9 October 2011

Kemarin tuh, Sesuatu Banget


Aduh, judul kali ini kepanjangan banget gak sih? biar aja yah? suka-suka saya dong.

            Kemarin tepat hari sabtu, tanggal 8 oktober 2011 adalah acara Technikal Meeting FLP ciputat angkatan 8, acaranya pun tepat jam 8 meski ngaret juga sih, dikit, hehe… di maklum sajalah.

            Yang bikin saya merasa sesuatu banget tuh saat pengumuman lomba cerpen Flp ciputat yang dilakukan beberapa bulan belakangan ini. Dan dalam acara ini yang menajdi juri adalah Mas Sakti Wibowo. Pada kenal, kan? kebangetan banget deh kalo nggak kenal. 

            Saya ikutan lomba cerpen ini kudu bayar 10 ribu, sama halnya dengan temen-temen gue lainnya. Selama ini saya memang gak ikut lomba kalo pakai bayar-bayar, ribet banget gitu pake transfer-transfer, saya kan nggak ngerti caranya tau! dan untungnya lomba ini gak pake ribet transfer tinggal taro aja uangnya di amplop. So, gak ribet kan? Mungkin temen-temen saya bakal ngecengin kalo tahu saya kampungan begini. “Gila luh, Er. Hari gini gituh gak punya kartu ATM, aduh parahhh!” *sambil geleng-geleng kepala seakan-akan itu adalah hal yang benar-benar penting. padahal gue aja bodo amat! deuh. 

            Saat itu mas sakti juga yang membacakan pengumuman tersebut dan katanya untuk juara satu ditiadakan, waduh kok bisa ya? menurutnya dari keduapuluh naskah masih kurang apa gitu katanya, lupa deh saya. intinya gitu dah. lah apaan coba? gak jelas banget luh, er. Dan pada akhirnya hanya ada juara 2, juara 3, dan juara harapan 1,2,3. Wah lumayan tuh masih ada kemungkinan menang soalnya yang ikut dikit, wkwkwk ngarep.

            Dan Alhamdulillah yah, saya ngerasa surprise banget saat nama saya disebut di juara harapan 2, eh mas sakti salah orang gak sih? jangan-jangan nanti kalo saya udah maju tahu-tahu ada kesalahan dan disuruh turun lagi, ih gak bisa ngebayangin hal semacam itu deh. badan saya mendadak jadi panas dingin gak karuan. Sama halnya saat saya menang lomba LGJM waktu sekolah dulu, sama juga halnya saat saya menang lomba Qasidah juara 3 meskipun yang ikut 4 kelompok aja, hehe seenggaknya kan masih bisa ngalahin satu, kan? dan sama halnya juga juga saat untu pertama kalinya dapat kabar kalo naskah saya lolos lomba buat dibukukan. Ih sumpe dah suasananya sama banget kayak kemaren. gak bisa terjabarkan dengan kata-kata. 

            Dan hal ini juga bisa menyelesaikan satu permasalahan yang sedang saya hadapi, sebelumnya saya pernah cerita kan tentang laptop yang rusak? dan ini adalah jalan buat gue ngebenerin. Makasih banget Ya Allah, Engkau Maha Tahu apa yang sedang hambaMu butuhkan. ternyata bener juga apa kata pepatah yang sering saya dengar bahwa Allah tidak memberikan hal yang kita inginkan tetapi, Allah akan memberi apa yang kita butuhkan. Hal ini terbukti buat saya khususnya.

            Dan setiap kesenangan ada kesengsaraan. Pasalnya setelah acara itu selesai temen-temen pada nagih trakiran. 20% buat pemenangnya dan 80% buat nraktir. Buset tega banget sih. Ini orang mau minta traktir atau mau ngerampok sebenernya?

            Dan dari kejadian ini, bukan saya bermaksud buat sombong atau apalah sok narsislah. Ini semua buat motivasi aja buat saya, semoga buat kedepannya saya bisa lebih dari yang sekarang. Pastinya harus lebih baiklah… :D

udahan ya…. eh kenapa paragraph awalnya kebanyakan “Dan” ya??
udah deh biarin aja, selamat istirahat yaa…
Assalamu’alaikum…


kemanggisan, 9 Oktober 2011

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...