Wednesday, 19 October 2011

Ayahku (Bukan) Pembohong # Sebuah Cerita Tentang Kesederhanaan Hidup #



JUDUL BUKU          : AYAHKU (BUKAN) PEMBOHONG
PENULIS                   : TERE-LIYE
PENERBIT                 : GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA
TERBIT                      : I, APRIL 2011
HARGA                     : Rp. 45.000
TEBAL                       : 299 HALAMAN

            Setiap membaca lembar demi lembar novel yang di tulis oleh penulis Tere-Liye mebuat saya semakin menyadari makna hidup yang sebenarnya, dari yang paling dekat dengan kita, yaitu keluarga. Dalam novel ini bahasa yang digunakan mudah untuk dimengerti dan tidak bertele-tele. Di sini pembaca akan mengerti hakikat kebahagiaan yang sebenarnya. Seperti yang dikatakan oleh Pak Arwin Rasyid, “Isinya tak hanya menggugah dan membuat haru, tapi membuat kita merasa perlu meneguhkan kembali keyakinan dan kecintaan pada keluarga. Salut atas novel ini.”

            Tere-Liye bukan penulis yang asing dikalangan pembaca. Banyak karya-karyanya yang berhasil membuat pembaca menahan nafas bahkan sampai berlinang air mata. Ia juga berhasil membuat pembaca penasaran pada setiap jelmaan kata yang ditorehkan dan tak membiarkan berhenti membaca sebelum semuanya tuntas. Begitu juga dengan belasan novel yang sudah diterbitkan sebelumnya. Seperti Hafalan Sholat Delisa yang akan diangkat ke layar lebar. 

            Kekurangan dalam novel ini adalah ketika penulis menceritakan hal-hal yang tidak wajar dan tidak rasional. Namun, banyak pesan yang terkandung dan sangat menginspirasi. Buku ini layak untuk menjadi koleksi siapa saja, mulai dari yang muda sampai dewasa. Kearifan kata-katanya bisa membuat hati siapa saja tergugah.

            Bermula dari seorang anak bernama Dam, yang sedari kecil tak pernah bosan mendengar cerita dari sang ayah. Bahkan selalu menunggu dan tak sabar untuk mengetahui apa cerita selanjutnya. Ayah, seorang yang terkenal jujur dan sederhana. Membesarkan Dam dengan cara yang sederhana pula. Dam tak habis pikir bahwa ayahnya begitu hebat, bisa bersahabat dengan kapten pemain bola terkenal yang sangat diidolakan Dam, ELCAPITANO! EL PRINCE! Ayah juga pernah bercerita tentang petualangnya di lembah Bukhara  dan Ayah memakan apel emas di lembah Bukhara. “Kau tahu, Dam, mereka hanya punya satu pohon diseluruh lembah, dan apel itu hanya tumbuh sepuluh tahun sekali.” (Hal.140)

            Dan hal itu membuat Dam bertanya-tanya apakah kisah itu nyata? Dam tahu ayah tak akan pernah berbohong. Namun, saat Dam mulai sekolah di Akademi Gajah ia berteman baik dengan Retro dan secara tidak sengaja saat Dam dan Retro dihukum untuk membersihkan perpustakaan sekolah. Retro menemukan sebuah buku yang sudah lusuh, membacanya dan menunjukkan pada Dam. Dam penasaran saat membaca judul buku tersebut. “Apel Emas dan Lembah Bukhara”  cerita-cerita yang pernah Ayah ceritakan ada di dalam buku tersebut, hanya saja ayah menambah-nambahkan hal tentang dirinya yang tak ada dalam buku. Saat itu Dam merasa bingung, dan berusaha mencari tahu apakah ayah bohong atau tidak? Meski dalam hati Dam selalu teringat bahwa Ayah adalah orang yang jujur. Bahkan semua orang mengakuinya.

            Namun, filosofi Retro ada benarnya juga. Mungkin Ayah berbohong karena cerita ayah terlalu berlebihan. Bahkan Ayah juga berbohong tentang Ibu yang sudah memiliki penyakit bawaan sejak 20 tahun terakhir. Dan sejak Ibu meninggalkan Dam, Dam tak ingin lagi mendengar cerita-cerita Ayah, Dam membenci Ayah karena telah tega membohonginya.

            Sampai Dam menikah dan punya anak Zas dan Qon, cerita itu masih berlanjut untuk anak-anak Dam. Ayah sering bercerita pada Zas dan Qon tentang cerita-cerita yang sama yang dulu pernah diceritakan pada Dam, Zas pernah protes dan bertanya pada Dam, apakah cerita itu nyata atau tidak? Dam hanya menjawab. “… Tidak penting lagi itu sungguhan atau bukan, Zas. Sepanjang itu menarik dan seru, anggap saja seperti film hebat yang kita tonton, tidak penting itu kisah nyata atau hanya film. Kakek boleh jadi sedang bergurau, kakek boleh jadi sedang menceritakan yang sebenarnya. Ketika kita belum tahu, tidak penting itu sungguhan atau bohong.” (Halaman194)

Dam semakin geram saat mengetahui anak-anaknya bolos sekolah karena sedang mencari tahu kebenaran cerita Ayah. Hingga akhirnya Dam mengusir Ayah dari rumah dan segalanya terungkap saat akhir novel ini. “Aku turut berduka cita, Dam. Ayah kau adalah segalanya bagi kapten tua ini. Ayah kau terlalu sederhana untuk mengakuinya.” (hal.298)

Sampai detik-detik terakhir penggalan novel ini saya terhanyut. Berusaha menyelami kata-kata yang ingin disampaikan penulis. Bukan hal yang mudah untuk seorang  penulis membuat pembacanya akan selalu terkenang pada setiap kata per kata yang ditulis. Dan, Tere-Liye telah berhasil.

Oleh: Erny Binsa

2 comments:

  1. Suka sama novel ini tak?
    Menurutmu novel ini bagaimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya suka novel ini... kau kan sudah baca pendapat saya tentang novel ini...

      Delete

Yang baca dan komentar saya doain nambah cakep... :D

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...