Sunday, 28 April 2013

Kenapa Saya Suka Jalan-jalan?


Pertanyaan aneh, kalo ditanya gitu semua orang juga suka jalan-jalan mah, refresing. Siapa yang nggak mau? Masalahnya kenapa?

Mungkin gara-gara keseringan jalan-jalan sendirian, itu pula yang menjadi alasan saya suka ke stasiun, suka sunset, suka sunrise, suka funbike, dan nyaris saya lebih milih jalan-jalan dibanding sekolah, dulu, sekarang saya mau coba atur waktu sebisa mungkin. Ada waktunya kuliah (karena sekarang udah kuliah), ada waktunya kerja, ada waktunya ibadah, ada waktunya jalan-jalan sendirian, jalan-jalan rame-rame, mendaki gunung, ke pantai, dan menulis.

Alasan saya jalan-jalanpun bukan hanya sekadar havefun, bukan sekedar jalan trus bikin postingan di blog, upload poto di jejaring social, biar temen-temen pada baca. Woi gue pernah ke tempat ini loh, gue pernah mendaki gunung diketinggian sekian loh, liat deh potonya keren-keren kan? Makanya lo pada kesana dong. Jujur, itu alasan yang dangkal banget. Yang ada justru saya akan tinggi hati dan pamer gak ada ujungnya.

Saya ingat perjalanan pertama saya naik kereta sendirian saat kelas 2 SMP, saat itu saya punya satu misi yang jarang orang tau, waktu itu saya naik kereta ekonomi dari tanah abang ke bogor. Kesan pertama adalah, bingung dan saya harus ngapain. Kereta penuh sesak saat itu, sampai di stasiun bogor saya tidak tau harus kemana. Celingak-celinguk kayak orang ilang.

Jadi saat itu ceritanya saya mau mencari seseorang, dan alamat yang saya dapat cuma satu kata. Bogor. Tanya ada embel-embel lainnya. Dan begonya, kota bogor kan gede banget, mau cari kemana coba? Toh masih di stasiunnya aja saya udah kebingungan. Saat itu, entah ada perasaan apa saya juga nggak paham, saya mulai merasa nyaman dengan kesendirian di tengah keramaian. Sendiri diantara orang-orang yang saya nggak kenal sama sekali. Entah perasaan macam apa ini. Saya suka dengan keadaan seperti ini sampai sekarang. Tapi dalam suasana tertentu.

Waktu di bogor, saya memutuskan pulang kembali ke Jakarta. Ah itu perjalanan luar biasa buat saya yang saat itu masih jadi bocah ingusan, saya sering menahan tawa kalo ingat saat-saat itu. Kok sebegitu bodohnya saya? Sejak saat itu, saya jadi sering jalan-jalan sendirian, tapi emang gak jauh-jauh, masih sekitaran Jabodetabek. Walau bagaimanapun saya ini sebenernya penakut, pengecut, gak ada berani-beraninya, cuma satu kata yang melekat dalam otak saya, saya orangnya NEKAT. Ada teman saya yang mengatakan, saya itu si Pengecut yang Nekat. Hahaha…

Sampai saat ini, saya mulai jarang jalan-jalan sendirian, biasanya bareng temen dan berencana dengan tujuan yang lebih jauh. Ah saya sebel sesuatu yang direncanain, gagal melulu. Kalo dulu saya setiap ada kesempatan selalu jalan kapan aja, gak peduli punya uang atau nggak. Sampai segede ini, saya jadi ketagihan jalan-jalan style backpacker. Alhamdulillah dikelilingin dengan teman-teman yang sehobi, seperjuangan, passion kita hampir sama, dan saya pikir kita adalah sekumpulan orang-orang yang kesepian yang tiba-tiba ngumpul dan merencakan banyak hal demi mencapai mimpi. Entahlah.

Kembali lagi ke perjalanan, Alasan pertama saya yaitu saya menemukan diri saya sendiri di setiap perjalanan, selepas melakukan perjalanan biasanya hati saya lega, plong tanpa beban, ada sesuatu yang berubah dalam diri saya, saya lebih banyak berpikir saat perjalanan terutama kalo sendirian. Dan saya merasa lebih dekat dengan sang Pencipta.

Alasan kedua, saya jadi tahu bagaimana karakter temen-temen saya, kalo kalian mau tau gimana sikap temen-temen atau pasangan kalian ajaklah seharian jalan-jalan, banyak tidak akan mengungkap karakternya, dia yang pembosan, dia yang egois, dia yang minta pulang mulu, dia yang suka menolong, ah banyak hal yang tidak terduga yang bakal terjadi.

Alasan ketiga, saya selalu mendapat pelajaran dari setiap perjalanan. Lebih tepatnya pelajaran tentang kehidupan, senyata-nyatanya dunia, saya yang nggak betahan di rumah bisa tiba-tiba kangen rumah.

Alasan keempat, berhubung saat ini saya masih sehat dan belum menikah, saya pikir inilah kesempatan saya untuk mengeksplorasi dunia luas. Hal ini yang bikin saya sadar akan kesehatan, kalo sakit saya belum tentu bisa kemana-mana. Masa-masa belum menikah ini saya pikir sebuah kesempatan buat saya, masih banyak hal yang pengen saya lakukan, saya impikan, yang ingin saya jelajahi, kalau sudah menikah nanti, beruntung suami saya nanti  juga suka jalan-jalan, kalo nggak? Ya nggak masalah buat saya, saya akan lebih banyak di rumah misalnya? Maka itu saya ingin kejar mimpi saya dulu sejak sekarang.

Alasan kelima, berbagi informasi dan inspirasi. Itulah tercipta adanya catatan-catatan perjalanan, tapi sepertinya saya belum cukup menginspirasi, maka itu informasi-informasi yang saya tahu selepas perjalanan saya tulis di jejaring sosial, bukan bermaksud pamer ya temen-temen, saya menganggap itu sebagai kenang-kenangan yang suatu saat biasa saya baca ulang, sebagai jurnal kehidupan saya di masa yang akan datang. J

Jadi, mungkin ada beberapa temen yang mengatakan: Jalan-jalan mulu lo, banyak duit ya?  Atau seneng-seneng mulu lo. Loncat sini loncat sana gak ada capeknya, sabtu minggu tuh waktunya istirahat kali.

Itu alasannya kenapa saya suka jalan-jalan. Makasih ya temen-temen udah mau baca dan bertahan sampai ending.



Salam


Erny Binsa



Monday, 22 April 2013

Kau Tahu Bagaimana Rasanya Menjadi Robot?


Bismillahir rahmaanir rahiim...


Ketika hal yang kebanyakan orang menolak tetapi kau tidak bisa, kau patuh, kau nurut, kau tidak punya alasan untuk mengeluh, kau tidak bisa menuntut macam-macam, kau tidak pernah bisa protes, kau diam seribu bahasa. Tidak peduli seberapa sulit yang akan kau lakukan.

Kau tahu robot, kan? Benda ciptaan manusia yang sengaja diprogram untuk membantu kegiatannya. Robot bisa melakukan apapun, ia akan melakukan apa yang kau inginkan, tanpa lelah, tanpa harus ngedumel, tanpa rasa capek, tanpa lelah, kalau baterainya habis tinggal diganti dan lanjutkan pekerjaan, selesai.

Tapi, robot kan tidak punya hati!

Kalau saja ia memiliki perasaan seperti manusia, sudah barang tentu ia akan tahu rasanya menjadi manusia yang bertingkah menyerupai dirinya. Dalam kehidupan sehari-hari terkadang kita terjebak dalam keadaan yang memaksa kita berperilaku seperti robot.

Berarti hebat dong, robot itu kan super canggih?

Secanggih apapun robot, meskipun ia sudah diprogram sedemikian rupa dan dibuat tersenyum sepanjang masa, tetap saja robot tetap robot. 
Tidak pernah tahu rasanya hancur meski tubuhnya dihancurleburkan sekalipun, tidak pernah tahu rasanya sakit meski diinjak-injak atau dilempar, ia akan tetap bekerja. Berbeda dengan manusia, ketika ia sudah lelah atau bahkan hancur terkadang senyumannya menipu, karena perasaannya jauh lebih peka dibanding robot. Eh bukannya robot itu tidak punya perasaan?

Sudahlah, meskipun dunia memaksamu menjadi robot ada saatnya semua akan berakhir. Pada waktunya semua akan indah bukan?
Sekedar tulisan pelipur lara dan banyak tanda tanya dalam catatan ini -_-



Erny Binsa 

Monday, 15 April 2013

Enam Derajat Keterpisahan dan Tiga Derajat Pengaruh


Bismillahir rahmaanir rahiim.

Revisi tulisan lama, baca tulisan ini kudu fokus biar paham, saya kebetulan lagi iseng-iseng baca demi mengundang mood menulis saya. Trus saya iseng baca tentang teori Enam Derajat Keterpisahan dan Tiga Derajat Pengaruh. Buat saya ini menarik banget, makanya saya pengen bagi-bagi cerita ke temen-temen, mungkin ada yang ikutan tertarik nantinya, atau malah udah tahu jalan ceritanya? Yah, gak seru dong catatan saya :D


Apa sih Enam Derajat Keterpisahan itu?

Maksudnya begini bahwa setiap orang bisa terhubung ke orang lain di seluruh dunia melalui Enam orang, dimulai dari orang yang paling kita kenal. Percaya gak?
Jadi, menurut Stanley Milgram. Kenal gak kalian? Saya juga gak kenal :p intinya beliau ini melakukan percobaan tentang Enam derajat keterpisahan tersebut.

Konsepnya begini: Kamu dan teman kamu, itu terpisah satu derajat. Temennya temen kamu , itu terpisah dua derajat dari kamu. Temennya temennya temen kamu, itu terpisah tiga derajat dari kamu. Temennya temennya temennya temen kamu, itu terpisah empat derajat dari kamu. Dan begitulah seterusnya

Nah percobaan ini dilakukan untuk mengukur. (Mengukur apa coba?) Ya mengukur, sebenarnya kita itu terpisah berapa derajat sih sama orang-orang di luar sana yang nggak kita kenal? Lucu kali ya, kali aja saya juga bisa mengukur antara saya dan Dude Herlino itu terpisah berapa derajat :p


Bagaimana Caranya?

Saya juga nggak paham kenapa Stanley Milgram itu segitu isengnya  melakukan percobaan ini. Karena percobaan ini dilakukan tahun 60-an trus belum ada email, boro-boro fesbuk. Maka percobaan ini dilakukan menggunakan surat, ceile... Stanley Milgram  romantis banget. Ia memberikan beberapa surat kepada orang-orang di Nebraska untuk disampaikan ke pebisnis di Boston. Jarak antara Nebraskan-Boston itu jauh dan tentunya mereka tidak saling mengenal. Orang yang menerima surat itu, harus menyampaikannya pada orang yang dia kenal secara pribadi. Seperti halnya kita minta tolong biar suratnya disampein gitu. Kerennya, jumlah lompatan yang diperlukan untuk menyampaikan surat itu hanya enam. Jadi, hanya butuh Enam orang yang saling mengenal dan terhubung untuk membuat kamu bisa mencapai orang yang tidak kamu kenal di luar sana. Subhanallah ya, Sesuatu.


Trus, gue harus percaya gitu sama Lo. Apa gue harus bilang Wow?

Tentu saja jangan percaya sama saya, karena saya bukan siapa-siapa. Kalaupun ada yang mau bilang wow juga silahkan saja kok. Tak di larang. :D
Nah, percobaan ini diulangi sekali lagi pada tahun 2002 oleh seorang ahli fisika yang punya nama  Duncan Watts. Bedanya, karena tahun itu udah zaman globalisasi  maka percobaannya pakai email dong. Email tersebut harus disampaikan ke orang-orang tertentu di seluruh dunia.  Dan hasilnya, memang benar hanya membutuhkan Enam derajat keterpisahan saja. Anyway, dunia itu kecil banget ya... :D


Kasih contoh dong!

Hm... Jadi begini, seperti awal yang sudah saya tulis. Misalnya saya pingin ngirim surat ke Dude Herlino. Maka saya minta bantuan temen saya buat nganter surat tersebut, apa temen saya langsung nganter ke Dude? Ya, nggaklah. Saya aja nggak kenal masa temen saya kenal, gak rela. Secara pribadi saya sama Dude itu kan gak saling kenal, tapi kalo dia mungkin kenal sama saya... wkwkwk
Nah, Saya kasih surat tersebut ke temen saya, lalu temen saya kasih surat itu ke temennya lagi yang kira-kira surat ini bakalan sampe. Terus temennya temen saya kasih surat itu lagi ke temennya lagi. Begitu selanjutnya, meskipun saya nggak tahu surat itu sampai atau nggak yaaa...? Belum pernah nyoba, tapi jujur penasaran.


Lalu maksudnya 3 Derajat pengaruh itu apa?

Kita bisa mempengaruhi orang lain sampai pada tiga derajat keterpisahan. Meskipun kita dan orang-orang lainnya di luar sana hanya terpisah enam derajat keterpisahan. Ngerti?  *geleng-geleng*
Intinya penyebaran pengaruh kita tidak bisa menjalar langsung enam derajat, hanya sebatas tiga derajat. Misalnya, Saya mempengaruhi teman saya, temannya teman saya, dan temannya temannya teman saya. Aduh kok saya pusing...


Pengaruh yang pegimana dulu nih?
Ya banyak, pengaruh baik atau buruk yang kira-kira bisa menyebar. Makanya hati-hati, jangan sampai menyebar pengaruh buruk.


Gue masih belum paham -_-
Begini aja, saya kasih contoh. Pernah ada suatu waktu kita ketemu sama temen kita, nah temen kita itu lagi badmood.  Sadar atau nggak sadar, temen kita itu mempengaruhi mood kita juga, kita bisa tiba-tiba nggak bahagia pas melihat muka juteknya, jadi males ngapa-ngapain, maunya tidur aja :D

Maka dari itu menurut teori sotoy saya. Kalau kita jelek (Hah kita?) Yaudah lo aja deh. Kalau kamu jelek, eh di dunia ini mah gak ada orang jelek. Kita perhalus kata Jelek dengan ‘Kurang Kece’ Oke?

Saya ulangi lagi: kalau kita tipe orang dengan muka kurang kece, tapi semangat kita tinggi, kita senang tersenyum sama orang, ramah tamah, berteman sama siapa saja dan senantiasa menyebarkan virus positif ke temen kita, itu jauh lebih baik daripada orang yang ditakdirkan hidup dengan muka kece tapi yang ditampilin raut muka nggak bersahabat, jarang senyum, jutek, matanya kayak mau nelen orang, dan lain-lain. Peace...

Karena setiap orang menilai diri kita atas apa yang dia lihat, kalau mereka lihat orang cantik tapi nyebelinnya setengah mati, mau gak mau cakepnya jadi ilang. Begitu pula sebaliknya, gak selamanya gak kece itu adalah sebuah bencana, toh ketika masih bisa memberikan hal yang baik untuk orang lain, kenapa nggak?
Bukankah Allah tidak memandang kecantikanmu atau kekayaan pada dirimu, tetapi Allah melihat hatimu. Jadi, yang paling penting itu adalah akhlak.
*tsahh... Ustad Jefri lewat* :D


Tapi nggak selamanya hidup ini senang-senang aja, ada kalanya manusia juga sedih kan? Orang cakep juga bisa sedih tau!

Betul banget, saya setuju. Dan ini bukan masalah cakep atau nggaknya seseorang. Ini berlaku untuk semua orang. Emang ada di dunia ini orang yang gak pernah sedih? Orang yang gak punya masalah? Gak ada! Saya nggak yakin ada orang yang kondisi hatinya oke terus, kelihatan seperti gak pernah ngerasa bete, pasti adalah hal yang membuat dia bete. Tapi, mungkin masih ada di belahan bumi ini orang yang pandai menyimpan kesedihan dan kebeteannya. Ibarat kata pepatah “Dalam laut bisa dikira, dalam hati siapa tau?” dan ibarat pepatah lainnya yang isinya: don’t judge a book by the cover artinya, jangan menaruh buku di dalam koper. *ditimpuk pembaca*

Sadar nggak sadar, saya juga pernah ada di posisi itu. Saya yang tiba-tiba diam, tak banyak komentar, lagi banyak masalah inilah itulah. Dan gak tau kenapa pas ketemu teman atau keluarga atau siapapun bawaannya males banget. Apalagi kalo suasana hati lagi gak beres dan dihadapkan lagi sama orang yang sama-sama punya suasana hati yang sama. Tau gak sih? Ternyata susah banget menghibur disaat kita lagi butuh dihibur. Kondisinya sama, kalau udah kayak begini ya diam adalah solusi. lama-lama juga goodmood lagi dengan sendirinya.


Betewe tulisan lo kok jadi kemana-mana ya?

Oh menurutmu begitu ya? Saya juga bingung. Dari pada saya menularkan virus kebingungan lebih baik saya akhiri saya sampai di sini. Semoga bisa membawa pengaruh yang baik buat yang baca, temennya yang baca, dan temennya temennya yang baca. Nah loh, kan tiga derajat toh? Saya pamit...


Tunggu bentar, trus ada saran gak?

Hm... *Mikir*

Saran saya sih, ya itu tadi. Selama kita bisa menyebarkan pengaruh positif ke orang lain maka itu bisa jadi nilai plus buat kita, ya gak sih? Atau malah saya aja yang sok tau nih! Kalopun ada yang mau ngasih pengaruh negatif juga gak apa-apa selama masih dalam tahap wajar dan terkendali. Seperti Pak Mario teguh, siapa yang tahu kalo beliau pasti pernah merasa bete, tapi sikap bijaknya itu yang membuat dia keliatan happy terus sepanjang hari. Sehingga pengaruh beliau untuk orang lain banyakan positifnya. Oke kan? Eh harusnya mah yang kasih saran yang baca!
Udah ah... Akhirul Kalam....

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarakaatuh...



Erny Binsa

Dambaku di 17 September (Cerpen)

Bila ada satu nama ku rindu
Selalu sebutkan namamu
Seperti bintang indah matamu
Andaikan sinarnya untuk aku
Seperti ombak debar jantungku
Menanti jawabanmu…

            Kau tahu, ini adalah salah satu yang lagu yang mewakili perasaan aku saat ini. Sekarang aku mengerti bahwa acap kali aku terpaku diam dan hanya memendam rindu dalam kalbu yang masih menyimpan luka itu, luka yang sudah pernah infeksi. Hanya saja kau memberikan aku harapan, membuatkan aku obat mujarab yang seketika mengembalikan kembali serpihan jundi-jundi hati pada tempatnya, seperti dahulu saat pertama kali aku mengenal kau,
            Aku tak pernah sekalipun berpikir akan senekat ini, karena aku hanya lelaki lembut, katanya. Kau tentu tahu, kan, bahwa kata lelaki lembut adalah sebuah sindiran untukku yang pendiam. Jika mengingat hal itu aku seperti tak pernah bisa lepas dari bayang-bayang itu sama sekali, karena sudah melekat kental di otakku.

5 Juli 2006
            Aku kembali mengeja ulang setiap waktu yang berlalu. Kau masih ingat saat senja mulai menampakkan aroma jingga, hanya ada aku dan kau, Vi yang masih terpaku menatap langit, menanti pulang, akibat hukuman senior saat masa orientasi, mungkin kau sudah lupa, maka biar aku yang mengenang semuanya.
            Saat itu kau hanya diam, menolehpun tidak. Sedangkan aku, hanya menunduk tanpa berani menatap, jangankan menatap melirik sedetik ke arah kau saja aku tak sanggup. Aku merasakan melodi-melodi cinta yang mendera saat itu, meski belum melihat kau seutuhnya aku berani mengatakan bahwa itu pertama kali aku merasakannya. Ya, sepertinya ini Cinta. Meskipun begitu banyak pertanyaan yang menumpuk di kepala, aku tetap belum menemukan jawaban yang pasti. Kau masih belum bisa terjamah.
            Kita hanya berdua, Vi. Di lapangan terbuka saat awal perjumpaan kita. Hahaha… ironisnya saat itu aku dan kau sama-sama sedang dikerjai senior. Mungkin aku harus menyampaikan beribu terimakasih pada senior yang menghukum kita. Dan bahkan aku berharap akan ada hukuman lainnya, asal bersama kau, Vi.

10 Juni 2006
            Di halte bus pagi itu, aku mencari jejak kau, Vi. yang kutemukan hanyalah bulir-bulir hujan yang menetes satu persatu dengan melodi indah rintik-rintiknya membuat aku semakin memikirkan kau, mengapa kau tak juga hadir. hingga aku menunggu beberapa saat.
            “Akhirnya kita bertemu juga, Vi. Ini adalah saat yang kutunggu.” Suara batinku. Aku melihat kau menapakkan kaki saat turun dari bus 502 arah tanah abang-ciputat, melihat kau yang basah, lalu kau berdiri tepat di sebelahku yang mulai kaku, urat sarafku seakan tak lagi berfungsi saat kau datang. Nyatanya lagi dan lagi aku hanya membisu.
            “Ya Tuhan, aku tak ingin hujan kali ini cepat selesai. Izinkan aku berlama-lama dengannya di sini.”
            Dan kau tahu? Tuhan benar-benar mengabulkan. Hanya saja kau yang begitu cepat berlalu. Seorang lelaki dengan paras yang bisa dibilang lebih baik daripadaku juga memakai putih abu-abu, tiba-tiba saja datang menjadi pengacau. Mengambil posisi di sebelahmu dan meregangkan sebuah payung di atas kepalanya dan kau, Vi. Lalu kau melangkah dengan gerakan yang pasti, semakin menghilang dari sorotan mataku. Aku hanya bisa tunduk pada kepasrahan.

17 September 2007
            Cinta ini semakin membukit, memenuhi rongga hatiku yang sudah terdesak minta dikeluarkan. Tapi bagaimana? maksudku bagaimana caranya? Kau tahu Vi, aku masih sangat ingat tentang hari ini. Kau memberikanku bahagia tak terkira, kejutan yang tak pernah aku sangka-sangka.
            Kau menemuiku untuk pertama kalinya sejak setahun kita kenal. Perpustakaan sekolah yang peminatnya kurang dari sepuluh orang saja tiap harinya. Ketika aku menyusuri buku demi buku di lorong perpustakaan, kau menjelma nyata di hadapanku. Ini memang benar-benar kenyataan. Kau memberikan senyuman terindahmu untukku.
            Lalu kau menyerahkan padaku secarik surat merah jambu, kau tahu apa yang aku pikirkan saat itu? Ah… kebahagiaan yang tak terkira. Bahkan saat berhadapan denganmu barang sebentar saja sudah memberikan kebahagiaan sempurna buatku. Tapi surat merah jambu ini, apa maksudnya?
            Hatiku sudah terlebih dulu mengulum senyuman sebelum kau benar-benar berkisah tentang apa maksudnya surat itu. sedetik kemudian kau hanya menyampaikan sebaris kata.
            “Dit, tolong aku, titip surat ini untuk Zaldi ya, makasih.”
            Jegeerrrr…!!!
Vi, kau tau perasaaanku saat itu? Akan aku jelaskan bahwa saat ini, pada hari ini untuk pertama kalinya aku merasakan patah dan hancur hingga ke akar-akarnya. Padahal kau hanya berbicara sepuluh kata saja padaku tapi nyaris membuat jantungku berhenti berdetak, terlalu dalam. Aku tak pernah siap dengan keadaan seperti ini.
Kau sudah tahu kan, bahwa aku jatuh terkapar hanya karena peristiwa sesederhana ini, sungguh mengenal kau, Vi. Mungkin aku hanya bisa menyendiri dalam semu. Banyak hal yang membuat puzzle hati yang ku bangun seketika berantakan.

19 Februari 2008
            Aku masih setia, menunggu detik-detik kabar yang entah baik atau buruk yang pasti akan aku sampaikan, meski menunggu waktu hingga aku benar-benar siap. Kau tahu Vi, sejak kejadian bulan September tahun lalu, aku semakin takut, galau. labil, dengan apa yang akan aku dapatkan dikemudian hari. Tapi aku tak pernah alergi untuk tetap mencintai kau, Vi. Sebab darimu aku mengenal sebuah cinta, kesetiaan, dan keikhlasan hati.
            mengumpulkan kembali satu demi satu benih-benih cinta yang berjatuhan. Aku masih juga menyimpan rindu yang hanya ku alamatkan pada singgasana hatimu, Vi. Semoga aku bisa mengungkap semuanya padamu, suatu saat nanti.

17 September 2010
            Hahaha… setelah bertahun-tahun aku baru yakin akan membicarakan semuanya pada kau, Vi. tentang perasaanku. ditanggal yang sama saat kau menemuiku dan memberiku surat merah jambu yang nyatanya bukan untukku. detik pertama aku merasa patah, hingga bertahun memulihkannya agar sembuh total, seperti sedia kala. aku bertandang ke rumahmu, melangkahkan kaki dengan gontai, aku sudah hafal benar bagiamana sususan rumahmu dari halaman depan hingga ke belakangan. Pengintaianku yang tak pernah kau tahu selama ini, saat gerimis aku pernah melihat kau terpaku di jendela menatap rintik hujan dengan seksama, aku rindu suasana seperti itu.
            kau terkejut melihat kedatanganku yang tiba-tiba, dengan setangkai mawar putih kesukaanmu yang sengaja aku bawa buat kau, Vi.
            “Aku hanya lelaki sederhana, Vi, yang pandai menyimpan cinta. Tapi kini aku sungguh tak sanggup lagi memendam semuanya sendirian.” kataku.
            “Maksudmu?”
            “Kau pasti tahu persis apa maksudku, saat kau jauh aku selalu rindu, apalagi namanya kalau bukan cinta, Aku mencintai kau, Vi,” tiba-tiba aku tertunduk, kau  terisak entah karena apa. Tak lama kau bilang bahwa kau butuh waktu untuk menyelami segalanya, untuk mengerti dan berfikir. baiklah, aku akan setia menunggu.

17 September 2011
            Tepat hari ini, tepat saat aku mendengar lagu seperti bintangnya yovie and Nuno. hari ini pula kau berjanji akan memberikan sebuah keputusan besar selama hidupmu. Setahun setelah aku merasa lebih lega, bebas, tenang. dan hari ini aku kembali berharap, meski yang aku yakini kau selalu menjauh dariku setahun belakangan. Dan sekarang saatnya aku menagih janjimu.
            “Apa sudah kau pikirkan matang-matang, Vi?” tanyaku, kau hanya terdiam. “Apa yang ingin kau katakan?” kau menatap sejenak ke arahku dan kembali menundukkan wajah.
            “Dit, sebenarnya aku sudah cukup sabar saat awal aku mengenal sebuah cinta, hanya saja kau yang tak pernah mengerti.”
            “Apa yang tidak aku mengerti, Vi?”
            “Kau tentu masih ingat saat kita bersama bersebelahan di halte bus ditemani bias-bias hujan, kau hanya diam. Hingga seseorang yang membawaku pergi dari tempat itu, lalu apa yang kau lakukan? padahal aku sangat berharap ada sebuah kata-kata yang mengalir darimu untukku,” aku membisu mendengar deruan suara kau, Vi. Hingga belum sempat terjawab kau yang lagi-lagi berbicara. “Kau juga pasti masih ingat kan tentang surat merah jambu? Surat yang aku titipkan untuk Zaldi, dan apa yang kau lakukan? kau tidak cemburu, kan? kalau iya, kenapa pula kau menanggapinya sambil tersenyum mengiyakan? tanpa basa-basi lainnya. Hingga September tahun lalu kau baru menemuiku tuk pertama kali, aku senang sekali, hanya saja aku masih berusaha menyakini diriku bahwa kau memang benar-benar mencintaiku,” ucap kau, Vi. “Kau tau, Dit. Wanita itu butuh kepastian.”
            Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? sebenarnya aku yang tak mengerti atau dia yang tidak mengerti?aku memang bersalah dalam hal ini. Bersalah karena cinta atau bersalah karena tak mengungkapkannya sekian lama. Ah, mungkin dua-duanya.
            “Baiklah, aku yang terlalu lemah dalam hal ini. Aku sangat menyesal, andai saja aku tahu sejak awal tentunya tak akan seperti ini jadinya. Apa lagi yang kau inginkan dariku, Vi? aku hanya berharap jika akhir pada kisah ini selesai dengan happy ending meski kau menolakku sekalipun. Setidaknya aku tahu kau memiliki perasaan yang sama selama ini. Itu sungguh sudah lebih dari cukup. Maafkan aku, Vi,” Aku meninggalkan kau sendiri. Langkah yang lunglai mulai tertatih pergi. selangkah, dua langkah, tiga langkah.
            “Dit,” aku menoleh. “Aku ingin bukti kesetiaanmu, datang lagi padaku setahun kemudian, tepat tanggal 17 september. Aku tunggu kau di rumah bersama keluargaku,” Aku tersenyum.
            “Maksudmu?” Aku tertawa lebar. Menatap matamu juga bibirmu yang tersenyum.
            “Kau sudah mengerti apa maksudku, kan?” Tanya kau, lalu giliran kau yang pergi meninggalkanku, di sini. menyisakan rasa bahagia yang sangat. Aku berlari sejadi-jadinya. melanglang riang ditemani hujan pertama di bulan September.


 Erny Binsa
Jakarta, 19 September 2011
(ini salah satu cerpen saya yang dibuat dua tahun yang lalu, boleh dong minta kritik sarannya... :)

Wednesday, 10 April 2013

Selamat Datang di Palembang (2)

Melanjutkan kisah ini (klik di sini), setelah ngebolang ke Ampera dan Masjid Agung Palembang. Kami ke Pulau Kemaro. orang Palembang udah gak asing lagi kali sama pulau ini. Sebelumnya kita kudu nyewa perahu buat nyebrang ke Pulaunya, wah asik naik perahu, setelah sesi tawar menawar akhirnya kita berangkat, kayaknya dibayarin lagi deh pikir saya, eh ternyata bener, baik banget ya si Om, udah gitu mahal nyewa perahu sampe 170 ribu untuk 10 orang. Trus lagi asik-asiknya main air diatas perahu tau-tau udah sampe aja di pulau kemaro, ya ampun gak sampe 5 menit masa udah sampe sih, mending berenang aja kalo gitu, kayaknya abangnya ngerjain kita deh, eh maksudnya ngerjain si Om, ongkosnya dimahalin.


SELAMAT DATANG DI PULAU KEMARO

Wah tempatnya luar biasa, berasa di luar negeri, temen-temen pada rempong banget.
“Ayo poto-poto, nanti kalo ditanya bilang aja kita lagi ada di Beijing.”

“Siapa juga yang mau percaya.”

“Eh makanya liat dong, suasananya mirip di Beijing, mereka pasti percaya.”

“Iya percaya, percaya kalo lu boong.”

Meskipun ini adanya di Palembang emang sekilas mirip kayak di china, ada klenteng-klentengnya, duh pokoknya luar biasalah, ternyata Palembang gak kalah kok sama negeri china, daripada jauh-jauh ke Beijing mending ke Palembang aja, ke pulau kemaro negeri kita sendiri.
Nah kan, emang bener mirip kan? Cuma objeknya aja yang gak mirip, hahaha

Ini mah poto emang kepengen eksis...

Masih di Pulau kemaro, Palembang

Sejarah Pulau Kemaro, kalo penasaran cari aja di google. wkwk

Ada naga-naganya

Cemen, kalah tinggi...

Patung apa ini yaa? saya juga gak paham...

Gue sebarin ini foto-foto biar yang liat bosen...

Cuma bisa moto dari depan, gak bisa masuk kedalem nih, dikunci masa

di poto kali ini, jadi inget film sun go kong, ada patungnya. Trus lengkap ada guru, pat kay, tong san cong, dewi Quan in. Huaaa jadi kangen pengen nonton kera sakti.

Jangan dipikir ini laut atau danau, ini tuh sungai, sungai musi...

Ah, baju kuning penganggu -_-

Cari pasir buat oleh-oleh di jakarta, aneh memang anak ini

Pintu masuk pulau kemaro

Hampir satu jam lebih kita disana, niatnya lagi nunggu teman yang kita ajak ketemuan di pulau kemaro. Tapi kata Tante,

“Bilang sama temennya jangan lama-lama kita mau berangkat lagi ini,” duh, mau berangkat? Tapi kan belum puas eksplorasi, temennya juga masih rada jauh. Tapi, yasudahlah kita pergi meninggalkan pulau kemaro, udah dianterin dan dibayarin masa mau protes.

Kami kembali nyebrang pulau yang jaraknya gak sampe 5menit itu, dan berangkat lagi mencari Masjid di pinggir jalan. Setelah itu ke Jaka Baring, awalnya saya juga sempet bingung, kita mau ke rumahnya si Jaka? Jaka itu siapa? Kenal aja nggak, masa kita mau kesana.


SELAMAT DATANG DI GELORA SRIWIJAYA

Sekitar jam 3 sore kita sampai di Jaka Baring, ternyata apa yang saya pikirin gak sesuai sama kenyataannya, si Jaka yang saya pikir nama orang itu ternyata sebuah tempat yang keren, kalo di Jakarta ada Gelora Bung Karno nah di Palembang ada Gelora Sriwijaya, hamper mirip-mirip sih kayak di Jakarta, tapi menurut saya lebih keren di Palembang, ada danaunya dan tempatnya bersih.

Sebelum masuk ke geloranya kita makan mpek-mpek di pinggir danau Jaka Baring, cara makannya juga beda, dicocol-cocol ke bumbunya dan mpek-mpeknya gak digoreng cuma direbus doang, kalo yang biasa saya makan di Jakarta kan beda biasanya digoreng dulu trus diguyur bumbunya dalam satu tempat nggak lupa pake ketimun.

Jaka Baring, its cool...

 Gak nyesel, pernah menginjakkan kaki ke sini...

 Entah gaya apaan, terserah deh, suka-suka

 Kayak lagi nari apa gitu, aneh ih...

 Lebih dekat dengan Gelora Sriwijaya

 di dalam gelora sriwijaya, bayar goceng masuknya.

 di belakang ada patung entah apa namanya, merusak pemandangan :D

duduk di lapangan gelora

Motonya niat banget, gak gitu-gitu juga kali..

Pulaaang...

Setelah asik muter-muter danau kami menuju geloranya, tempat di mana pernah dilaksanain sea games se asia. Di sana kita juga nggak bisa lama-lama, waktu mencar ke geloranya Om sama anak-anaknya nungguin di mobil, kita ditelponin terus suruh kembali ke mobil. Hm…
Jadi ceritanya pas saya udah sampe di Jakarta, saya sempet nonton tivi pertandingan bola live antara Persija vs Sriwijaya dan tandingnya di Gelora Sriwijaya, saya langsung rempong sendiri sama orang rumah.

“Eh eh kemaren gue kesana tau, gue masuk ke geloranya, itu gelora tempat mereka lagi pada main bola,”

“Trus kenapa?”

“Ya nggak apa-apa, cuma mau ngasih tau doang,”

“Begitu aja bangga.”

“Ya Harus bangga dong! Soalnya kan disana kaki gue pernah keseleo tau, trus gue juga udah ngiterin lapangan itu, guling-guling disana, trus…”

#suarangorok#

Sial!


SELAMAT DATANG DI RUMAH SODARANYA KAKEK DAN PITA

Jam 5 lewat dikit kita udah kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan ke rumah saudaranya si kakek dan pita di daerah Palembang pokoknya. Dalam hati sih pengennya ke Ampera… Huhuhuhu….

Sampai di sana ternyata sambutannya hangat banget, trus di kasih mpek mpek asli Palembang yang enak banget, Cuma dalam hitungan menit itu mpek-mpek satu piring gede udah habis, tapi masih kurang, gak tau diri banget ya? Emang!

Selepas magriban di sana kita dikasih makan, wuih mantep banget ya. Hari itu di Palembang saya gak ngeluarin uang sepeserpun untuk beli makanan kecuali beli es doang.

Setelah dari sini kita niatnya mau langsung beli tiket kereta ekonomi ke Lampung buat besok pagi, Kakek menyampaikan niatnya sama Om dan Tante.

“Aku mau ke indomart tante, mau pesen tiket kereta.”

“Emang kapan mau pulang?”

“Besok pagi.”

“Hah Gila kamu! Masa baru datang udah mau pulang… bla bla bla…”
Hahaha, saya cekikikan, temen-temen juga gitu. Abis mau gimana lagi?

 Jadi, setelah makan temen-temen pengen beli oleh-oleh sama mau ngeliat Jembatan Ampera di malam hari.

Kita dianterin terlebih dahulu cari souvenir, sebenernya saya gak begitu minat beli ini itu, makanya setiap perjalanan saya jarang banget bawa apa-apa ke rumah, Kenapa? Gak punya duit ya? Iya, kok tau? saya cuma liatin temen-temen milih-milih souvenir, milih baju, udah gitu tokonya tinggal satu doang yang buka, jadi gak bisa milih apa-apa. Tapi, daripada gak beli apa-apa akhirnya saya beli aja gantungan kunci buat temen di Jakarta.

Setelah itu kami langsung ke Ampera di malam hari.. 
Ampera di malam hari lebih terlihat wahhhh dibanding pagi, berasa di Palembang..

Ah, sayangnya gak bisa lama-lama di sana... :(

Akhirnya kesampaian juga,  Niatnya lagi selama di mobil Mbah Lina sama Lisfa mau beli souvenir lagi di Ampera, kebetulan emang rame banget di sana banyak toko souvenirnya, saya mah ngikut aja, pas jalan keliatan si Tante.

“Mau kemana?”

“Em… Mau kesana dulu tante sebentar,”

“Mau ngapain?”

“Liat-liat souvenir tante, sebentar,  nanti balik lagi ke sini.”

“Gak boleh, udah di sini aja.”

“Tapi, tante…”

“Udah, di sini tuh rawan. Banyak pencopetnya.”
Kita nurut. Ada baiknya juga omongan tante, lagipula kita belum pernah datang ke tempat ini sebelumnya. Semakin malam ampera semakin ramai aja. gak sampe setengah jam kita disana, sedih yaaa...

Dari Ampera kami langsung pulang ke rumah tante, numpang mandi, trus tepaaaar berhubung besok pagi-pagi kita harus ke stasiun.
Stasiun Tanjung Karang, Palembang. Kalo gak salah

Nah, kawan-kawan… Perjalanan kali ini emang berbeda sama perjalanan lainnya. Saya gak ngerasa sebagai backpacker di sana, lebih ke jalan-jalan keluarga, begitu juga pendapat temen-temen yang ikut.

Perbedaannya:
Backpacking Sendiri/teman-teman
Bareng Sodaranya Kakek/Pita
Mahal biaya ongkos bulak-balik Palembang, belum lagi kalo nyasar
Gak pake ngongkos, semua perjalanan hari itu gratis.
Harus beli makan di luar
Makan Gratis
Puas Dokumentasi dan eksplorasi
Gak bisa lama-lama
Bisa milih destination sesuka hari
Ngikut aja, kemanapun mobil membawa kita
Bebas kemanapun
Ikuti aturannya, kan yang tau Palembang dan tau jalan.

Intinya sih setiap perjalanan pasti ada kekurangan dan kelebihannya, walaupun begitu makasih banget buat Om dan Tante yang udah ngasih kita tumpangan gratis, makan gratis dan udah nganter seharian penuh. Maafkan kami yang tiba-tiba datang ngerepotin :D


di atas kereta ekonomi menuju lampung.

ini di poto di pintu kereta yang lagi melaju, gak ditutup namanya juga kereta ekomoni. Seruuuuu...

Pesan Moral perjalanan kali ini cuma satu. Setiap perjalanan selalu butuh kesabaran. Sampai ketemu di perjalanan berikutnya.

Salam 


Erny Binsa

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...