Friday, 21 September 2012

ABSURD

Erny    : Kenapa kau masih di sini?

Binsa   : Menunggu tukang cincau lewat

Erny    : Kau harus pergi!

Binsa   : Makasih, aku udah kenyang kok. Tadi udah makan.

Erny    : Kemarin aku nyasar lagi

Binsa   : Ternyata kucing-kucing itu lucu juga ya? Lihat deh!

Erny    : Perselisihan makin sering terjadi

Binsa   : Oh jadi kau yang mengambil kacamataku? ngaku!

Erny    : Dia terlalu baik untuk aku tinggalkan

Binsa   : Ih, kalo makan nggak boleh ngomong! Muncrat tau!

Erny    : Nggak ada maksud apa-apa kok, lagi iseng aja.

Binsa   : Eh pengalaman itu lebih berharga daripada duit, tahu!

Erny    : Lagian kerjaannya ngerecokin hidup orang aja

Binsa   : Tenang, tenang. Ntar juga akan aku sisakan untukmu. Maunya 
berapa kilo?

Erny    : Keterpurukan ini sangat menyebalkan.

Binsa   : Yaudah besok datang aja, kita sama-sama buat PR ya?

Erny    : Kalau udah emosi, otaknya suka nggak jalan. Asal tahu aja.

Binsa   : Ih mata kamu belekan tuh!

Erny    : Feelingku sih bilang gitu. Kalau ternyata dia…

Binsa   : Yaelah dandanannya menor banget tuh orang

Erny    : Aku merasa lebih tenang

Binsa   : Mana piringnya? udah diminta tuh sama orangnya.

Erny    : Tetap bertahan

Binsa   : Resepnya gampang, cari aja di buku masakan.

Erny    : Begini nih nasipnya kalau menganggu singa lapar

Binsa   : Terus terang. Aku tuh tersanjung banget

Erny    : Hidup ini nggak selamanya senang

Binsa   : Dasar tidak berperikemanusiaan!

Erny    : Serasa buang-buang umur aja

Binsa   : Kita pulang yuk? Hari sudah malam.



 

%&*^*$&$&%*^(%&$%*%%$%*^

H.U.J.A.N

Bismillahir rahmaanir rahiim...

Hujan, saya suka hujan. Alasan pertama yang sangat sederhana adalah karena hujan memiliki lima huruf, lima itu angka ganjil dan saya suka.

Saya senang ditemani hujan. Meski akan menjerit ketakutan jika terdengar suara petir, saya pernah bertanya-tanya mengapa Tuhan menciptakan petir disaat hujan turun? Saya begitu tidak mengerti. Dan ketika petir itu mulai menggelegar di ujung langit, yang saya butuhkan hanyalah bantal untuk menutup muka atau genggaman tangan Emak yang hangat.

Katanya, saat hujan banyak orang yang 'RINDU'. Mungkin bisa jadi benar, sebab setiap hujan saya sering menatap lewat jendela kaca yang berembun dan mengingat orang-orang yang sedang saya rindu bahkan sampai menitik airmata. Dan barangkali satu rindu ciptaan Opick juga terinspirasi karena hujan, hujan yang mengingatkannya tentang satu rindu. Ibu.

Sejak kecil saya memang sudah menyukai hujan, meski hujan sama sekali tidak mengerti saat atap rumah saya bocor dan banjir. Saya tidak peduli, sebab saya hanya ingin ketenangan saat hujan turun.
Dan hal yang paling saya suka saat hujan adalah mandi hujan lalu menengadahkan wajah saya ke langit, benar-benar suasana yang indah. Tapi itu dulu, karena tidak jarang Ayah saya menjewer telinga saya kencang sekali karena ketahuan mandi hujan. Hanya satu alasannya:”Nanti kau sakit.” Meski berkali-kali mendapat hukuman karena melanggar. Namun saya tidak pernah kapok untuk melakukannya lagi dan lagi.

Kadang saya merasa hujan adalah sahabat saya, ia seakan mengerti keadaan saya ketika tengah sedih atau rindu, sebagai refleksi jiwa dan gerak hati. Suasana yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Begitu banyak kenangan yang tak bisa saya lupakan saat hujan, tentang kisah masa kecil bersama teman-teman yang berlomba menangkap katak di kampus Binus dekat rumah dan tak akan pulang sebelum diusir satpam di Binus. Teman-teman tak jarang menertawai saya saat saya berlari kencang karena ada petir, gara-gara hal itu saya jadi memiliki julukan 'JEGER'. Bahkan beberapa teman saya masih saja memanggil saya dengan julukan tersebut, sampai sekarang. Hehe...

Dan kau tahu? Hari ini hujan. dan membuat kaget orang rumah karena datangnya tanpa permisi. Tapi saya tidak peduli meski pakaian baru saja saya jemur, basah semua. Saya hanya menikmati melodi rintikan yang merdu ditambah ingatan tentang masa lalu yang nyaris membuat saya memiliki rasa yang tidak menentu. Senang dan sedih. Tapi kali ini saya hanya ingin tersenyum saja… :)


Persinggahan Nila, 18 Mei 2012

ernybinsa

Hujan Lagi

Dan siang ini kita sama-sama menikmati hujan, tepat diakhir bulan Mei.

Awalnya kita hanya menangkap suasana tak biasa, tiada hangat matahari, hanya angin yang berbisik lembut.

Tak lama kemudian pohon-pohon mulai menari ke kanan ke kiri. Dan salah seorang dari kita bertanya,

"Ayo ada yang bisa jawab gak, apa bahasa inggrisnya HUJAN DERAS?"

aku hanya tahu Hujan adalah Rain, lainnya tak tahu. Kita hanya menggeleng sambil (sok) mikir, apa sih artinya?

"Jawabanya CAT AND DOG RAIN. Hehe..."

Aku heran, setahuku bukankah CAT adalah KUCING, DOG adalah ANJING? Lantas apa maksudnya dengan hujan deras. Entahlah, yang penting hujannya masih setia menemani kita.

Sebenarnya kita masih asik berayun-ayun di ayunan ditemani gerimis kecil-kecil. Tapi kita harus masuk, kita tidak membawa payung.

Dan yang kita lakukan adalah menatap langit, mengikuti pergerakan awan-awan mendung yang berjalan perlahan. Semakin lama kita yang masih di depan pintu ikut kebasahan, dan kita kembali masuk tapi pintunya jangan ditutup. Tidak apa, kita bisa menikmatinya tanpa benar-benar basah bukan?

Dan kini hujannya hampir berhenti, aku akhiri pula tulisan ini.

Alhamdulillah...



Cijantung, 31 Mei 2012

Erny Binsa

Belajar dari Ilalang

Bismillahir rahmaanir rahiim....

Wahai hati… Jika ditanyakan suatu hal kepadamu tentang ilalang, apa yang akan kau jawab? Jawabannya bisa jadi tumbuhan yang tidak berguna, tidak ada manfaatnya, hanya membuat muak siapa saja yang melihatnya, tumbuhan yang bandel karena sering kali dicabut namun tumbuh kembali dengan cepat. Menyebalkan.


Wahai hati… Kau seringkali bertanya, kenapa pula Tuhan menciptakan ilalang yang tiada berguna, penampakannya pun tidak begitu enak jika ditatap dalam keadaan yang lama, mengganggu pemandangan, katamu.


Wahai hati… Jika kau tengok tentang suatu hal yang berhubungan dengan bunga mawar nan indah, elok, dan cantik sekali, mungkin kau tidak akan bergeming untuk berpaling karena pesonanya. Namun akibatnya kau bisa saja tertusuk duri tajamnya.


Wahai hatiku yang tandus lagi gersang perangainya, itulah dunia. Semakin kau melihat pada keindahannya saja, kau akan semakin terjebak, tersesat bahkan sampai tidak tahu jalan pulang. Dan ketika kau melihat ilalang yang seolah hanya tumbuhan tidak bernilai harganya. Lagipula siapa yang sudi membeli tumbuhan ilalang? diberikan kepadamu pun sudah pasti akan kau tolak mentah-mentah.


Tapi, kau harus belajar tentang satu hal yang tidak kau dapat darimana pun, bahwasanya Tuhan menciptakan segala sesuatu memiliki maksud tertentu, mulai dari ketika seorang dihidupkan sampai dimatikan, tidakkah kau merasakan sesuatu?


Dan ketika ada hati yang merasa tak pantas untuk hidup, ketika ada hati yang merasa kesepian, ketika ada hati yang kehilangan, ketika ada hati yang tidak dianggap, ketika ada hati yang diabaikan. Seharusnya belajarlah dari ilalang. Lantas apa bedanya kau dengan ilalang? Bukankah kalian sama-sama merasa terbuang?


Hei… satu hal yang tidak kau miliki. Ilalang yang tandus meskipun berkali-kali dipatahkan, berkali-kali dicabut, berkali-kali dibakar. Mereka tetap berjuang untuk mencengkeram tanah, akar-akar mereka tetap berjuang untuk melihat dunia dan kembali seperti semula. Itulah bedanya kau dengan ilalang wahai hati… Jikalau kau belajar dari ilalang yang memiliki semangat juang yang tinggi. Tidakkah kau malu melihat dirimu?


Dan segala sesuatu diciptakan selalu punya maksud tertentu sampai ketika ditiadakan, pasti memiliki maksud. Tidak usah kau cari tahu apa maksudnya, kau hanya tinggal menikmati menjadi hamba Allah yang mengalir mengikuti aturan-Nya, itu saja.


Wahai hatiku yang tandus lagi gersang perangainya, ketika kau mulai tergerak, ketika kau belajar untuk mengerti, saatnya kembali. Menuju titik episode hidupmu yang mungkin tidak akan lama lagi, sekejapan mata.



:Untuk hatiku yang tandus dan gersang




Persinggahan Nila

18 Juni 2012

Lugu sapamu, Bu

Bangunlah, Nak."
Ceracau sapaan hangat hinggap ditelingaku
Aku bergeming, menelantarkan keluguanmu, Bu
Kembali mata terpejam, terdengar lagi bisikan syahdu
"Nak, Bangunlah."
Aku tetap bergeming, mengurung diri di alam mimpi
Berlimpah sepotong ilusi
Dan aku kembali menelantarkan lugu sapamu, Bu
"Hari semakin siang, Nak. Tidakkah kau malu pada ayam yang berkokok lebih dulu?"
Jejakmu tertinggal
Lagi-lagi menelantarkan lugu sapamu, Bu
Kau kembali mengais serpihan rupiah dengan tertatih hingga tepian senja
Peluhmu terlihat kasat mata, Luruh dalam keluguanmu
Kini,
Segalanya hanya kenangan yang tertinggal.


#sedang rindu Emak, betapa menyedihkan sendiri itu.

Meninggalkan atau Ditinggalkan?



Untukmu si pecandu tanah gersang,
Kau sudah terlihat lunglai telantar,
sampai saking gerontangnya dirimu melibas keterasingan.

Empat tahun berlalu, tanpa kabar. Kau memutuskan pergi tanpa pamit, Menyelinap diam-diam lalu hilang. Mungkin benar, orang yang berdiri diatas sepatumu tentu saja dirimu sendiri, hidup itu terserah kamu, hidup itu hak prerogratif kita semua. Kau pernah mengatakan itu, dulu, dan aku baru tersadar sekarang.

Di dunia selalu ada pilihan, layaknya siang atau malam, terang atau gelap, hitam atau putih, dan lainnya. Dan kau malah memberiku pilihan sulit, meninggalkan atau ditinggalkan? Jujur, bahkan sampai sekarang saya tak ingin meninggalkan siapapun begitu pula ditinggalkan, tak ada seorangpun yang ingin jika ditinggalkan.

Ketika diambang kegalauan akut, kau memutuskan untuk pergi, entah apa maksudnya. Saya pikir kita sudah lama bersahabat, sahabat pena tentunya. Meski kau ada jauh di seberang sana. Kita saudara, ya, kita benar-benar saudara kala itu. Meski hanya dunia maya yang seperti nyata. Ketika lama tanpa kabar darimu, seseorang menelponku dan mengatakan kau telah tiada. Ah mereka pasti bohong, kau pasti becanda, jangan permainkan saya dengan cara seperti itu.

Saya masih menunggu sahabat baik yang hingga kini menghilang, padahal kita pernah berjanji akan bertemu jika sudah sama-sama lulus sekolah. Kini dua tahun sejak kelulusan sudah berlalu, mungkin kau lupa dengan janjimu. Kau masih ada, kan?
Jangan lagi sekali-kali bertanya, meninggalkan atau ditinggalkan? Saya tidak akan pernah memilih...

4 tahun kepergianmu yang tanpa berita...


Satuagustusduaribuduabelas

persinggahan nila

Tuesday, 4 September 2012

AKU DAN HUJAN

Bismillahir rahmaanir rahiim...

Entah sudah berapa lama saya tidak menulis di sini, Saya rindu sebagaimana saya merindukan Hujan pada musim panceklik. Hujan, datanglah... Temani saya menulis kisah yang belum pernah selesai.

                Hujan sudah jarang datang bulan ini, apa ia bosan? Entahlah. Saya hanya ingin melihat hujan, saya ingin bercengkerama dengan hujan setelah lama tidak berjumpa. Saya ingin menulis ditemani bulir-bulir hujan yang datang satu-satu.

                Kemana larinya engkau? Bukankan hati kita sudah terikat dalam sebuah misi pencarian kisah yang belum pernah selesai. Hujan, Aku rindu...



4 september 2012

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...