Friday, 16 June 2017

Momiji (Review)


Judul         : Momiji
Penulis : Orizuka
Genre : Family, Romance
Tebal : 210 hlm
Terbit : Mei, 2017

Sebelum membaca buku ini saya pernah ikutan meet and greet bareng Orizuka di Gramedia Depok. Dan hasilnya adalah saya ‘kepo banget’ pengen baca. Alhamdulillah bisa kebeli juga bukunya, horeee …

Novelnya kali ini masih seputar remaja, romance tetapi masih dalam batas yang sewajarnya, dan juga berbicara tentang keluarga, seperti novel sebelumnya yang saya baca.

Ngomong-ngomong soal Momiji, ternyata Orizuka terinspirasi dari perjalanan solonya ke Jepang dan berjanji pada dirinya sendiri untuk menulis novel dengan setting Jepang dan nama tokohnya Momiji, yakni dedaunan yang berubah merah di musim gugur. Untuk tokoh Momiji sendiri digambarkan sesosok gadis yanki  yang urakan dengan rambut orange mekar, suka kabur-kaburan dari rumah, dia juga gadis yang suka berkelahi dengan geng motor, yah intinya tipikal cewek yang suka ngajak berantem gitulah. 

Dalam buku ini Momiji dipasangkan dengan tokoh bernama ‘Patriot Bela Negara’ dan dia orang Indonesia. Nah, berbeda dengan Momiji, nama Patriot ini tidak patriot sama sekali, berkebalikan dengan namanya dia adalah cowok introvert yang pemalu, bahkan namanya sering menjadi olok-olokan dan korban bully teman-temannya. 

Patriot biasa di sapa Pabel, dia membuktikan dengan belajar, kerja keras, dan menabung, akhirnya cita-citanya ke Negeri Sakura tercapai. Yah meskipun cuma sebulan di Jepang tetapi ia berhasil keluar dari zona nyamannya selama ini. Eh iya selain itu Pabel juga berniat mencari sosok Yamato Nadeshiko, salah satu tokoh anime yang menjadi inspirasinya, -_- eh ternyata di Jepang Pabel malah ketemu sama Momiji. Banyak kejadian-kejadian yang tidak pernah terbayangkan oleh seorang Pabel, dan kejadian itu justru membuatnya pengin cepat-cepat pulang ke Indonesia. 

Seperti yang saya tulis sebelumnya, kalau novel ini bersetting di Jepang dan Orizuka berhasil membuat setiap detail dan deskripsi yang bagus tentang Jepang. Bukan hanya latar, karakter tokoh juga dibuat sedemikian rupa dan seperti biasanya, memiliki ciri khas yang sulit dilupakan. Kalau kekurangannya sendiri, Orizuka banyak menyebutkan anime-anime yang saya nggak ngerti, maklum saya kan gak hobi baca anime jadi kurang paham. Satu lagi, meskipun ini novel remaja yang ringan saya merasa konfliknya kurang nendang, barangkali karena novel ini terlalu tipis jadi tidak semua tereksplorasi atau mungkin masih ada lanjutannya seperti 4R? Entahlah. Yang pasti saya cukup terhibur dengan novel ini. 


Jakarta, 17 Juni 2017
Salam, 


Erny Binsa

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...