Tuesday, 1 August 2017

Menjadi Mata Untukmu



“Kak,  apa yang ada di pikiran lu saat pertama kali bertemu dengan orang kayak gw?”


Tiba-tiba ada pesan masuk isinya begitu, saya musti jawab apa ya? Ngomong-ngomong teman saya itu tuna netra, entah dia kesambet apa tiba-tiba nanya begitu.

Saya jadi ingat pertama kali bertemu dengan teman-teman istimewa, khususnya mereka yang tuna netra, kayaknya yang saya lakukan saat itu cuma mengamati dari kejauhan. Saya masih mikir gimana cara berinteraksi dengan mereka, saya takut kalau saya salah ucap nanti malah menyakiti hati mereka, maka dari itu butuh waktu yang agak lama untuk bisa akrab dengan mereka. 

Pertama kali saya berkenalam dengan seorang anak bernama Senna, seorang tunet yang punya minat di menulis.  Dia masih sekolah SMA ketika itu, kami belajar bersama di FLP Ciputat. Saya mikir keras,  ini anak gimana cara nulisnya yaa?  Emangnya dia bisa tau keyboard itu letak abjadnya ada di mana? Saya aja sering banget typo.

Suatu saat Senna mengajari saya gimana caranya dia bisa menulis, eh ternyata laptopnya bisa ngomong. Maksudnya tulisan yang sudah diketik Senna akan mengeluarkan suara, jadi dia tau kalau ada kesalahan dalam tulisannya.  Saya cuma manggut-manggut, sungguh betapa ribetnya. 

Begitu juga saat ia memainkan ponselnya, terkadang saya tersenyum melihatnya, betapa seringnya kita menatap layar ponsel, tetapi teman saya itu tidak bisa menatap secara langsung, hanya modal pendengaran dan gerakan jemarinya. Meski begitu Senna juga punya banyak prestasi, ia sering menang lomba menulis dengan segala keterbatasannya. 

Jalan-jalan ke Kota Tua

Hidup Menembus Batas

Dari mereka saya belajar bahwa kita bisa menembus batas. Kita bisa melawan segala kekurangan itu dengan prestasi dan kreativitas.  Lewat Senna saya berkenalan dengan teman-teman tuna netra lainnya, mulai dari Oki dan Rifki. Mereka semua mahir bermain musik,  Senna jago bermain flute, oki gitar,  dan Rifki biola. 

Latihan musik sebelum pentas
Suatu saat kami pernah manggung bersama  saat diundang menampilkan teatrikal novel tentang Hasan Al-Banna di Gramedia Matraman. Ditemani juga teman-teman saya lainnya,  kak lina,  lisfa,  ka yudis,  ka amel.  Sementara Senna, Oki, dan Rifki, mereka bertiga bermain insrumen musik. 

Sebelum tampil teater
Nah ini yang namanya Senna


Selesai pentas saat kegiatan di Gramedia Matraman

Terkadang saya berpikir, bagaimana seandainya dunia ini gelap. Mati lampu aja saya nggak betah, nggak berani, tetapi bagaimana mereka bisa hidup tanpa cahaya? Mereka pasti kesulitan melakukan banyak hal. Namun akhirnya saya percaya bahwa mereka mampu menembus batas. 
Saya tau mereka terkadang jauh lebih peka dibanding saya, dan hebatnya saya tidak pernah sekalipun mendengar mereka mengeluh dengan kehidupan yang mereka jalani, mereka selalu tertawa, selalu berpikir positif,  dan mereka juga punya mimpi. 

Mereka mungkin berbeda, tetapi jangan salah mereka juga bisa melakukan aktivitas seperti orang-orang pada umumnya, mereka juga bisa bekerja.  Mereka juga senang saat diajak nonton bioskop.  Suatu saat saya dan Lisfa mengajak Senna untuk nonton bioskop, sedikit tentang Senna, dia termasuk tuna netra total artinya tidak bisa melihat hal apapun. Coba bayangin gimana dia bisa nonton bioskop? 

Pengalaman itu seruu sekali, untunglah saat itu nonton film berbahasa indonesia kalo bahasa inggris saya nggak tahu apa yang akan terjadi..  wkwk mungkin sepanjang film itu saya baca subtitlenya. Sepanjang film diputar saya dan Lisfa bercerita secara bergantian, apa yang sedang dilakukan si tokoh, seakan kami adalah mata baginya.

Sebenarnya saya sendiri tidak tahu apa yang ada dibayangan Senna saat kami bercerita, walaupun kadang berisik juga sih diliatin orang-orang yang lagi menikmati film, untung ga ada yang protes. Hehehe...  Terakhir saya ketemu Senna adalah bulan puasa lalu, ngomong-ngomong sekarang dia lagi sibuk belajar dan menghafal Al-Quran dan dia sudah hafal 2 Juz.  Entah mengapa melihat mereka saya jadi malu dengan diri saya sendiri. 

Nah berbeda dengan Rifki,  dia termasuk tuna netra low vision meski masih bisa melihat tetapi penglihatannya lemah. Meski begitu dia jago banget main biola, bersama Rifki juga kami pernah berpetualang bahkan naik gunung bareng.

Mereka adalah sekolah bagi saya,  mengenal mereka membuat saya semakin bersyukur , saya senang pernah menjadi mata bagi mereka meskipun hanya sebentar.  Menjelaskan apa yang saya lihat, betapa indahnya segala hal yang ada di sekitar saya,  meski saya tidak bisa menjelaskan warna biru itu seperti apa? Warna putih seperti apa? Saya yakin hati kalian jauh lebih indah dari pada apa yang saya lihat. 

Saat kami bermain teater dadakan di Kota Tua

Terima kasih sudah mau berteman dengan manusia seperti saya dan terima kasih juga untuk kalian yang sudah baca :)


Salam, 


Erny Binsa

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...