Wednesday, 24 October 2012

Coretan tentang Perjalanan Kakek dan 3 Cucunya (By:Mbah Lina)


Setiap perjalanan meninggalkan kenangan
Dan setiap jejak meninggalkan pelajaran

Matahari garang. Saya, dua sahabat (jadi tiga cucu) dan kakek  (^__^V) sudah rusuh saling SMS-an. Apa yang perlu dibawa? Apa yang ketinggalan? Naskahnya udah ada di pikiran kan? Huwaa. Apa ini?!!

Cerita punya cerita, kami berempat berencana hiking. Ceile, berasa kemanaaa gitu. Eh, nggak ding. Masa hiking bawa motor? Hahaha. Setelah mempersiapkan segala sesuatu (kecuali yang dadakan. Termasuk lupa bawa rompi lapangan. He) Kami langsung capcus berangkat siang hari bolong ke Ciputat. Bukan langsung sih sebenarnya, coz ada yang harus disiapkan dulu untuk anak-anak FLP Ciputat pelatihan tanggal 12 Oktober 2012 berhubung kami merupakan bagian Kemendikbud yang jadi PJ acara Pelatihan Menulis FLPC.

Sampai Ciputat, kami bertiga menuju rumah pustaka (rumpus). Kasak kusuk nyiapain fiksasi acara, sertifikat, nyiapin berkas berkas buat mentoring, dan sebagainya. Temen saya (Erny) menuju Bank M****** (sensor) untuk bayar apa gitu saya lupa. Saya dan satu teman lagi (Fatul) menuju tempat fotocopyan. Ngeprint sertifikat de el el.

Sudah selesai? Belum. Erny dan Fatul kemudian pergi cari figura. Kakek kami (Yuku ^__^V) stay di rumpus untuk memberi penyuluhan (bahasanya ketinggian ni). Maksudnya ngasih arahan besok pelatihan ngapain aja buat staff Dikbud yang lain (Nur). Saya yang sudah selesai balik ke rumpus ikut ngasih penyuluhan lagi. ^^

Yap, semua beres. Staff sudah disiapkan mentalnya (ciee). Berkas sudah lengkap. Dan akhirnya, cao, kami berempat berangkat liputan sekaligus agenda lain (yang ini rahasia^^).

Melewati bukit, lintasi gunung (nyanyi. Hehe) kami melakukan perjalanan Mampang-Ciputat-Bogor dari jam setengah empat sore sampai habis Isya. Ya, waktu sampai molor karena harus shalat Magrib di jalan, plus belanja kebutuhan selama di sana (di mana? Mau tahu aja. Mau tahu banget sih:p). 

Jam 19.30 WIB perjalanan mencapai puncak ketegangan, melintasi sawah, danau, empang, bahkan jalan berbukit dan berbatu segede kepalan tangan kakek (hehe) harus kami lalui. Dan ahirnya, taraaaaaaa, kami sampai di rumah tujuan. Mau tahu rumah siapa? Rumah nenek di Puraseda, Cikaret!  Senangnya.^___________^

                                                                                                    ***

Planning sudah matang. Malam setelah ngobrol ngalor ngidul, kami sampai pada satu keputusan. Menjalankan agenda penting, yaitu MENULIS. Hehehe. Kalau menurut kalian nggak penting sih ya nggak apa apa. Tapi buat kami, ini adalah masa depan kami (Husyah, mikirnya kejauhan ye:p).

Mulai ngetik satu bab, dua bab. Tiba-tiba, lampu padam!
Panik?? Ya iyalah, secara tulisan baru dua bab, belum disave, belum ngapa-ngapain. Huwa! Semua jadi teriak teriak histeris. Untung nenek bilang (kaya lagu deh, nenek bilang:D) listrik biasanya cuma mati satu jam.

Satu jam menunggu lampu belum menyala lagi. Kesel? Tentu saja. Dan hal terakhir yang bisa kami lakukan adalah, tidur. Zzzzzzzz.

                                                                                                     ***
Pagi sudah datang. Saya dan ketiga teman masih manyun kuadrat karena listrik belum nyala. Bahkan, sampai kami beres-beres, liputan, dan balik lagi, lampu belum nyala juga (PLN kemana nii??). Daripada mangkel, kami pun akhirnya rebutan minum air kelapa.

Tahu nggak, kakek kan kan sedianya mau ngambilin kelapa dari pohonnya. Eh, udah nyampai atas turun lagi karena takut pohonnya tinggi banget, padahal satu tanjakan udah mau nyampe. Gubrak!! Kakekkkkkk!!  >_

Kami makan kelapa muda plus minum airnya dari hasil petik pamannya Erny. Wah, segerrrrr. Rasa mangkel pun hilang. Hehe. Setelah itu kami langsung makan siang dengan menu seadanya tapi, subhanallah, nikmatnyaaaa. ^^

Sore datang, kemudian malam mengetuk untuk hadir. Alhamdulillah, sorenya listrik udah nyala, jadi kami langsung ngebut nulis lagi. Lagi ngerjain proyek ini (Doain goal ya proyeknya:D).

Alih alih nulis, saya yang saat itu kebagian bab bab susah, pusing enam keliling mulai cerita dari mana. Demi itu, saya akhirnya nyari inspirasi dengan menonton banyak film populer di hardisk kakek untuk riset. Sssttt, saya nggak ngeracunin sih, tapi ujung ujungnya, yang lain pada ngikut nonton film. Hehehehe.

                                                                                                      ***

Pukul 02. 02WIB. Yang lain sudah tepar, saya masih asik ngutak atik film. Hm, akhirnya dapat ide juga (ting ting ting). Nggak pake lama tangan saya sibuk menekan tuts keyboard di laptop. Entahlah, seperti ada yang menuntun untuk terus menulis, dan menulis. Dan itu saya lakukan sampai jam 4 pagi (hoahemmm).

Lumayan. Ya, itu yang membuat saya tersenyum, naskah saya sudah selesai sampai bab 3, semoga cepat selesai deh. Amiin. Saya pun kemudian tidur menyusul mereka yang sudah terbang ke alam mimpi duluan. Percaya nggak? Saya cuma bisa tidur dua jam, karena jam 6 yang lain pada gedebukan bangun buat shalat, nerusin nulis, de es be. Tanpa banyak kata, saya ikut bangun, bukan untuk nulis, tapi mandi dulu. Bau kan. :p

Berempat selesai berbenah karena harus segera balik ke Jakarta, langsung saling mencocokkan perbab, dan saling comment. Pusing sumpah, denger komentar masing masing. Nggak ada yang bener ini (pegang kepala dengan muka nggak percaya:p).

Dengan janji segera memperbaiki dan menyelesaikan tulisan, kami siap siap balik. Pamitan sama nenek (yiaaaa, kakek pisah deh sama nenek:p), uwak (kata Erny), Sugi, dhedhe, dan semua yang ada di sana. Makasih ya, tumpangannya. Maafkan kami ya, Nek. Tamu yang tak diundang ini (ini salah Erny:p).

Jam setengah 8 pagi kami berangkat. Memulai perjalanan pulang ke Jakarta. Sumpah, kalau dikasih kesempatan balik lagi ke sana. Saya mau berhenti di hutan pinus yang takzim berdiri miring seperti patuh pada Yang Maha Agung. Lalu, ya itu, photo photo di Gunung Sindur. Kan sayang tuh, pemandangannya oke buat jadi background kenangan sebagai bukti. Bukti bahwa kami pernah ke sana, memulai mimpi di sana, dan akan menyelesaikannya di sana lagi, insya Allah. ^^
                                                                                                         ***
Tiga jam perjalanan tak berasa, meski kami sedikit beda jalan, dan akhirnya tunggu tungguan. Hehe. Ada sedikit resah hinggap, karena kami harus segera sampai di lapak. Tempat anak anak  kecil bermata telaga menunggu kedatangan kami dengan celotehan riang mereka. Meminta bantuan kami membaca A ba ta tsa secara fasih. Dan membantu mereka menenteng mimpi dalam bingkai visualisasi yang sederhana.

Jika ada yang bertanya apa kami tidak lelah setelah apa yang kami kerjakan di Cikaret, kemudian perjalanan yang lumayan lama juga? Sedikit lelah iya. Tapi kami akan lebih lelah dan merasa bersalah menelantarkan harapan mereka hanya karena kami, sedikit lelah. Toh, lelah kami belum sebanding dengan kelelahan yang dialami Nabi ketika mengajari umat di dunia dalam menyebarkan ilmu dan rahmat dari-Nya. Dan beliau selalu mengingatkan kita kan, sampaikanlah walau hanya satu ayat (ilmu)? Karena setiap langkah yang kita tujukan untuk kebaikan, Tuhan akan melipat gandakan kebaikan itu untuk kita dengan pahala dari-Nya. Jadi, apa yang harus kami keluhkan? Tidak ada bukan. :)

Alhamdulillah. Catatan perjalanan ini selesai juga. Meski mungkin catatan ini tak berarti bagi kalian, tapi bagi kami berempat, ada beribu celah harapan yang datang dan berebutan masuk dalam hati. Bahwa setiap mimpi akan tervisualisasi jika kita mau segera beraksi. Namun, jangan pernah melupakan satu hal. Bahwa ada mimpi mimpi lain dari anak anak kecil bermata telaga harapan negeri di sana, untuk kita bantu wujudkan. Meskipun, hanya dengan cara sederhana, dan biasa saja.

Jangan pernah takut memulai mimpi
Kemudian, jangan takut pula berbagi mimpi itu ke setiap insani
Pun, jangan pernah takut untuk  terus beraksi wujudkan mimpi
Bergeraklah sekarang, atau tidak sama sekali



(Terima kasih atas trip Jakarta-Ciputat-Gunung Sindur-Puraseda kemarin, @erny binsa, @lisfatul fatinah, @yuku^^)



*Memoar Oktober di Segi Empat Jakarta, 231012

Ku Lepas Kau dari Hatiku


Catatan 2 tahun lalu..... :D


Hari ini, ku lepas kau dari hatiku.
Sebuah pena ini menjadi saksi bisu. Kau yang dahulu ku kagumi akan perangai indahmu. Namun, seketika luntur hanya karena sebongkah keindahan sesaat yang kau ciptakan sendiri. hebat sekali… kau terkadang bisa menjadi seorang kakak yang bijaksana dalam bersikap. Namun disisi lain kau bisa menjadi seperti seorang adik yang membutuhkan banyak perhatian.

Jangan pernah salahkan aku, kau yang memulainya terlebih dahulu. Kau hancurkan semuanya hanya demi menuntut keinginanmu, keinginan yang tidak masuk akal menurut penalaranku. haruskah ku ikuti perasaanku? Tidak! dan maaf ternyata kau sudah lupa dengan ikrar persahabatan kita.

Hari ini ku lepas kau dari hatiku.
Biarkan ku sapu bersih setiap memori tentangmu, akan ku tambal semua luka hati dengan lem pengikat yang kuat, agar kau tak lagi bisa menjeratku. Kau seperti dajjal yang selalu mengintaiku.
Apa kau tidak sadar?? karena kau, aku hampir terlepas dari tali Allah. karena kau, aku hampir menjadi orang yang tidak tahu apa-apa dan tidak mau tahu tentang apa-apa. Karena kau… semua karena kau… Aku seperti tidak mengenal kala kata-kata itu terucap dari lisanmu. Bukankah kau seorang hanif yang fahim ad-dien? Sungguh, aku telah terjebak rupanya.

Andai kau tak pernah menarikku untuk memasuki ikatan yang kau ciptakan sendiri, aku tidak akan berbuat seperti ini, semua sudah terlanjur. Ternyata benar, penyesalan itu hadir pada akhir cerita. Kini dunia kita sudah berbeda. kau berjalan pada jalurmu sendiri dan akupun begitu. jangan salahkan aku, bukankah itu yang kau mau? tertawalah sekarang sepuas hatimu.

Hari ini ku lepas kau dari hatiku. tidak ada lagi namamu di hatiku, semua sudah terdelete. Egomu terlalu tinggi untuk seorang wanita seperti aku. Mengenal sebuah cinta itu sakit, pedih, bahkan teramat menyakitkan. Aku belum sanggup untuk menanggungnya, jundi-jundi hatiku juga belum mampu memupuknya. Semua belum waktunya dan aku tak ingin tersiksa karenanya.

Hari ini ku lepas kau dari hatiku. Mungkin coretan diaryku tak mampu lagi menampung tentangmu. biarkan ku bakar sehingga menjadi abu yang menyeruak di udara dan hilang di terpa angin.





Jakarta, 22 November 2010

Bersama Mbak Qadriea

Tulisan saya 2 tahun lalu, pertama kali kopdar sama temen fesbuk..


18 November 2010

Bismillaahir rahmaanir rahiim…

Izinkan saya bercerita tentang pengalaman saya bertemu dengan seorang sahabat dari Dunia perpesbukan mbak Qadriea ku Warastra.

Awalnya saya tidak begitu mengenalnya di Dunia Fesbuk, namun suatu saat mbak Qadriea mengetag saya dengan sebuah catatan yang membuat saya tergugah (lebay dikit :D)

Catatannya berisikan tentang seputar perjalanannya jalan kaki dari MONAS  ke Cijantung, bayangkan kawan?? Itu jauh sangat loh, saya yang juga hobby jalan kaki juga mikir-mikir dulu kalo kesana, naik bis aja lama banget  mesti ke kp.Rambutan dulu, kalo jalan kaki. Walah... kapan sampenyaaaa??  Di catatannya itu juga disebutkan bahwa beliau sering ke Perpustakaan Nasional yang ada tepat di depan MONAS, loh ternyata mbak Qadriea sering ke perpus toh? Saya juga sering kesana tapi gak pernah ngeh orangnya yang mana.

Dan Alhamdulillah tepat hari senin kemarin saya dipertemukan dengan beliau, hanya dengan berbalas sms. Ternyata mbak Qadriea sudah sampai duluan di Halte Perpus, kebetulan bus yang saya tumpangi sedang dilanda kemacetan.

Saya berjalan mendekati halte seraya melihat-lihat apakah ada mbak Qadriea disana, saya cek sepatunya yang sering saya lihat di poto profilnya biar gak salah orang gitu :D

Wah ketemu juga akhirnya, terlihat dari jauh ada orang yang memakai sepatu putih, gak salah lagi deh itu pasti orangnya (soktau.com). lalu kami berjabatan tangan layaknya seorang sahabat (ciee bahasanya)

Saya melihat penampilan mbak qadriea dari atas sampe bawah. Gilaa laki banget, hehe maap ya mbak…. J becanda. Tapi, mbak Qadriea itu gak terlihat seperti ibu-ibu yang memiliki Dua orang anak, jiwanya masih pemuda banget (jangan geer mbak :p). Sehingga pembicaraab kami jadinya gak garing dan nyambunglah walaupun awalnya saya kebanyakan diam. Untungnya mbak Qadriea itu banyak omongannya coba kalo sama-sama diam, waduh bisa-bisa bicara dari hati ke hati.


Hari itu perpusnas sedang di adakan renovasi mbak Qadriea mengajak saya jalan-jalan keliling MONAS, kalo keliling MONAS gapapa deh asal jangan di ajak ke cijantung jalan kaki aja, hehehe. Akhirnya kami masuk ke MONAS, gak masuk juga sih Cuma numpang ngadem.

Mbak Qadriea banyak bercerita tentang kehidupannya yang membuat saya semakin banyak bersyukur. Dalam hati saya bicara Ya Allah… kuat banget si ini orang…

Setelah banyak bercerita kami berjalan ke Masjid Istiqlal untuk sholat zuhur, kebetulan kami berdua sedang shaum jadi gak bisa mampir buat makan (memang sehati ya kita??)

Yang bikin sebel sehabis sholat kami melihat tukang ketoprak ngejogrok di halte busway. Dan ternyata kami berdua pecinta ketoprak rupanya…
Saya : wuihhh mbak… ada tukang ketoprak (maksud saya Cuma becanda kok :P)
Mbak Qadri : Kamu mau er? Aku bayarin deh, tapi makannya sekarang ya? Puasanya batalin hahaha…
Wahhh benar-benar menguji keimanan. Dan akhirnyaaaa…. Saya gak jadi batalll… horeeeee…. Ternyata saya udah gedeee… :D

Dan mbak Qadri juga berhasil bikin saya teriak-teriak gak jelas di tengah jalan raya yang mobilnya bener-bener  kuennncengg…. Mbak Qadri menyembrang jalan seperti manusia yang tidak punya dosa, seakan-akan jalan milik dia sendiri gitu… mana kala itu saya memakai rok panjang sehingga sulit buat lari dan mengimbangi  mbak Qadri.
Saya       :  MBAKK…… MBAK….. PELAN-PELAN MBAKKKK…… HADOOOHHHHH…. (bisa ngebayangin betapa paniknya saya saat itu? Sambil lari-larian ditengah jalan pake rok)
Dan sampai diseberang jalan mbak Qadri hanya ketawa ngakak, cekikikan sendiri….. huaaaaaa menyebalkan……

Fyuh capek lari-larian jadi capek ngetiknya…. Udahan aja ya, sebenarnya masih banyak lagi… tapi yaa capek gimana dong?? Yang baca juga pasti capek… :D

Mangga Golek Impian (Bukan) Versi Dang Aji


Nemu tulisan ini, kangen banget sama kak Endah Septyani.. :)

Assalamualaikum...

      By the way, ini bukan untuk diikutsertakan dalam Anugerah Selaksa Makna Cinta ya... Hanya ingin sedikit bercerita dan memakai judul itu supaya menarik untuk dibaca. Peace ya, Dang Aji, izin pinjam judul. Kok ya punya pengalaman yang agak mirip dengan isi Antologi SMC halaman 50-68. Yang nggak ngerti saya ngomong apa, sok pesan bukunya sama Dang Aji (iya kaaan?)

      Jadi, begini ceritanya (pakai gaya Caroline Zachrie, pembawa acara Kismis)...
Ada akun facebook, namanya Erny Binti Sanusi. Emang siapa sih tuh? Masa’ mutual friend-nya banyak banget. Ah, coba aja ada Lomba Best Friend Story jilid 2, pasti bakal saya bikin tentang dia. Nggak ada ya udah, nggak masalah... Ya nggak Ern?? (jangan bilang kalau sekarang kamu lagi deg-degan nungguin catatan ini diposting? Nggak pakai GR ya! Awasss... Glekk!)

      Pertama bertemu (secara maya pastinya) nggak tahu di status siapa dan di status yang mana. Nggak ngerti deh, yang nge-add duluan juga siapa, nggak jelas. Jangan-jangan si Erny (ngaku deh.. :p). Hmm...udah deh Ndah, intinya aja kenapa! Oke, baiklah kalau kalian memaksa.

      Saya adalah orang yang termasuk mudah menerima hal baru, tapi saya akan mundur kalau sekiranya merasa nggak nyaman. Begitu juga dalam hal pertemanan, apalagi persahabatan yang saya anggap itu suci. Jiah, bahasanya... Iya, saya bisa menebak siapa aja yang benar-benar bisa saya tempatkan dalam ruang bernama persahabatan. Nah, Erny itulah salah satu orangnya. (Nggak pakai GR ya! Awasss... Glekk!)

      Suatu kesempatan, saya memberanikan diri minta nomor hape si Erny (lagian juga ngapain takut, saya kan takutnya sama *u***g). Hmm, lagian udah lama ditunggu-tunggu smsnya nggak sampai-sampai. Eh, nggak tahunya dia salah ketik nomor. Ya udah, sabar aja, sampai tahun alif juga nggak bakal sampai, Neng... (nggak tahu apa, kalau nomor saya cantik?) Hehe, jadilah kami sms-an. Sempat mau kopdar tapi belum ketemu tanggal merah, abis di kalender tanggalnya hitam semua, ckck.

      Kalau cerita ini dihubung-hubungin sama versinya Dang Aji, mirip kali ya... Ceritanya, saya Kak Joel dan Erny si Irfan. Tapi sih banyak bedanya. Lha, yang namanya mangga golek aja saya nggak tahu kayak apa (maklum saya sering nggak ngeh sama makan-makanan).

      Oya, ada kejadian lucu. Ceritanya, kemarin-kemarin kami tuh sering OL di YM (akhirnya Erny bisa juga, iya dooong, Erny gitu loh!). Nah, dia agak kesal kali ya gara-gara dicuekin, lah orang saya lagi ngambil pisang goreng dulu di belakang. Hehe, emang enak! Nah, yang anehnya lagi waktu saya berniat untuk off, (teksnya juga lagi diketik) eh dia juga bilang; Kak, Erny off dulu yaaaa. Gubrak!!! Kok samaan ya? Katanya sih di warnet dia sampai diliatin sama orang-orang gara-gara ngakak guling-guling. Ups... Dasar golongan darah O... Jangan panggil saya Dwi  apalagi Duwi, tolong yah... Satu lagi, saya mau mangga golek nih Ern, semangat ya kuliah dan nulisnya!!! Satu lagi, kapan kita ketemu di mana gitu? (Apalagi ya yang belum diceritain?)

      Terima kasih spesial untuk Grup UNSA, saya makin cinta persahabatan...

      *Seharusnya ini ditag ke Erny aja, tapi mudah-mudahan bermanfaat juga untuk yang lainnya. Maaf kalau salah ngetag.

(Tulisan nggak pakai diedit)
14.59 WIB (bukan angka kembar, so what???

Dwi Endah Septyani

Birthday Memorable Mbah Lina




Bismillahir rahmaanir rahiim...

Catatan biasa yang sayang kalau dibuang... :D
Mudah-mudahan menghibur....

Beberapa waktu sebelum hari H. Saya dan teman-teman kantor asik diskusi. Bukan diskusi sebagaimana mestinya orang kantoran, tapi aksi jail untuk ngerjain Mbah Lina pas ulang tahunnya. Waktu itu di kantor cuma ada saya, Marini, dan Kak Erik. Sementara Lisfa dan Ka Yuku kuliah, dan Mbah Lina ngurusin skripsi.

Kak Erik           : Eh Mbak Lina kan mau ulang tahun nih, kita kerjain yuk?

Saya               : Ngerjain apa ya? Yang kira-kira bikin Kak Lina goodmood terus sepanjang waktu.

Kak Erik           : Gini, kita acak-acak kantor. Kita datang pagi-pagi sebelum mbak lina datang trus kita berantakin kantor, kita ambil semua laptop, printer, semua barang penting di kantor. Trus kita semua pergi ke giant deh sampe siang, gimana?

Marini              : Ide bagus...

Saya                : Tapi, kita kasih kado apa nih?

Kak Erik            : Kita kasih kartu ucapan aja...

Marini              : Apaan isinya kak?

Kak Erik           : Ya, ucapan “Selamat Ulang Tahun Mbak Lina,” eh eh tapi kartu ucapannya gak usah beli, kita bikin sendiri aja.

Saya                : Ih, kok gak modal banget sih.

Kak Erik            : Trus apa dong?

Saya                : Hm, kita kasih calon suami aja buat mbak Lina, gimana?

Kak Erik            : Erny, pliisss... aku tuh belum bisa berlaku adil. Nanti gimana istri aku di rumah, dia pasti sedih banget.... (Saya lirik-lirikan sama Marini, dasar orang gilaaaa)

Saya                : Kak Erik, yang minta Kak Erik jadi calonnya ka Lina itu siapaaa?

Kak Erik           : Oh bukan ya... hehehe....

Marini              : Aku setuju sama ka Erny, kita kasih calon suami aja. Nanti kita paketin lewat TIKI ke rumah mbak Lina....
Semuanya setujuuuu...

Satu kantor obatnya abis.... (-_-)

***

Selanjutnya... Hari H tinggal beberapa hari lagi, saya dan Lisfa nyiapin kue. Sementara temen-temen juga udah pada dibilangin untuk datang lebih awal ke kantor. Dan masih mikirin untuk rencana besok. Kak Erik mulai merencanakan sesuatu kepada kami saat nggak ada kak Lina.

Kak Erik                      : Besok nggak ada yang telat yaa...

Okay.... tapi Marini gak bisa ke kantor soalnya ada kuliah. Jadilah rencana ini kami berempat yang bergerak. Pas hari H saya ke rumah Lisfa pagi-pagi banget, niatnya mau nganter ke sekolah dulu buat nganter proposal tapi nggak jadi. Akhirnya main aja di rumah Lisfa sampe jam setengah 8 trus langsung ngambil kue dan menuju kantor. 8.30 saya berdua sampe kantor. Kak Erik ngabarin kalau dia datang telat karena istrinya sedang sakit, sementara ka Yudistira ketiduran    -_- hadoooooohh bisa-bisa gagal total nih. Sampai di kantor ternyata saya lupa bawa kunci kantor (duh saya emang pelupa).

Akhirnya saya dan Lisfa minjem kunci ke kantor pusat, lari-larian kayak di kejar macan. Langsung acak acak kantor, ngebuka-bukain laci kantor, ngambil barang penting di kantor dengan hati yang gak karuan, panik.... Takut ka Lina keburu dateng... Sementara orang-orang ngeliat saya dan Lisfa heran.

“Mau pindahan ya, Mbak? Jangan lari-lari Mbak nanti keserimpet,” Saya cuma cengar cengir aja...

Trus kami menuju parkiran buat ngumpet.

Lisfa                : Er, kantor dikunci?

Saya                : Iya

Lisfa                : duh, kenapa dikunci?

Saya                : Emang kenapa?

Lisfa                : nanti ketahuan. Cepet buka kuncinya...

Saya balik lagi ke lantai atas sambil lari-lari buat ngebuka pintu kantor dan balik lagi ke bawah.
Alhamdulillah...

Lisfa                : Er, Apple udah di bawa?

Saya                : Udah dong...

Lisfa                : Kamera? Nikon? Laptop?

Saya                : Udaaaahh...

Lisfa                : Printer?

Saya                : *cengarcengir* Lupaa.....

Lisfa                : Ambil..........

Saya                : Gantian kamu gih yang ambil.... *Panikbangetsumpah

Akhirnya Lisfa lari-lari lagi ke atas buat ngambil printer.

Fyuuuhh.... Suasana mulai hening, saya ngumpet dikantin sambil ngeliatin kalau-kalau kak Lina lewat, pengen banget ngeliat kak Lina Panik. Nyatanya malah kami yang pada panik. Waduh...

Saya sms Kak Yudistira
Kau dimana? Cepetan, Panik nih!!
 Dan gara-gara saking paniknya saya malah nge-send itu ke kak Lina. Kacau... dan kak Lina Cuma ngejawab pendek
Hm...
Huhu... Mudah-mudahan nggak curiga.

Di tengah kepanikan nunggu, sampe es teh manis yang kita pesan udah habis. Kak Lina atau Kak Yudistira belum juga nongol. Makin deg-degan. Jam 9.30 Kak Yudistira datang, gak lama Kak Lina juga datang.... Huaduuh. Kak Lina naik ke kantor sementara kami bertiga ngumpet di belakang mobil sambil ngecek keadaan. Lalu menuju pusat informasi buat ngasih tahu kalo kita lagi ngerjain kak Lina.

Kami balik ke parkiran mobil, kak Lina kok nggak panik yaaaa? Kok malah kita yang panik? Kak Lina kok nggak nelpon kita... duh... Gak lama kemudian ada dua orang berbaju batik masuk ke kantor, gak tau siapa?  Gawat...

Yudistira         : Eh itu ada dua orang masuk kantor, siapa yaa?

Lisfa                : Waduh nggak tau, trus gimana nih?

Yudistira         : Kalian belum bilang sama kantor Nariba?

Saya dan Lisfa            : Belum......

Yudistira         : Duh, kenapa gak bilang? Yaudah kita ke atas sekarang. Siap-siap itu si Lina baru keluar

Dengan sigap kami langsung lari-larian lagi, saya ngambil kue yang dititipin di parkiran. Trus nyusul menuju kantor, ngos-ngosan...
Sampai di dalam kantor terlihat ada Pak Jo dan Bu Dewi, kaget ngeliat kita lari-larian.

Pak Jo              : Ya Allah.... Kalian ini, Cepet susul Lina, mau di aduin ke kantor pusat nih..

Jujur, saya dan teman-teman kelagepan, bingung.... Niat mau nyusul ke kantor nariba eh ka Lina duluan sampe kantor. Pas ngeliat kami di depan pintu, cengengesan sambil bawa kue. Kak Lina nangis...... wkwkwkwk..... Ternyata jagoan bisa nangis juga. Kita ketawa ngikik sambil dipukul-pukul kak Lina. Wuahahahaha....  Gara-gara hal ini bukan cuma kantor Muzakki yang heboh, tapi bikin heboh satu gedung.

Ye, ye, ye... Berhasil Hore... #Nyanyialadora

MBAH..... Maaf yaaaa....

SELAMAT MENATA ULANG SETIAP SUDUT HALAMANMU, MBAH LINA.... :D 


Erny Binsa

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...