Tuesday, 29 September 2015

Pelajaran berharga dari Film “Everest”

Sebenarnya ini catatan latepost, hehehe... cuma kayaknya seru kalo ditulis. Sekitar 2 mingguan yang lalu film ini baru keluar, saya dan teman-teman langung nonton film ini dihari pertama film ini keluar. Kebetulan temen-temen saya yang lain juga pecinta alam, jadi pas diajak nonton ini pada mau aja.

Film Everest itu sendiri adalah film kisah nyata dari pendakian gunung everest pada tahun 1996 yang banyak memakan korban. Saya juga baru tahu kalo sebelum film ini tayang udah ada bukunya yang berjudul “Into thin Air” yang ditulis langsung sama orang yang selamat dari tragedi everest “John Krakauer”. Abis nonton filmnya saya jadi pengen baca bukunya. #beliinplis

Kalo kita nonton film 5CM tentang pendakian gunung semeru, kita pasti pengen langsung ke Semeru. Tapi berbeda kalo kita nonton Everest, kayaknya bakalan banyak yang bilang nggak untuk ke everest.

Film ini awali dari Rob Hall yang lagi pamitan buat ke gunung everest, gunung tertinggi di dunia. Saat itu istrinya lagi hamil tua trus ditinggalin. Huhuhu...

Rob Hall itu pemandu pendakian, saat sampai di Nepal dan pos pendakian ia bertemu kliennya Doug Hansen, Jon Krakauer,Yasuko Namba, dan Beck Weathers. Rob Hall juga bertemu dengan pemandu pendakian lain yaitu Scott Fischer dan Anatoli Bukreev.

Jadi saat itu ada 3 Tim yang akan ke puncak gunung everest. Disana mereka harus beradaptasi dahulu selama beberapa minggu, karena cuaca disana dingin bersalju. Ketika cuaca dirasa sudah baik mereka melanjutkan perjalanan ke puncak, namun karena cuaca tidak menentu mereka harus kembali lagi ke pos dan kembali mendaki, perjalanan sempat terhenti karena tidak ada tali sehingga harus dipasang dulu, belum lagi saat melewat jembatan yang bawahnya jurang, extrem banget.
Suatu ketika mereka bercerita apa alasan mereka mendaki gunung everest jawabannya bermacam-macam, ada yang mencari jati diri, ada yang sudah mendaki 6 puncak tertinggi di dunia dan ini adalah puncak ketujuh yang akan di daki, ada lagi yang bilang kalo dia datang kesini diongkosin anak didiknya yang ingin melihat guru mereka berdiri di atas puncak.

Perjalanan masih berlanjut, disini terlihat sekali sisi egois beberapa pendaki. Ada yang kekeuh gak mau pake oksigen, padahal oksigen itu penting melihat kadar udara di atas puncak sangat minim.

Saat itu mereka mulai summit, diperjalanan demi perjalanan, selangkah demi selangkah dilakukan untuk menaklukan puncak tertinggi dunia. Gunung Everest.

Tragedi demi tragedi mulai terjadi, pertama saat doug merasa tidak bisa melihat. Alhasil ia menunggu di tengah perjalanan sementara yang lain melanjutkan perjalanan. Hingga akhirnya mereka bisa sampai ke puncak. Mereka saling berpelukan, hanya sekitar 5 menit mereka dipuncak padahal mendakinya berhari-hari berminggu-minggu. Mereka kembali turun, turun gunung ternyata lebih sulit dibandingkan saat naik. Saat itu terlihat beck yang masih berusaha menuju puncak, padahal Rob Hall sudah bilang kalau sudah saatnya mereka turun. Tetapi beck tetap kekeuh karena puncak sudah di depan mata. Akhirnya terpaksa Rob hall mengantar Beck menuju puncak. Perjalanan turun yang seharusnya jam 2 siang pun harus molor beberapa jam. Saat itu Doug juga yang memiliki masalah pada matanya langsung mengikuti TiMnya turun ke pos.

Perjalanan turun lebih berbahaya daripada mendaki, saat Rob Hall dan Beck menuruni tebing-tebing yang curam dan dilapisi es, kebayang kan licin dan dinginnya. Saat itu Rob dan Beck sedang berada di zona kematian, zona kematian memang terkenal zona yang paling berbahaya di everest, banyak orang yang meninggal disini. Mereka berdua kehabisan oksigen dan saat itu terlihat awan hitam mengelilinginya, saat itu juga turun badai salju.

Beberapa pendaki yang turun sebelumnya banyak yang meninggal karena badai, dan hanya beberapa yang bisa dieksekusi.

Saat Rob ingin mencari oksigen, Beck menjatuhkan dirinya ke dalam jurang ia tidak ingin menyusahkan Rob untuk turun ke pos saat itu memang beck sudah tidak sanggup lagi.

Scott Fischer menyusul Rob, setelah ia ketahui bahwa beck sudah tiada. Mereka harus menunggu hingga badai selesai, persediaan oksigen juga sudah habis, mereka tidur semalaman badannya beku semantara Scott fischer mengalami hipotermia, ia membuka bajunya dan jatuh ke dalam jurang.

Hanya tinggal Rob di puncak gunung, tubuhnya beku namun ia masih hidup. Nah disini kisah romantisme Rob dan istrinya dimulai. Saat itu Istri Rob memberikan semangat kepada Rob agar ia menggerakkan tubuhnya dan turun. Melalui HT yang ia bawa dan tersambung ke pos pendakian. Tetapi pada akhirnya Rob meninggal di zona kematian gunung everest.

Saat itu saya hanya menghela nafas panjang, film yang dari awal sudah menegangkan akhirnya saya bisa bernafas juga.

Korban selamat yaitu john krakuer mengaku sangat menyesal karena mendaki everest. “Pendakian gunung everest adalah kesalahan terbesar yang pernah terjadi dalam hidup saya, saya berharap tidak akan pernah lagi kesana,” saat itu john menderita Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Tetapi ia senang karena sudah bisa membagi pengalamannya melalui menulis buku.

Seperti kata Anatoli Boukreev“Manusia selalu mencoba bersaing dengan gunung dan gununglah yang selalu menjadi pemenang.”


Jakarta, 30 September 2015
Salam petualang

Erny Binsa










Monday, 28 September 2015

Traveling Alone or Together?

Bismillahir rahmaanir rahiim...


Pernah jalan-jalan?
Boong yang bilang gak pernah. Buat saya jalan-jalan itu penting, bukan sekadar buang-buang uang sehingga kita dianggap orang yang hedonis, jalan-jalan itu gak perlu pake uang, yang penting punya kaki untuk berjalan.

Buat saya melakukan perjalanan atau berpetualang itu ibarat mencari ilmu, meyusuri tempat-tempat yang kadang bikin kita tergugah, berkata wow bahkan sambil koprol, tuh kan mulai kemana-mana deh ini tulisan.

Travelling enjoy  the experience (bener gak tuh tulisannya) artinya perjalanan adalah menikmati pengalaman. Ada yang bilang katanya buku itu adalah jendela dunia, sedangkan perjalanan adalah pintunya. Aniway, Kalo bisa lewat pintu ngapain juga lewat jendela? #ajaransesat# 

Tapi sebenernya bukan itu yang mau saya bahas sekarang, saya sering melakukan perjalanan sendirian, bersama teman, bersama keluarga, dan lain-lain. Kalo di tanya kalian lebih suka jalan-jalan sendiri atau bersama-sama? Ayo jawab! Saya pribadi menyukai keduanya, namun ada perbedaan yang menarik untuk di ulas, ini dia teori sotoy saya.
Cekidot!



Jalan-jalan sendiri
  1. SAYA BEBAS
Bebas ngapain neh? Ya, ngapain aja. Pokoknya judulnya suka-suka. Saya bisa mengatur jadwal dan waktu sendiri, dan ke tujuan mana saya mau pergi gak ada yang ngelarang.

2.  KOREKSI DIRI
Ini yang paling penting buat saya, kadang kalo lagi jalan-jalan sendiri, ada sesuatu dari diri saya yang lain, saya bisa mengenal diri saya lebih dekat, jarang-jarang saya berdialog dengan hati, mendengar kata hati, juga berpikir tentang banyak hal yang gak bisa saya dapatkan kalo lagi rame-rame. Sensasinya berbeda.

3. MENIKMATI NYASAR
Jujur deh, saya mending nyasar sendiri daripada ngajak oranglain. Kadang-kadang suka gak enak kalo temen yang saya ajak jalan malah nyasar. Dulu pernah ada pengalaman temen saya marah-marah sama saya gara-gara saya sebagai petunjuk jalan malah lupa jalan, muter disitu-situ aja, makanya saya lebih seneng nyasar sendiri, jadi gak ngerugiin temen yang saya ajak.

4. NGOBATIN STRES
Kalo lagi stres saya bisa pergi ke tempat-tempat yang sunyi, mau marah kek, mau nangis kek, mau melakukan apapun itu terserah, sepulangnya perasaan jadi lega. Hoho sisi melankolis keluar.

5. CEPAT & NYANTAI
Saya kalo sendiri suka berjalan cepat tapi lebih nyantai dan ringkas tanpa harus nunggu. Lebih banyak mengeksplorasi sekitar, puas poto-poto sekitar, puas memandang keindahan alam selama apapun tanpa ada yang ngomong “Er, pulang yuk!”

6. RESIKO BESAR
Memang tidak dipungkiri, melakukan perjalanan sendiri itu resikonya lebih besar, seluruh tanggung jawab ada di diri kita sendiri. Kalo ada masalah gak ada yang nolongin. Kasihan ya?

7.  KETERBATASAN
Kok? Iya, karena sendiri saya kadang juga takut kalo jalan yang terlalu jauh, terlebih ke tempat asing yang belum pernah saya kunjungi. Kalo gak nekat, saya gak akan pergi kemana-mana. Tapi kan perempuan? Nah, itu dia keterbatasannya gak usah saya jelasin.

8.  KETEMU TEMEN BARU
Kalo selama perjalanan jauh nih, semisalnya waktu naik kereta, saya lebih suka baca buku selama perjalanan. Jadi temennya buku? Iya dong, buku kan teman perjalanan yang baik. Namun, gak jarang saya pernah juga dapat temen baru yang bener-bener baru, itulah yang dinamakan teman seperjalanan, hanya sekadar basi-basi, mengetahui arah tujuan kita begitu pula sebaliknya.




JALAN RAME-RAME 

1. LEBIH ASYIK, LEBIH SERU

Gak harus merasakan sepi dan sendiri. Bisa sama-sama melakukan aktivitas seru bareng-bareng, bisa bincang-bincang mengenai banyak hal selama perjalanan dan bikin waktu gak kerasa, eh udah sampe.

2. ADA HIBURAN
Kalo jalan bareng-bareng gak mungkin kan pada diem-dieman? Kecuali kalo ada masalah selama perjalanan itu. Kita akan banyak dapat hiburan, becanda, bercerita pengalaman masing-masing, asik mendengarkan yang satu ngomong, terus yang satu nimpalin, lalu ketawa bareng-bareng.

3.  MENGIKAT UKHUWAH
Pergi bersama-sama bisa saling tolong menolong, saling mendukung satu sama lain, mempererat ikatan ukhuwah antar sesama, ini penting untuk perjalanan masa depan. Yang periang bisa menghibur yang murung, yang kuat membantu yang lemah, dan lain-lain mikir sendiri.

4.  MEMAHAMI KARAKTER
Dengan jalan bareng, kadang saya jadi mengerti sedikit demi sedikit karakter orang. Ada yang ngeluh mulu minta pulang, ada yang egois, ada yang penakut, ada yang gak mau diajak susah, ada yang, ah macem-macem. Karakter mereka bener-bener kebuka disini, buat saya itu bonus, karena saya bisa lebih tahu banyak tentang teman-teman.

5.  LEBIH AMAN
Kalo bareng-bareng, resiko lebih ringan daripada jalan sendiri, senggaknya ada teman berbagi kesusahan. Gak bakal ada yang berani ngeroyok orang kita juga mainnya kroyokan.

6.  LAMA NUNGGU
Belum jalan udah kelamaan nunggu, ini sering banget. Lama mandi, lama dandan, lama di kamar mandi, kadang geregetan. Berjalan rame-rame juga jadi lambat, yang satu ketinggalan di belakang, yang satu jalan kecepetan, yang satu asyik menikmati pemandangan dan lain-lain, sementara perjalanan belum sampai. Jadi lebih lama, kan? Tapi harus ingat, gak ada sejarahnya ninggalin temen hanya karena mereka gak bisa mengikuti kecepatan kaki kita. Gak peduli lama nunggu, pergi bareng maka harus pulang bareng.

7.  BEDA PERSEPSI
Ini kadang yang jadi masalah, ada yang suka sok tau pinginnya ke sana, ada yang pingin beli oleh-oleh dan belanja, ada yang cuma duduk aja nunggu temennya belanja, ada yang cemberut aja. Ada juga yang pengen buru-buru, ada juga yang santai. You nowlah...


Tuh banyak kan? Itu pengalaman yang saya dapatkan ketika jalan-jalan sendiri atau sama-sama, ada kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Siapa bilang yang namanya jalan-jalan hanya senang-senang aja? Itu pendapat yang salah, kadang banyak hal penting yang bisa kita dapat, gak sekadar kesenangan semata, tapi perjalanan bisa mengubah banyak hal, mengubah pikiran, mengubah sikap tentang makna hidup menjadi lebih baik jika kita memahaminya. Jalan-jalan itu bukan hanya untuk orang yang punya uang, kalo kita orang miskin justru kita harus banyak jalan-jalan.

Mau sendiri atau sama-sama, terserah aja, yang penting bisa melakukan perjalanan.
Mau jauh mau deket, terserah aja, yang penting bisa menikmati perjalanan.
Mau jalan kaki atau naik kereta, terserah aja, akan banyak keajaiban yang kita dapatkan selama perjalanan.

perjalanan akan mempertemukan kita pada hal-hal baru yang gak kita dapatkan di bangku sekolah.

Ayo jalan-jalan, jangan di rumah terus. Ada juga yang pernah bilang begini:
“Kalau kita berkutat dengan kekhawatiran soal keamanan dalam travelling, maka kita tidak akan kemana-mana. Masuklah ke dalam kamar, kunci pintunya,  tidur manis di kasur empuk, dan kita akan aman.”
Tapi, kerjaan kita kan gak cuma tidur doang.

Ayo angkat ransel guys...





Salam manis dari temanmu

Erny Binsa

Friday, 25 September 2015

Sepenggal Kisah di Pedalaman Baduy



Bismillahir rahmanir rahim…

            Saya selalu menikmati sebuah perjalanan, dan beberapa pekan yang lalu saya menuju pedalaman Baduy. Sebenarnya untuk tahun ini perjalanan ke Baduy tidak ada dalam daftar list yang akan saya kunjungi. Namun, entahlah. Saya juga tidak menyangka bisa sampai disana.
            Suku Baduy terbilang unik dan berbeda dari lainnya. Mereka masih menjunjung tinggi adat istiadat dan saya memberi jempol untuk orang-orang yang masih bertahan dengan kehidupan di Baduy khususnya Baduy Dalam.

            Sebelum menuju Baduy Dalam kami diperkenalkan dengan seorang bapak-bapak bernama Mang Alim. Beliau suku Baduy asli dan kami akan bermalam di rumahnya. Mang Alim mewakili suku Baduy Asli, Suku Baduy Dalam memakai baju warna putih, memakai ikat kepala, jalan tidak memakai sandal. Mereka berbahasa sunda.
            Sebelum keberangkatan menuju Baduy, Mang Alim memberikan petuah sebelum melakukan perjalanan sekitar 2 jam dari Desa (Saya lupa nama desanya) sebut aja desa itu.
            “Nanti di Baduy nggak boleh ambil gambar. Kalau sudah diperbatasan menuju Baduy Dalam. Semua kamera masukkan ke dalam Tas, gak boleh foto-foto,” kira-kira begitu yang Mang Alim omongin. dalam hati saya menjerit.
            Hah kenapa? Kenapa Mang Alim? Kenapa nggak boleh?
            Saya rasa semua orang selalu punya aturan, begitu pula dengan orang-orang Suku Baduy, mau nggak mau kami sebagai pengunjung harus mengikuti aturan mereka. Kalau nggak suka? mending pulang aja.

            Perjalanan kami sekitar 2 Jam ke Baduy dalam, tanpa kendaraan. 2 jam bisa dibilang tidak terlalu jauh tetapi halang rintangnya itu yang membuat saya terkagum-kagum. Naik turun, naik turun, hingga harus beberapa kali beristirahat sebelum sampai ke tempat tujuan.
            Sebelum keberangkatan saya memang sudah terlebih dahulu mencari referensi tentang Baduy. Namun, ibarat kata ‘Orang desa ke kota itu norak, tapi orang kota ke desa itu lebih norak lagi’ Saya baru menemukan ada sebuah desa terpencil yang modelnya begini. Di Baduy, selain tidak boleh foto-foto semua juga dilarang mandi pakai sabun, sikat gigi pakai odol, karena hal tersebut bisa mencemarkan. Semua rumah-rumah mereka berdiri di atas batu, pintu bambu tanpa kunci, tidur dengan alas tikar seadanya, masak dengan tungku, kesehariannya tanpa listrik. Pokoknya, Sesuatu.
            Dan hal yang paling emergency adalah tidak adanya kamar mandi. Segala hal yang berhubungan dengan mandi, BAB, BAK, cuci piring, ngambil air untuk masak, semua berawal dari satu tempat, Sungai. Well, bisa kebayang, kan?
            Selain itu untuk kamu-kamu yang merasa bule, jangan harap bisa masuk ke Baduy, karena mereka melarang keras kalau ada orang luar yang mengunjungi Baduy. Sebenarnya saya juga termasuk blasteran sundawi alias sunda betawi dan takut nggak boleh masuk Baduy. Tapi, Alhamdulillah saya aman-aman aja karena saya bisa dibilang bule gagal. :D
            Di dalam Baduy dalam, saya tidak menemukan ada sekolah. Banyak anak-anak yang bermain di sana, orang tua mereka memang melarang anak-anaknya untuk sekolah. Menurut pandangan mereka, anak-anak yang sekolah akan menjadi pintar dan orang pintar kebanyakan suka membodohi orang lain. Hm, kira-kira masuk akal nggak sih?
#Mikirkeras

            Satu hal yang saya salut adalah mereka berpergian tidak menggunakan kendaraan. Saat Mang Alim cerita, ia pernah ke Jakarta tepatnya pondok indah dengan jalan kaki, nyeker pula, baru sampai kota setelah dua hari. Beliau mengatakan, bisa saja ia naik kendaraan tetapi itu sama saja dengan membohongi diri sendiri. Itu adalah aturan dan setiap aturan harus dipatuhi.

            Malam hari di rumah Mang Alim, saya dan teman-teman banyak berbincang mengenai baduy. Banyak bertanya hal-hal yang menurut kami tidak masuk akal. Seperti, kenapa tidak boleh pakai listrik? kenapa tidak boleh pakai sabun, sampo, odol? kenapa tidak boleh menyalakan handphone, kamera, radio? Dari pertanyaan yang bejibun itu, sebenarnya yang saya tangkap hanya ada satu jawaban. Mereka menjunjung tinggi adat istiadat, memang suah aturannya begitu, sebagaimana amanat buyut yang saya baca, ada yang tertulis ‘Panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung,’ Contoh kecilnya, rumah-rumah mereka yang dibangun sederhana, tanpa tembok beton, tanpa paku, tanpa pintu, karena jika ditambahkan hal-hal lainnya artinya sudah menyalahi kode etik perbaduyan, halah… :p

            Setelah menginap satu malam di baduy dalam akhirnya pagi-pagi kami harus meninggalkan desa unik itu, menuju baduy luar, lalu ciboleger. Karena katanya perjalanan pulang lebih terjal dan berbatu, pun menghabiskan waktu lebih dari empat jaman. Jaman apa aja tuh? Dan memang benar, perjalanan pulang lebih melelahkan, nanjak mulu. ½ km jalanan nanjak terus, ½ km  jalanan menurun terus. Nggak ada lurus-lurusnya ini jalan.
            Maka dari itu di tengah perjalanan saya dan teman-teman meminta dicarikan kayu untuk penopang karena gak kuat nanjak, jadi malu sama Mang Alim yang udah tua tapi masih kuat berjalan. Ketika Mang Alim sibuk memotong tangkai-tangkai pohon tiba-tiba Mang Alim berteriak ke arah teman saya.
            “Hei, Kamu jangan berdiri di situ,” kata Mang Alim. Spontan kami mendekat ke Mang Alim.
            “Emang kenapa, Mang?”
            “Itu, di situ ada pohon,” (Mang Alim menyebut nama pohon, tapi saya lupa). Kami menunggu detik-detik kelanjutan cerita Mang Alim, berharap Mang Alim memceritakan hal-hal mistis tentang pohon tersebut.
            “Kenapa emang kalau berdiri di bawah pohon itu, Mang?” rasa penasaran kami semakin menggebu.
            “Nanti takut rubuh.”
            #Gubraaaaaaaaaak
Kirain apaan. Mang Alim bisa ngelawak juga ternyata. Tetapi bener juga sih. :D

            Meskipun begitu orang-orang Baduy itu ramah-tamah dengan orang pribumi, entah tutur katanya, sifat sopan santunnya, mereka menghormati tamu yang datang dan siap menjamunya sebaik mungkin. Jadi terharu…
            Perjalanan ke Baduy memberikan kesan tersendiri untuk saya. Indahnya sebuah perjalanan memang hanya diri sendiri yang bisa mengukurnya, karena kita sendirilah yang menikmatinya. Suatu saat kalian bisa coba kesana dan rasakan sensasinya. J

















































(Kenangan 3 tahun lalu)


Erny Binsa

Friday, 18 September 2015

Father is Love



Bismillahir rahmaanir rahiim...

Semoga bisa berbagi pengalaman... :) 
Sampai sekarang saya tidak mengerti tentang cara pengajaran ayah saya terhadap saya, mengapa saya diperlakukan berbeda?

Sewaktu kecil dulu Ayah tidak pernah membelikan saya boneka seperti halnya teman-teman saya.
“Eh aku dibeliin boneka barbie sama ayah dong,” jujur, tidak ada rasa iri sebenarnya. Saya hanya merasa bingung mengapa ayah justru membelikan saya mobil tamiya?

Ketika lebaran idul fitri, ayah sering mengajak saya untuk membeli baju baru. Dan saya masih ingat sekali ayah memilih baju bergambar tazmanian devil untuk saya, kenapa bukan baju princess, cinderella, atau apapun yang bernuansa ‘perempuan’. Ditambah celana levis yang banyak memiliki kantong dan jaket tebal. Itu kan baju cowok? Dan sejak kecil saya sudah memakai pakaian seperti itu sampai SMA.

Ayah tidak banyak bicara, saya juga jarang bertanya. Hanya yang pernah saya tangkap dari pernyataan saudara saya, kalau ayah menginginkan anak lelaki. Kakak saya keduanya perempuan, tapi mereka masih dianggap wanita normal sebagaimana mestinya  >_

Sejak kelas 5 SD ayah sudah mengajarkan saya cara mengendarai motor, bermain layang-layang di lapangan, main futsal, main badminton, main kelerang, dan lain-lain. Sehingga saya tumbuh menjadi wanita yang tidak biasa. Jadi hobby malakin orang dan bikin nangis anak orang. Itu dulu sih waktu masih SD. Sampe-sampe ada temen saya yang pindah sekolah. :( Maafin akuuu yaaaaa....

Tapi, ayah paling tidak suka melihat saya mandi hujan. Jika ketahuan saya langsung dihukum seharian penuh tidak keluar rumah, duduk bersila sepanjang waktu. Saya tidak tahu mengapa ayah tidak begitu menyukai hujan. Seperti waktu dulu, sepulang sekolah hujan deras sementara saya takut ketahuan mandi hujan. Saya melihat ayah datang membawa payung besar dengan jalan kaki, saya digendong kuda sambil sampai rumah. Dan seingat saya itu pertama kalinya ayah menjemput ke sekolah.

Semasa SMP saya dibelikan sepeda bmx oleh ayah, dan saya juga tergabung dengan geng sepeda di sekolah. Lain hal saya tidak masuk ekskul Rohis seperti yang teman-teman tanyakan. Belakangan ini ada beberapa teman yang bertanya.
“Er, kamu anak rohis yaa...?”saya hanya tersenyum, kalian salah menilai saya, barangkali hanya tertipu penampilan yang melekat di tubuh saya saja. Justru saya masuk ke dalam ekskul basket, dan yang berhubungan dengan olahraga, dulu saya suka olahraga.

Hingga suatu ketika ayah pernah bertanya tentang cita-cita.
“Kamu mau jadi apa udah gede?”

“Jadi Guru, dong.”

“Jadi Polwan aja, kayak temen Papa,” hah Polwan? Polisi wanita?

“Wah asik tuh, gimana caranya jadi polwan?”
Ayah tidak menjawab, tapi saya begitu tergiur dengan ajakan ayah. Jadi polisi pasti keren, apalagi polisinya wanita. 
Hingga sewaktu SMA saya tergabung di Pramuka Saka Bhayangkara, semua ilmu tentang kepolisian saya dapatkan di sana, ayah juga membekali saya dengan sebuah pistol dan borgol. Ayah dapat darimana coba barang begituan? Mana asli pula lagi. Serem juga bawanya.

Sewaktu mengikuti Kebayangkharaan, saya lebih sering terjun ke jalanan. Latihan fisik dan mental, senam tongkat, senam borgol, latihan refling, cleambing, dll jadi jarang ada di rumah dan asli capek banget. Setahun saya mengikuti latihan ternyata fisik saya nggak kuat dan saya memutuskan berhenti setelah beberapa hari dilantik. Yang penting kan dapat pengalamannya, ayah tidak marah sama sekali, ia hanya tidak berkomentar.

Sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk berubah, saya seorang perempuan dan hakikatnya saya memang tidak bisa melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan lelaki. Kodrat saya perempuan, tidak bisa berubah. Maka, saya mohon maaf jika sampai detik ini saya masih belum bisa sepenuhnya mengubah sikap. Banyak hal yang membutuhkan proses panjang, sebab jati diri bukanlah untuk diubah, namun dibentuk. Semoga saya bisa membentuknya sebaik mungkin.

Saya teringat beberapa waktu lalu teman saya bertanya:
“Kalian pilih ayah atau ibu?” Spontan saya dan teman saya Lisfa menjawab “Ayah” tanpa berpikir panjang. Sementara teman saya sok mikir.

“Kenapa ya kalau perempuan itu lebih deket sama ayahnya, sementara anak lelaki lebih dekat dengan ibunya? Itu hasil penelitian lho,” katanya, sebenarnya saya tidak begitu peduli dengan penelitian. Saya menyayangi keduanya melebihi apapun di dunia. Tetapi ayah memang berbeda, ia mengajari saya dengan caranya sendiri, membuat saya menjadi lebih berani.  Saya tidak disuguhi dengan berbagai macam boneka, barbie, gaun cantik, tas, atau apalah sejenisnya, justru sebaliknya, ia mengajarkan saya tentang sebuah hal yang tidak biasa dilakukan wanita pada umumnya. 


Erny Binsa



Tuesday, 15 September 2015

Apes Day at Warso Farm (one day trip)

Bismillahirrahmanirrahim

Kenapa judulnya ada kata apes? Saya gak bakal ngebahas itu sekarang.  Mending baca aja dari awal sampe akhir, bakal kejawab kok.  Hihihi...

Weekend kemarin,  bingung mau ngapain,  bingung mau kemana,  beberapa temen pada punya acara sendiri.  Alhasil malam sabtu saya inisiatif buat ngajak temen ke bogor.  Setelah cek google terpilihlah destinasi ke warso farm.  Ada 2 temen saya yang ikut, pidun dan ayen,  untungnya keduanya alay. Tapi mereka malah bilang kalo Warso adalah warung soto -_- Ngapain jauh-jauh ke bogor buat makan soto. Padahal warso kan tempat jualan duren, pertanyaannya adalah ngapain jauh-jauh ke bogor cuma buat makan duren?

Kenapa ke warso farm?  Karena kita bertiga suka duren. So,  warso farm ntu perkebunan duren punya Pak Warso yang lebarnya sekitar 8,5 ha, berkelilinglah sampai gempor. Nah disana kita mau ngerasain makan duren langsung dari pohonnya pak warso,  apalagi kita masuk ke perkebunannya gratis!  Yes…

Rencana ke Warso hampir gagal karena ternyata Ayen hari sabtu masih kerja setengah hari.  Akhirnya karena saya bete pengennya tetep jalan walaupun berdua sama pidun.  Eh ternyata ayen mau ikut juga,  yaudah nunggu dia pulang kerja.  Jadi deh berangkat jam 2 siang kurang dikit sih.

Karena kita nggak ada yang bawa kendaraan,  alhasil kali ini judulnya ngeteng day. Karena di daerah rumah pidun ini ga ada mobil ketengan,  kita akhirnya naik bajai ke stasiun tanah abang.  Awalnya abangnya nawarin 40rb,  tapi Pidun dengan semena-mena nawar 15rb -_- masih mending gue nawarnya 20rb,  meskipun tetep aja abangnya gak mau. Yaudah deh nambah goceng lagi kita langsung capcus ke stasiun tanah abang.  Masih kondisi girang girangnya mau backpackeran, kita sempatkan selfie di dalam bajai.  #alay (anak layangan)

I m coming warso farm...

Kita naik Kereta Jam setengah tiga. Dengan biaya perjalanan goceng + asuransi kartu 10ribu yang bisa dibalikin. Perjalanan lumayan lama di kereta keretanya kebanyakan berenti sih.  Alhasil baru sampe di stasiun bogor jam 4. Dan masih ketar ketir secara warso farm tutup jam 5 sore, keburu gak nih?  Tapi, kita mah optimis aja masa udah sampe di bogor mau pulang lagi, yaudah kita langsung naik angkot 02 ke arah ramayana atau BMT. Ternyata ga jauh dari stasiun,  cuma sekitar 5 menit naik angkot udah gitu macet lagi angkotnya.  Mending jalan kaki aja!

Sampe di BMT,  menurut artikel yang saya baca katanya sih jalan kaki ke sebelah kiri BMT, ada turunan dan disitu tempat nunggunya. Nah dari situ kita kudu naik mobil angkot sekali lagi ke arah cihideung.  Menurut informasi kita kudu naik angkot nomor 04A,  A nya kecil katanya,  dan saya gagal paham apa maksud A kecil ini. Beberapa mobil yang kita setopin udah penuh,  eh yang paling nyebelin saat kita setopin angkot dari jauh,  tuh angkot berhenti,  giliran kita ngejar ngejar eh dia malah tancap gas,  kurang aseeeem... Maunya apa sih tuh angkot. 

Setelah menunggu lumayan lama akhirnya ada juga angkotnya, nggak lupa kita tanya arah tujuan menuju Cihideung. Katanya sih kita turun pas mobilnya berhenti terakhir di cihideung.  Yaudah kita santai santai ngobrol ngarul ngidul di angkot. Nggak terasa udah satu jam lebih di angkot padahal menurut artikel yang saya baca di google paling cuma 15 menit ajah udah sampe cihideung. Waktu udah jam 5 lewat,  dan makin yakin kalo warso farm udah tutup.  Huhuhu...

Di angkot kita udah ngobrolin kalo warso farm udah tutup, kita nginep di terminal aja atau di masjid,  besok baru makan duren, yeah..  Tanpa ada perbekalan sedikitpun,  baju,  makanan,  kita bakalan jadi musafir.

Karena sebel kelamaan di angkot akhirnya ayen buka suara sama ibu ibu...  Cieee...
"Bu kebon duren masih jauh ya?" si ibu sempet bingung.
"Warso bu..  Warso farm.. " kata saya.
"Oh warso  mah udah kelewatan jauh,  bukan lewat jalur yang ini. Turun aja dulu naik angkot lagi, balik lagi sampe perempatan."
Huhuhu ini mah namanya kisah sedih di hari sabtu... #nyanyialamarshanda

Trus maksudnya dari angko 04A apa? Kenapa kita dibawa nyasar? Kita balik lagi sampe perempatan, cuma saya bingung aja sih kata si ibu perempatan tapi kita diturunin dipertigaan.  Aneh yah...  Menurut pak supir sih bener turun dipertigaan dan kudu naik angkot lagi yang warna ijo.  Dan ada secercah harapan buat kita, kata pak supir, warso farm buka sampe malem.  Yes,  kembali optimis melanjutkan perjalanan.

Di pertigaan nunggu angkot lama lagi. Udah gitu mulai gerimis,  kita naik angkot menuju warso farm.  Di tengah perjalanan ada kejadian unik bin aneh.  Tiba tiba ada banyak motor yang ngejar ngejar angkot yang kita tumpangin,  pikir saya apa nih supir angkot punya utang ya sampe dikejar begitu,  keroyokan,  udah gitu itu orang orang di motor SKSD gitu,  ngomong pake bahasa sunda,  aduh jangan jangan penculikan nih.  Ternyata mereka adalah tukang ojek yang cari penumpang dengan cara begitu,  idiiih tukang ojek kok nyeremin begitu.

Turun angkot saya ga ngerti terminal cihideung dimananya,  yang jelas kata bapak supir kita jalan kaki lurus udah ketemu warso farm. Dan alhamdulillahnya kita nggak di phpin, jalan sebentar kita sampe di TKP.  Kita lari larian masuk gerbang warso karena kondisi hujan dan waktu udah jam 5.30. Alhamdulillahnya lagi warso farm masih buka.  
Mejeng dulu, biar gak dibilang no pict hoax

Ini yang namanya pidun

Kalo ini namanya ayen

Kita dianterin naik mobil ke atas gak jauh sih,  mau cari pohon duren tapi saya gak nemu pohon durennya yang katanya ada 900an pohon itu,  ternyata gerbang menuju perkebunannya udah ditutup.  Huhuhu...  Jauh jauh sampe gerbangnya doang.
Nah kan bener cuma kefoto gerbangnya doang... -__- gak bisa masuk

Oleh-olehnya cuma ini aja, ga tau juga nama pohonnya apa

Langit mendung, menuju magrib

Jalanannya begini menuju gerbang perkebunannya

Akhirnya kita menuju tempat penjualan duren dibawah deket pintu masuk,  sebelum kehabisan kita mau cobain duren dari tersebut.  Sekarang harganya 45rb sekilonya,  udah gitu kiloannya diitung sama kulit kulitnya.  Kita pesen satu dulu karena bentrok azan magrib,  nanti bakalan ngelanjutin makan duren lagi setelah solat. Selesai solat magrib kami kembali ingin menikmati duren tapi… tapi… tempatnya udah tutup!  Huhuhu… #nangismeraungraung

Dalam kondisi masih lapar kami akhirnya pulang membawa kenangan, kenangan pahit yang gak akan kami lupakan sampai tua nanti, dan ternyata kenangan itu masih ada lanjutannya. Jangan dipikir sampe warso farm kita udah sukses makan duren walaupun gak puas puas banget.

Akhirnya kami pulang, nunggu angkot dan herannya itu angkot setiap diberhentiin pakai lambaian tangan gak mau berhenti, maunya apa sih. Setelah diberhentiin sama ibu-ibu baru mau.. iuh.. kita langsung naik setelah tanya jurusan menuju bogor kota.

Di perjalanan diangkot saya buka aplikasi jadwal kereta dari bogor dan saya bahagia karena kereta ke tanah abang masih ada sampe jam 12 malam. Tapi sepertinya Pidun agak ragu sama pernyataan saya, alhasil di cek lagi aplikasinya. Dan eng ing eng… ternyata saya salah, yang saya liat jam 12 siang… hohoho ternyata kereta malamnya terakhir jam 10 malam. Huhuhu… sementara kita belum tahu sampe stasiun jam berapa. Secara ini macet buangettttt… apalagi ada perbaikan jalan, jadi jalanannya ditutup buka gitu deh.

Diperjalanan kita masih ketar ketir takut ketinggalan kereta, masalahnya udah 3 jam kita merengut di angkot, ketawa ketiwi gak jelas selama macet. Saya juga sempet mau numpang tidur di rumah sodara deket stasiun dan karena saya ga tau alamat rumahnya jadilah saya mau nelpon sodara saya, dan ternyata hp saya mati karena kekurangan energi, apes banget…

Yaudah deh akhirnya kita rela-rela aja kalo harus nginep di stasiun Bogor. Sampe di stasiun bogor kita lari-larian menuju loket. Pas ngecek Alhamdulillah kereta terakhir menuju tanah abang baru aja berangkat. L #garuk-garuktanah Kita ketinggalan kereta juga akhirnya, meskipun pas di angkot saya juga udah optimis bakal ketinggal kereta, eh kejadian beneran kan…

Tapi masih ada kesempatan untuk pulang, kita naik kereta menuju stasiun manggarai, tahu kan stasiun yang pernah masuk film, dan katanya sih stasiunnya angker, kalo yang ada di filem sih pas naik kereta malam dari stasiun manggarai taunya penumpangnya setan semua. Idih… kenapa saya jadi cerita begituan yak…

Meskipun begitu kita sampai di stasiun manggarai baik-baik aja, gak ada yang aneh-aneh meskipun waktu udah jam 12 malam lewat. Alhamdulillah kita sampai di rumah dengan selamat.

(Before) Selfie di dalam bajai

(After) Selfie ketinggalan kereta



Salam petualang


Erny Binsa

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...