Tuesday, 1 August 2017

Menjadi Mata Untukmu



“Kak,  apa yang ada di pikiran lu saat pertama kali bertemu dengan orang kayak gw?”


Tiba-tiba ada pesan masuk isinya begitu, saya musti jawab apa ya? Ngomong-ngomong teman saya itu tuna netra, entah dia kesambet apa tiba-tiba nanya begitu.

Saya jadi ingat pertama kali bertemu dengan teman-teman istimewa, khususnya mereka yang tuna netra, kayaknya yang saya lakukan saat itu cuma mengamati dari kejauhan. Saya masih mikir gimana cara berinteraksi dengan mereka, saya takut kalau saya salah ucap nanti malah menyakiti hati mereka, maka dari itu butuh waktu yang agak lama untuk bisa akrab dengan mereka. 

Pertama kali saya berkenalam dengan seorang anak bernama Senna, seorang tunet yang punya minat di menulis.  Dia masih sekolah SMA ketika itu, kami belajar bersama di FLP Ciputat. Saya mikir keras,  ini anak gimana cara nulisnya yaa?  Emangnya dia bisa tau keyboard itu letak abjadnya ada di mana? Saya aja sering banget typo.

Suatu saat Senna mengajari saya gimana caranya dia bisa menulis, eh ternyata laptopnya bisa ngomong. Maksudnya tulisan yang sudah diketik Senna akan mengeluarkan suara, jadi dia tau kalau ada kesalahan dalam tulisannya.  Saya cuma manggut-manggut, sungguh betapa ribetnya. 

Begitu juga saat ia memainkan ponselnya, terkadang saya tersenyum melihatnya, betapa seringnya kita menatap layar ponsel, tetapi teman saya itu tidak bisa menatap secara langsung, hanya modal pendengaran dan gerakan jemarinya. Meski begitu Senna juga punya banyak prestasi, ia sering menang lomba menulis dengan segala keterbatasannya. 

Jalan-jalan ke Kota Tua

Hidup Menembus Batas

Dari mereka saya belajar bahwa kita bisa menembus batas. Kita bisa melawan segala kekurangan itu dengan prestasi dan kreativitas.  Lewat Senna saya berkenalan dengan teman-teman tuna netra lainnya, mulai dari Oki dan Rifki. Mereka semua mahir bermain musik,  Senna jago bermain flute, oki gitar,  dan Rifki biola. 

Latihan musik sebelum pentas
Suatu saat kami pernah manggung bersama  saat diundang menampilkan teatrikal novel tentang Hasan Al-Banna di Gramedia Matraman. Ditemani juga teman-teman saya lainnya,  kak lina,  lisfa,  ka yudis,  ka amel.  Sementara Senna, Oki, dan Rifki, mereka bertiga bermain insrumen musik. 

Sebelum tampil teater
Nah ini yang namanya Senna


Selesai pentas saat kegiatan di Gramedia Matraman

Terkadang saya berpikir, bagaimana seandainya dunia ini gelap. Mati lampu aja saya nggak betah, nggak berani, tetapi bagaimana mereka bisa hidup tanpa cahaya? Mereka pasti kesulitan melakukan banyak hal. Namun akhirnya saya percaya bahwa mereka mampu menembus batas. 
Saya tau mereka terkadang jauh lebih peka dibanding saya, dan hebatnya saya tidak pernah sekalipun mendengar mereka mengeluh dengan kehidupan yang mereka jalani, mereka selalu tertawa, selalu berpikir positif,  dan mereka juga punya mimpi. 

Mereka mungkin berbeda, tetapi jangan salah mereka juga bisa melakukan aktivitas seperti orang-orang pada umumnya, mereka juga bisa bekerja.  Mereka juga senang saat diajak nonton bioskop.  Suatu saat saya dan Lisfa mengajak Senna untuk nonton bioskop, sedikit tentang Senna, dia termasuk tuna netra total artinya tidak bisa melihat hal apapun. Coba bayangin gimana dia bisa nonton bioskop? 

Pengalaman itu seruu sekali, untunglah saat itu nonton film berbahasa indonesia kalo bahasa inggris saya nggak tahu apa yang akan terjadi..  wkwk mungkin sepanjang film itu saya baca subtitlenya. Sepanjang film diputar saya dan Lisfa bercerita secara bergantian, apa yang sedang dilakukan si tokoh, seakan kami adalah mata baginya.

Sebenarnya saya sendiri tidak tahu apa yang ada dibayangan Senna saat kami bercerita, walaupun kadang berisik juga sih diliatin orang-orang yang lagi menikmati film, untung ga ada yang protes. Hehehe...  Terakhir saya ketemu Senna adalah bulan puasa lalu, ngomong-ngomong sekarang dia lagi sibuk belajar dan menghafal Al-Quran dan dia sudah hafal 2 Juz.  Entah mengapa melihat mereka saya jadi malu dengan diri saya sendiri. 

Nah berbeda dengan Rifki,  dia termasuk tuna netra low vision meski masih bisa melihat tetapi penglihatannya lemah. Meski begitu dia jago banget main biola, bersama Rifki juga kami pernah berpetualang bahkan naik gunung bareng.

Mereka adalah sekolah bagi saya,  mengenal mereka membuat saya semakin bersyukur , saya senang pernah menjadi mata bagi mereka meskipun hanya sebentar.  Menjelaskan apa yang saya lihat, betapa indahnya segala hal yang ada di sekitar saya,  meski saya tidak bisa menjelaskan warna biru itu seperti apa? Warna putih seperti apa? Saya yakin hati kalian jauh lebih indah dari pada apa yang saya lihat. 

Saat kami bermain teater dadakan di Kota Tua

Terima kasih sudah mau berteman dengan manusia seperti saya dan terima kasih juga untuk kalian yang sudah baca :)


Salam, 


Erny Binsa

Tuesday, 18 July 2017

5 Tips Memilih Teman yang Asyik Diajak Berpetualang


Melakukan perjalanan seorang diri memang mengasyikkan, tetapi kalau bareng teman-teman pasti rasanya makin seru, bisa becanda dan ketawa sepanjang perjalanan, ada teman ngobrol, kalau kekurangan duit bisa pinjam, tentu saja ada yang bisa fotoin kamu selama perjalanan. Yah intinya kalau ada teman berpetualang itu artinya kamu punya teman yang bisa direpotin.

Nah, terkadang selama berpetualang kamu suka berbeda pemikiran dengan teman kamu, itu adalah hal yang wajar sih sebenarnya, toh setiap orang pasti berbeda. Itu semua tergantung bagaimana kamu mengatur ego. Tidak jarang kamu malah jadi kecewa karena perjalanan tersebut, maka dari itu pilihlah teman pertualang yang bisa membuat perjalananmu penuh kesan.

Nah, berikut ini Tips memilih teman yang asyik kamu ajak berpetualang:

1. Teman yang Sehobi

Ajaklah teman yang memang suka jalan-jalan seperti kamu. Kalian bisa memilih destinasi yang seru, biasanya teman yang hobi jalan memiliki banyak pengetahuan mengenai tempat yang akan dikunjungi. Tempat wisata yang keren, kuliner yang enak, penginapan yang murah meriah, dan bisa bantu cari tiket promo.


2. Terbuka Masalah Keuangan

Uang adalah hal yang sensitif. Ada baiknya kamu harus menghitung perihal budget yang harus dikeluarkan selama perjalanan. Akan lebih baik jika uang perjalanan tersebut dikumpulkan di satu orang untuk mempermudah perjalananmu, apalagi kalau banyak orang yang kami ajak, itu bisa mempermudah perjalananmu saat mau membayar tiket kereta, mengantre tiket masuk wisata dan lain-lain.

3. Jangan Ajak Teman Tukang Ngeluh

Pernahkah kalian mendapati seorang teman yang banyak mengeluh karena capek, tidak mau tidur di hotel yang murah, tidak mau cuma makan angkringan di pinggir jalan. Aduh tinggalin aja temen  model begitu. Perjalanan kamu akan banyak terhambat dengan teman yang gampang mengeluh, sebaliknya carilah teman yang tidak suka mengeluh, hadapi segala hambatan selama perjalanan bersama-sama.


4. Ajak Teman yang Sudah Kamu Kenal

Hm, teman bukankah seharusnya sudah saling kenal ya? Kalau tidak kenal ya bukan teman dong. Yap, jangan sampai kamu tiba-tiba ngajak orang yang belum di kenal, misalnya ketemu orang di jalan, kamu langsung ajak dia berpetualang. Kamu pasti langsung di cap manusia aneh. Asyiknya berpetualang dengan teman yang sudah kamu kenal, kamu akan tahu sifatnya, kebiasaannya, pokoknya jelek-jeleknya dialah.

5. Teman yang Tidak Baperan

Kebayang nggak sih, saat kamu nggak sengaja ngomong yang salah dikit trus temen kamu langsung terbawa perasaan, tiba-tiba menggalau, dilanjutkan dengan curhat berkepanjangan.

Nah itu aja tips dari saya, apakah teman punya tips lainnya? Yuk Sharing di kolom komentar!  Semoga perjalanan kalian menyenangkan. :)



Salam petualang,


Erny Binsa


Friday, 16 June 2017

Momiji (Review)


Judul         : Momiji
Penulis : Orizuka
Genre : Family, Romance
Tebal : 210 hlm
Terbit : Mei, 2017

Sebelum membaca buku ini saya pernah ikutan meet and greet bareng Orizuka di Gramedia Depok. Dan hasilnya adalah saya ‘kepo banget’ pengen baca. Alhamdulillah bisa kebeli juga bukunya, horeee …

Novelnya kali ini masih seputar remaja, romance tetapi masih dalam batas yang sewajarnya, dan juga berbicara tentang keluarga, seperti novel sebelumnya yang saya baca.

Ngomong-ngomong soal Momiji, ternyata Orizuka terinspirasi dari perjalanan solonya ke Jepang dan berjanji pada dirinya sendiri untuk menulis novel dengan setting Jepang dan nama tokohnya Momiji, yakni dedaunan yang berubah merah di musim gugur. Untuk tokoh Momiji sendiri digambarkan sesosok gadis yanki  yang urakan dengan rambut orange mekar, suka kabur-kaburan dari rumah, dia juga gadis yang suka berkelahi dengan geng motor, yah intinya tipikal cewek yang suka ngajak berantem gitulah. 

Dalam buku ini Momiji dipasangkan dengan tokoh bernama ‘Patriot Bela Negara’ dan dia orang Indonesia. Nah, berbeda dengan Momiji, nama Patriot ini tidak patriot sama sekali, berkebalikan dengan namanya dia adalah cowok introvert yang pemalu, bahkan namanya sering menjadi olok-olokan dan korban bully teman-temannya. 

Patriot biasa di sapa Pabel, dia membuktikan dengan belajar, kerja keras, dan menabung, akhirnya cita-citanya ke Negeri Sakura tercapai. Yah meskipun cuma sebulan di Jepang tetapi ia berhasil keluar dari zona nyamannya selama ini. Eh iya selain itu Pabel juga berniat mencari sosok Yamato Nadeshiko, salah satu tokoh anime yang menjadi inspirasinya, -_- eh ternyata di Jepang Pabel malah ketemu sama Momiji. Banyak kejadian-kejadian yang tidak pernah terbayangkan oleh seorang Pabel, dan kejadian itu justru membuatnya pengin cepat-cepat pulang ke Indonesia. 

Seperti yang saya tulis sebelumnya, kalau novel ini bersetting di Jepang dan Orizuka berhasil membuat setiap detail dan deskripsi yang bagus tentang Jepang. Bukan hanya latar, karakter tokoh juga dibuat sedemikian rupa dan seperti biasanya, memiliki ciri khas yang sulit dilupakan. Kalau kekurangannya sendiri, Orizuka banyak menyebutkan anime-anime yang saya nggak ngerti, maklum saya kan gak hobi baca anime jadi kurang paham. Satu lagi, meskipun ini novel remaja yang ringan saya merasa konfliknya kurang nendang, barangkali karena novel ini terlalu tipis jadi tidak semua tereksplorasi atau mungkin masih ada lanjutannya seperti 4R? Entahlah. Yang pasti saya cukup terhibur dengan novel ini. 


Jakarta, 17 Juni 2017
Salam, 


Erny Binsa

Wednesday, 24 May 2017

Seperti Hujan yang Jatuh Ke Bumi (Review)


Boy Candra
Kategori Fiksi (Novel)
Penerbit Mediakita
288 halaman
Rp. 65.000
 

Aku pernah belajar merelakanmu berkali-kali. Melepasmu pergi mencari cinta yang lain. Membiarkan kesempatan memilikimu hilang untukku. Sebab kamu berhak bahagia; meski sesungguhnya aku tidak bahagia dengan keputusan itu.

Kupikir hidup akan baik-baik saja. Semua harus berjalan seperti sedia kala. Kamu dengan seseorang yang dipilihmu. Aku entah dengan siapa,sendiri atau dengan yang lain. Aku mulai mencoba memberikan hatiku pada seseorang yang lain. Kubiarkan siapapun menggantikanmu. Namun, aku keliru. Melupakanmu ternyata tidak pernah semudah itu.
.
.
.
Ini adalah pertama kalinya saya membaca karya Boy Chandra. Entah kenapa saya tertarik ketika melihat covernya dan tulisan belakang buku tersebut. Sebelumnya karena memang penasaran sih, btw kenapa di setiap bukunya ada kata senja atau hujan? Kenapa yah?

Mulai baca bab awal saya suka dengan gaya Boy Chandra bercerita. Di sana saya berkenalan dengan salah satu tokoh bernama Juned yang lagi patah hati, dan penggambaran patah hatinya itu dapat banget. Saya berpikir sekaligus penasaran gimana cara Juned menyembuhkan patah hatinya? Bayangin aja pacarnya dihamilin sahabatnya, untung cuma pacar. (perlu gak sih bilang kalo itu keberuntungan?)

Bab selanjutnya  saya bertemu dengan Nara dan Kevin, tapi saya masih belum menemukan benang merah antara mereka bertiga, Juned itu siapanya Nara dan Kevin? Ceritanya berubah, alurnya juga berubah, padahal saya masih menikmati kisah lelaki yang lagi patah hati itu! Ow... Ternyata yang ingin diangkat bukan kisah Juned, padahal ekspekstasi saya sudah terlalu besar di situ. Saya bertanya-tanya, kenapa ia dikhianati? Bagaimana  Juned melanjutkan hidupnya? Tetapi saya tidak menemukan itu.

Berbeda halnya dengan Kevin, ia berperan sebagai sahabat Nara yang diam-diam jatuh cinta, tapi tidak berani mengungkapkannya karena tidak mau menghancurkan persahabatan mereka. Yup, kisah yang sudah sering saya baca sebenarnya, tetapi setiap penulis memiliki karakter tulisannya sendiri, bukan?

Ngomong-ngomong proses pertemuan Juned dan Nara juga biasa saja, saya heran kenapa mereka bisa saling jatuh cinta, karena sebagai pembaca saya kurang mendapat feelnya.  Tetapi saya biasanya tidak menyelesaikan bacaan ketika saya tidak mood, tetapi berbeda dengan novel ini.  Meskipun saya kurang suka dengan alur ceritanya tetapi saya tetap lanjutkan membaca karena seperti yang saya bilang, saya suka dengan gaya tulisannya. Kata-kata yang disampaikan keren, sehingga saya memerlukan pensil untuk menandai beberapa kalimat yang saya suka dan saya menikmati saat membacanya. Mungkin suatu saat saya akan membaca tulisan Boy Chandra yang lain.

Quote’s Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi:

"Tidak ada yang tahu kapan cinta pastinya datang. Tetapi kita selalu tahu kapan kita harus memulai"
(Hal. 148)

Jika kamu menanam biji padi maka akan tumbuh menjadi padi, juga bila kamu menanam biji nangka akan tumbuh menjadi pohon nangka. Namun berbeda jika menanam "HARAPAN", bisa jadi yang tumbuh adalah kebahagiaan, atau malah kesedihan. Sebab, harapan bukan bibit berbentuk pasti. Harapan yang ditanam akan tumbuh tergantung bagaimana perawatannya.

Hal yang paling sulit dari memendam perasaan pada sahabat sendiri adalah saat dia bercerita tentang orang yang ia cintai, dan kita harus menyediakan wajah bahwa kita menyukai ceritanya.
(Hal. 32)

Andai kamu paham bagaimana rasanya mencintai seseorang yang terus memintamu mencintai orang lain.
(Hal. 161)



   
3/5

Thursday, 19 January 2017

Jelajahi Taman Bunga Nusantara #OneDayTrip 2nd

Selamat datang di Taman Bunga Nusantara

Mainnya ke Taman Bunga? Ngapain coba? Kayak nggak ada tempat lain yang lebih bagus dah! Woi, Indonesia itu luas keleuss ... Diem aja deh!

Abaikan kalimat pembuka di atas! Baiklah ngelanjutin kisah perjalanan satu hari gue dari Jakarta ke Puncak, kisah sebelumnya bisa kalian baca di sini

Hari itu jam 11 siang, kita sudah selesai menjelajah satu tempat wisata di daerah Puncak, tepatnya di daerah Cianjur. Bingung mau ngapain lagi setelah itu, awalnya kita memutuskan untuk ke Puncak Pass. Tapi nggak jadi dan langsung melipir ke Taman Bunga Nusantara, jujur aja ingin pengalaman gue pertama kali ke taman bunga. Hm... gue agak males sebenarnya, lagian kalau cuma mau ke taman bunga dan ngeliat bunga mah di deket rumah juga bisa, ada tuh pasar kembang Rawa Belong, kenapa harus jauh-jauh ke Puncak coba?

Jadi intinya, gue nggak ada bayangan sama sekali mengenai taman bunga ini, tapi kita tetep berangkat. Sebelumnya kita beli nasi bungkus dulu di pinggir jalan buat bekal dan tambahan amunisi, kenapa belinya di pinggir jalan? Nggak di lokasi wisatanya ajah? Yah! Tau sendirilah ya, biasanya di lokasi wisata beli makan atau minum itu MAHAL! Gue suka anti sama yang mahal, mahal.  Eeehh.. bukan berarti gue suka yang murahan yah, pokoknya gitu dah susah jelasinnya.

Sebelumnya gue ke Kota Bunga Little Venice yang gue sendiri nggak ngerti ada di mana bunganya. Taman Bunga Nusantara jadi lokasi kedua perjalanan gue sama Ka Pia, emang lokasinya nggak jauh dari Kota Bunga itu. Sampai di sana, karena udah azan zuhur, kita memutuskan untuk solat dulu di mushola sebelum mulai menjelajah, eh tapi kita makan dulu deng! :D

Mata udah seger, perut udah kenyang, rasanya tuh... Ngantuk! Apalagi ngeliat banyak pohon-pohon menjulang tinggi, adem! trus bentuk pohonnya juga lucu-lucu, rasanya pengen dinaikin. Yah, kadang gue nggak bisa liat pohon nganggur rasanya pengen naik, meskipun gue nggak yakin bisa turun lagi.
Ehh... Jangan salahin gue! Gue sendiri nggak tahu kenapa potonya kagak bisa didiriin.. hufftt...

Tanpa Ba Bi Bu, gue panjat itu pohon, trus nangkring ngeliatin orang-orang, eh lebih tepatnya bukan gue yang ngeliatin tapi orang-orang yang ngeliatin gue, gue nggak peduli, entahlah Ka Pia juga berhasil mendokumentasiin momen gak penting ini. Setelah puas nangkring gue mulai menjelajah lagi, trus liat ke semak-semak yang banyak bunganya dan perhatian gue tiba-tiba beralih saat ngeliat ada capung lagi kawin!

Gue juga bingung, tiba-tiba spontan teriak ke Ka Pia.

“Kak, ada capung lagi kawin!”

“Mana-mana?” Ka Pia sumringah banget, sambil mengarahkan lensa kameranya ke arah capung itu.

“Woi ngapain dipoto?”

“Nggak apa-apa lucu.”

Okeh! #menghelanapas

Gue nggak bisa berkata-kata lagi, sejujurnya gue yang salah sih, harusnya gue nggak perlu bilang-bilang. Kasian kan privasi capung itu jadi keganggu, kira-kira kalo dipajang di media sosial bakalan digugat nggak yah? Baiklah, sepertinya gue mulai ngelantur.  Seharusnya gue ngomongin perjalanan gue ke Taman Bunga Nusantara ini, kenapa gue harus ngomongin hal nggak guna kayak capung lagi kawin? Kenapa?

Er, sadar  Er!

#namparpipisendiri

Akhirnya, gue ninggalin Ka Pia yang masih asyik motret capung itu. Gue coba motret berbagai macam hal, sampe-sampe gue juga motret Ka Pia yang lagi motret capung itu juga. Plis!
Lah ini dia lagi motret capung kawin dia

Baiklah kembali ke judul, gue lagi ngebahas apa tadi? Taman Bunga Nusantara! Yup sebelum masuk jangan lupa bayar tiket seharga Rp. 30.000/orang. Kita mulai menjelajah tempat itu, nggak kayak lokasi wisata pertama yang kecil banget itu, ini tuh beda, sinonim dari kota bunga, tempatnya luaaas banget! Berapa hektar yah? Kayaknya sekitar 35 hektar, pokoknya luas deh! Kalo muterin tempat itu sambil jalan kaki pasti berasa capeknya.

Trus di sana ada apa aja?

Banyak! Ada puluhan taman bunga dari berbagai macam jenis dan negara yang beda-beda, mulai dari taman Perancis, taman Amerika, taman Bali, taman Palem, banyak dah! Meskipun sejujurnya gue nggak begitu suka bunga tapi gue akui tempat ini keren banget! Ternyata bunga itu indah ya? Warna-warni, bentuknya lucu-lucu, namanya juga aneh-aneh sampai gue sendiri nggak hafal nama-namanya. Yup, otak gue emang terbatas! #Elus-elusdengkul
Ayoo tebak-tebakan, ini namanya bunga apa?
Ada kupu-kupu di antara bunga-bunga

Ini taman bunga, apa taman kupu-kupu sih?
Jangan tanya gue ini bunga apaan, karena gue nggak tau

Bunga yang ini juga gue nggak tau... :(
Trus di sana juga ada jam tangan super jumbo, taman angsa, jam tangan super jumbo, taman labirin. Hm apa lagi yah, oh iya ada juga tanaman yang dibentuk tanaman dan gueede banget! Cuma yang paling gede Angsa sama Dinusaurus, gue sendiri bingung gimana caranya mereka bisa bikin yang mirip banget sama aslinya. Padahal gue aja kalo gambar hewan di kertas hasilnya nggak karu-karuan, lah ini tanaman yang dijadiin binatang, kreatif. Gue cuma mau bilang “Elo keren, Bro!”
Ini yang gue bilang, tanaman dibentuk binatang.
Kali ini kelinci, suka suka suka ...

Cuma bisa ngambil foto angsanya dari belakang, jangan salahkan fotografer amatir
Pilih kanan atau kiri? kalau aku pilih kamu aja, gimana?
Seharusnya nggak perlu ada objek
Selama menjelajahi tempat ini, kita juga bisa mendengar musik. Karena di setiap sudut udah disediain speaker, baguslah lagu yang diputar juga bukan yang aneh-aneh, tempat itu disebut dengan air mancur musikal. Kenapa namanya air mancur musikal? Ya, karena di sana ada air mancur, trus ada musiknya juga. Okelah yang ini garing banget!

Gue dan Ka Pia asyik menikmati keindahan ini, nggak sia-sia kan perjuangan kita 3 jam naik motor dari Jakarta. Gue muter-muter di sana sampe kaki gue pegel, karena emang sengaja nggak mau naik kereta-keretaan, biar lebih menikmati gitu. Alhasil kita tergelepar di Taman Jepang. Capek! Solusinya adalah makan, trus lurusin kaki, trus tidur.
Sampe di Taman Jepang
Gue dan Ka Pia udah capek jalan, dan berakhir di tempat ini
Nah, ini gue ada di Taman Jepang. Gue nggak tau gimana jelasinnya secara detail.



Begitulah, petualangan gue One Day Trip dari Jakarta-Puncak. Eitsss... tapi ini belom kelar. Setelah ini gue mengunjungi tempat yang lebih indah, ternyata petualangan gue belum selesai sampai di Kota Bunga Little Venice yang kecil banget dan Taman Bunga Nusantara yang luas banget sodara-sodara. Waktu masih sore dan gue belom mau pulang ke rumah, dan akhirnya kita pergi lagi ... Mau kemana kita? Kalau mau tau ntar liat postingan berikutnya.

Ternyata perjalanan seharian ini nggak cukup dengan 2 postingan!

Sampai jumpa di postingan berikutnya... 


Salam Petualang,

Erny Binsa




Thursday, 5 January 2017

Little Venice Kota Bunga, Really Small Town #OneDayTrip



Sepertinya udah lama sekali gue nggak menulis kisah perjalanan, padahal tahun lalu gue lumayan sering jalan. Ngakunya sih gak ada ide nulis kalo gak backpacking, eh giliran udahan jalan-jalannya malah pura-pura amnesia. Dasar manusia banyak alasan! (Nunjuk diri gue sendiri!)

Belum lama ini gue diajak Ka Pia yang biasa dipanggil Popo sama adek-adeknya, dia ngajak gue pergi ke Puncak dalam rangka ngasih kado buat ponakannya yang baru lahir, dengan diiming-imingi jalan-jalan ke kota bunga! Gue mau! Gue ikut! Itu yang pertama kali gue ucapkan. Pertama gue udah lama nggak ke puncak, kedua perjalanannya gak pake nginep, ketiga gue emang lagi butuh refresing (perasaan tiap hari dah butuh refresingnya!)

Meskipun perjalanannya nggak pake nginep, tetep aja ujung-ujungnya gue nginep di rumah Ka Pia di malam sebelum perjalanan. Gue takut aja bakal kesiangan apalagi timingnya malem minggu dan artinya kemungkinan besar gue begadang sampai pagi, alhasil bisa gak jadi berangkatnya. So, meskipun gue nginep tetep aja sih tidurnya di atas jam 12 malam. Lupakan! Hidup gue emang kadang gak bisa diprediksi.

Subuh-subuh kita udah bangun, udah solat, udah mandi, udah sarapan, jam 6 teng kita berangkat! Yup kali itu kita berangkat berdua pake motor dari Jakarta ke Puncak. Ka pia yang bawa kendali motor, gue bagian supporter aja nanti kalo dia capek baru deh gantian bawa motornya.

Tujuan utama kita tentu saja ke Kota Bunga, trus ke rumah ponakannya Ka Pia? Nggak jadi sodara-sodara! Karena ternyata mereka malah pada mau ke Jakarta. -_-
#Kokkeselya

Eh tapi gue nggak jadi kesel sih, itu artinya kita akan punya banyak waktu buat jalan-jalan! Harusnya gue seneng dong! Yeay!

Kenapa kita mau ke Kota Bunga?

Jawabannya adalah karena kita belom pernah kesana! Trus liat foto-foto di internet baguuuuuus banget! Kayak di luar negeri! Katanya kaya di Venice di Itali, gue juga kurang tau Venice itu sebelah mananya kali ciliwung. Yang pasti itu banyak rumah-rumah istana seperti di negeri dongeng! Katanya ...

3 Jam perjalanan akhirnya kita sampe juga di sana, seperti biasa pasti ada nyasar-nyasarnya juga, perjalanan kurang nikmat tanpa nyasar. Wkwk... Sampai di sana udah banyak motor dan mobil yang terparkir! Gue rasa wisata kota bunga ini pasti udah terkenal banget, masih pagi aja udah banyak pengunjungnya.

Kita membeli tiket masuk seharga Rp. 25.000/org. Gue udah ngebayangin bakal sekeren apa di dalam sana, pas masuk kita dipakein gelang dulu, udah kayak pasien rumah sakit. Sebelum keliling-keliling kita duduk dulu di pinggir danau sambil liat perahu-perahu yang di desain sedemikian rupa, biar mirip kayak di luar negeri. Eh iya buat naik perahu itu kita mesti bayar lagi sesuai dengan perahu yang mau dinaikin, buat harganya gue juga nggak tau, coba dah gugling atau datang langsung biar gak penasaran sama harganya.

Kemudian gue pinjem kamera temen gue dulu, secara dia bawa dua kamera kan mubazir kalo nggak dipake satunya. Hihihi... Meskipun ga ada skill fotografi gue tetep nekat moto-moto, masalah hasil itu nggak penting, yang penting adalah prosesnya. Alesan mulu ya gue!

Inilah tempat kumpul berbagai macam kapal, kita bebas mau naik yang mana, harganya juga beda-beda.


Ka Pia yang lagi nunggu pangeran kuda putih lewat



Galau amat Neng!
Nah ini jembatan menuju rumah-rumah model istana gitu, jadi kapal yang lewat bisa lewat kolongnya.

Belom dateng-dateng juga... >_<
Setelah melewati danau kita melihat ada sebuah kapal besar yang tertengger di pinggir danau, anehnya kapal itu nggak jalan, ternyata emang sengaja biar para pengunjung bisa naik ke dalamnya, but gue lebih menikmati melihat dan moto dari kejauhan, gak ada niat buat naik juga sih. Begitu juga Ka Pia yang sibuk sama kameranya. Begitu dia mah kalo udah pegang kamera gue dicuekin. -_-

Ini dia penampakan dari kapal di pinggir danaunya, kita bisa masuk ke sana, free.
Kita lanjut perjalanan, sempat ada perdebatan sengit antara kita mau lewat jalan bawah atau atas. Eh ujung-ujungnya sama aja! Menuju ke tempat yang sama! Kan malu udah debat! Kalo gue itung-itung nggak sampai 15 menit kita muterin tempat itu, moto-moto, melewati jalan setapak dan eng ing eng ... ternyata gerbang masuk ke rumah-rumah itu masih di kunci!

Kok pake dikunci segala sih! Gimana sih nih petugasnya! Gue sempet kesel juga sih, dan ternyata gue salah! Memang tempat wisatanya hanya sampai sebatas gerbang yang dikunci itu. Alhasil kita balik lagi, cari tempat teduh di bawah pohon trus ngemil deh!

Yup, bisa dibilang kota bunga itu tempat wisata yang nggak gede-gede banget! Sesuai sama judulnya Little Venice, kota wisata yang sangat sangat small. Setelah gue inget-inget lagi memang foto-foto yang ada di internet itu hanya di situ-situ aja, mungkin pengambilan angle fotonya aja yang beda.
Nggak bisa dipungkiri tempatnya emang bagus, cuma ya itu karena kecil aja.

Menara-menara pencakar langit

Cuma bisa lihat dari kejauhan tanpa bisa masuk nemuin pangeran.. -_-

Kasihan abang-abang pembawa kapal, jadi orang ke tiga.

Maaf ya kalo hasil fotonya seadanya... wkwkwk

Salah satu bangunan yang katanya mirip Venice itu.. ^^

Jadi setelah gue di mengeksplore Little Venice Kota Bunga ini memang diisi dengan bangunan-bangunan yang bukan Indonesia banget! Meskipun begitu gue kurang puas karena tempat ini terlalu kecil, mau foto di bangunan itu juga harus antre. Mungkin karena sebenarnya tempat ini semacam Villa gitu, kemudian karena bagus alhasil dijadikan tempat wisata, begitu sih menurut beberapa artikel yang gue baca.

Oke fiks! Saat itu Ka Pia juga iseng moto-moto orang yang lagi prewedding di sana dari kejauhan. Setelah kita puas poto-poto, udah puas ngemilnya, udah puas muterin tempatnya, tapi jam masih menunjukkan jam 11.00, gak asik banget kan kalo kita langsung balik ke Jakarta.

Akhirnya kita melanjutkan perjalanan lagi ... Kemana kita hari itu? Tunggu postingan berikutnya yah. Ternyata one day trip ini nggak bisa selesai hanya dengan satu postingan!


Salam Petualang


Erny Binsa

Monday, 2 January 2017

#NgomonginBuku SUMMER IN SEOUL -ILANA TAN-



Sebelum ngomongin buku, saya mau kasih tahu salah satu resolusi saya tahun 2017 yaitu membaca 50 buku selama setahun. Artinya harus baca 4-5 buku dalam sebulan atau hitungannya 1 buku dalam seminggu. Begitulah kira-kira, kelihatannya mudah memang, yang susah itu konsistensinya. Hihihi ...

Buku pertama yang saya baca di awal tahun ini adalah bukunya Ilana Tan, pasti kalian yang sering ke toko buku udah nggak asing sama nama ini, juga novelnya yang berhubungan dengan musim. Summer in Seoul, Autumn in Paris, Winter in Tokyo, dan Spring in London. Alhamdulillah saya udah ada ke empat bukunya dari baru mulai dinikmati sekarang.

Summer in Seoul, novel ini adalah novel pertamanya Ilana Tan yang terbit 2006. Btw Ilana Tan sendiri saya kurang mengenalnya karena dia gak suka di ekspos, biasanya saya setelah baca buku saya langsung cari tahu penulisnya, dan ternyata Ilana Tan termasuk penulis misterius dan sangat menjaga privasinya. J

Baiklah, lanjut ngomongin bukunya. Yup karena judulnya Summer in Seoul udah pasti latar belakang novel ini di Seoul, Korea Selatan, saat musim panas tentunya. Novel ini bercerita tentang seorang gadis bernama Sandy (Han Soon Hee) keturunan Korea-Indonesia yang menetap sambil kuliah kerja di sana, kemudian ada Jung Tae Woo sebagai artis dan penyanyi terkenal.

Sebenarnya kisah pertemuan mereka bisa dibilang terlalu mainstrem, yaitu karena hapenya tertukar waktu belanja. Trus Jung Tae Woo yang digosipkan gay mencari cara untuk menghentikan gosip itu dengan mencari perempuan yang bisa dijadikan kekasihnya. Pasti udah ketebak dong kalau Sandy yang bakal jadi kekasihnya meskipun cuma bohong demi menghentikan opini publik.

Novel ini memang mudah ketebak dari awal ceritanya, tapi lama-lama baru sadar ada kejutan saat konfliknya, saat flashback ke 4 tahun silam secara tidak sengaja salah satu penggemar Jung Tae Woo meninggal dunia karena tertabrak mobilnya, tidak lain adalah kakaknya Sandy. Yah, begitulah kira-kira ...

Ngomong-ngomong Jung Tae Woo itu romantis banget deh, ini saya kutip salah satu percakapannya sama Sandy.

Sandy           : Walaupun aku hanya kekasih gadungan Jung Tae Woo, itu sudah cukup sulit bagiku.
Jung Tae woo : Jadi kau tidak mau punya kekasih artis?
Sandy            : Tidak, sebaiknya tidak.
Jung Tae Woo : Kalau begitu, apakah aku harus berhenti?
Sandy            : Kau bilang apa?
Jung Tae Woo : Apakah harus berhenti menjadi penyanyi?
Sandy            : Memangnya kenapa harus berhenti?
Jung Tae Woo : Karena sepertinya aku menyukaimu.

#Meleleh

Trus ada lagi nih,

"Kalau suatu saat nanti kau rindu padaku, kau mau memberitahuku?"
"Kenapa aku harus memberitahumu?"
"Supaya aku bisa langsung berlari menemuimu." 


#Melelehkeduakalinya

Secara alur cerita memang kisahnya mirip-mirip  drama korea, aduh serius! Baca novel ini serasa nonton drama korea lho, gak tau kenapa. Mungkin karena settingnya di Korea, trus nama tokohnya hampir semua Korea, dan juga penggambaran suasana ditulis mendetail sekali.

Nah, kalau kekurangan novel ini menurut saya yang pertama penggambaran fisik Sandy tidak jelas, dia seperti apa? Apa mungkin saya yang kelewatan bacanya? Trus, Jung Tae Woo itu terlalu sempurna, kalo ada satu lagi saya mau deh pesen satu tapi yang rajin solat! Hihihi ...

Apa lagi ya, Hm ... menurut saya konflik bathin Jung Tae Woo saat tidak sengaja menabrak penggemarnya sampai meninggal itu kurang diekspos dan kurang greget, apalagi itu termasuk konflik utama dalam novel ini. Oh iya karakter tokoh sahabat Sandy yang bernama Kang Young Mi itu kocak juga ya. :D

Mungkin itu aja ulasan buku dari saya kali ini, meskipun buku ini udah terbit 10 tahun yang lalu tapi tetap menghibur, Ah yang namanya buku memang nggak pernah basi bukan?

Sampai jumpa lagi sahabat ... J

Jakarta, 3 Januari 2016




LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...