Sunday, 1 October 2017

Tips Membuat Itinerary ala Erny Binsa


Ngomong-ngomong ini pertama kalinya gue buat itinerary sedetail ini! Jadi itinerary itu sendiri adalah rencana perjalanan dengan tujuan bisa meminimalisir budget dan gak buta jalan.

Sejak gue mulai menyukai dunia jalan-jalan dan naik gunung, gue enggak pernah bikin yang namanya itinerary dengan detail. Soalnya gue tipe orang random yang suka enggak jelas gitu mau ke mana, jadi lebih suka jalan  yang dadakan, ikutin perasaan aja. Maklum katanya cewek dikit-dikit terbawa perasaan. :p

Jadi, kalaupun gue bikin itinerary itu pasti cuma  dalam skala besar aja. Misalnya, waktu gue pergi ke Dieng yang awalnya cuma sendiri eh jadi rame-rame ujungnya. Gue cuma punya uang 500 ribu saat itu, bagaimanapun uang ini harus cukup untuk perjalanan 4 hari tiga malam di sana, gue enggak tahu gue mau ke mana, yang penting gue udah punya tumpangan tempat tinggal itu udah aman menurut gue. Mau pergi ke lokasi mana yah cuma ada di bayangan gue doang dan gue enggak tahu estimasi perjalanan gue dengan jelas. Gitulah pokoknya.

Nah, pas perjalanan ke Jogja bulan lalu. Gue punya temen seperjalanan yang sangat detail banget. Dia enggak mau kalau gue bikin asal-asalan, terlebih kalau kita enggak tahu medan yang pasti, jadi itinerary sangat penting buat pejalan kayak gue. Dari perjalanan kemarin gue banyak belajar sih, apalagi kalau perjalanannya jauh, kalau deket-deket mah enggak perlu sih menurut gue. Ya kali gue di Jakarta terus mau ke Kota Tua pake itin segala.

Beberapa hal yang udah gue catat mungkin bisa bermanfaat buat teman-teman yang baca, kalaupun gak ada manfaatnya yah gue bisa bilang apa... hahaha...

Hal yang penting saat buat itinerary gue bagi jadi 7 tips di bawah ini:

1.   Tentukan destinasi

Pertama kita  harus tahu dulu mau pergi ke mana? Misalnya ke Jogja. Nah, di sana kan banyak tempat wisata yang gak mungkin bisa kita kunjungin semua dalam waktu tiga hari. Kita bisa pilih lokasi wisata yang sesuai dengan keinginan kita, tetapi kalo berangkat bareng-bareng temen kita juga jangan egois untuk enggak mendengar pendapat mereka. Ini bukan perjalanan solo tetapi perjalanan bersama, jadi harus buang jauh-jauh ego kita.
Dalam waktu 4 hari 3 malam itu, kita memutuskan untuk ke beberapa tempat ini:
·        Candi Borobudur
·        Caving Goa Pindul
·        Pantai Nglambor (Gunung Kidul)
·        Bukit Bintang
·        Alun-alun
·        Taman Sari
·        Taman Pintar
·        Malioboro

Dari semua list ini kita bisa datang ke tempat ini, kecuali ke bukit bintang cuma numpang lewat aja sih. Paling tidak kita bisa tentuin dan punya gambaran pasti mau kemana.

2.   Perbanyak referensi

Kalau kita udah pilih destinasinya, kita harus banyak-banyak cari dan baca referensi. Ribet ya, mau jalan-jalan aja kudu pake referensi. Beruntungnya kita hidup di zaman yang udah mudah akses segalanya, mau cari apa tinggal browsing aja. Tetapi enggak semua hal bisa kita cari lewat searchingan google atau wikipedia, jodoh misalnya. Hahaha ...

Paling penting dalam mencari referensi itu, kita harus lihat tanggalnya, cari postingan terbaru, jangan tahun-tahun yang udah lampau karena bakal ngerepotin kita perihal biaya. Gue dulu pernah gitu soalnya. Liat postingan ternyata udah 4 tahun lalu dan harga transport udah beda, alhasil gue disemprot temen-temen gue... Hahaha lagian percaya aja ama gue.

3.   Pilih penginapan yang sesuai budget

Yup, kita mesti lihat dulu budget kita dan temen-temen yang diajak. Jangan sampai terlalu mahal buat mereka, kalau terlalu murah mah itu rezeki namanya. Nah, banyak banget pilihan penginapan yang bisa kita cari, dari kelas 1 sampai kelas 12 abis itu lulus terus kuliah kemudian menikah dan hidup bahagia. #tibatibagalau

Pilih penginapan itu perkara penting, kalau gue sendiri kalau ada yang bisa ditumpangin kenapa harus cari tempat sewa? Selain kita bisa silaturahmi kita juga bisa nambah temen main di sana. Bersyukur orang yang kita tumpangin itu bisa jadi guide sepanjang perjalanan. Masalahnya adalah kalau gak ada tumpangan maka mau gak mau harus cari hotel yang sesuai dengan budget, yang paling penting itu harus aman dan nyaman.

4.  Transportasi

Transportasi gak kalah penting, kita bakal naik apa ke lokasi wisata? Jalan kaki? Naik bis? Kereta? Atau pesawat? Nah, karena perjalanannya ke Jogja gue lebih suka naik kereta sih, ongkos juga sesuai dengan kantong. Apalagi kalau pesan tiket jauh-jauh hari, Jakarta-Jogja gue bisa dapat seharga Rp. 74.000 saja. Lebih murah dibanding naik bis yang enggak tahu sampe lokasi kapan.

Selain itu, kita juga harus udah tentuin ketika sampai di lokasi harus naik apa? Sewa mobil? Sewa motor? Atau naik angkutan umum? Jangan sampai kita kebingungan dan harus cari info lagi karena itu makan banyak waktu sih menurut gue. Sementara kalau kita udah tau mau ke mana dan naik apa gak perlu pikir lagi, tinggal cari dan berangkat deh.

5. Menu makanan

Biasanya dalam sebuah kota wisata, punya makanan khas yang pengen kita coba. Kita bisa diskusi mau kemana dan dimana kalian makan, tentunya juga harus disesuaikan dengan budget dan lokasi terdekat. Misalnya kita lagi ada di Gunung Kidul terus cari makannya di Borobudur, Bah keburu laper!  Sebenernya masalah menu makanan juga gue nggak bisa bilang selera kita bakal sama sih. Jadi suka-suka aja mau makan apa yang penting masih di satu tempat.

6.  To do list

Destinasi udah, penginapan udah, transport udah. Saatnya buat bikin to do list, kalau gue sendiri bikinnya di micr. Excel karena lebih mudah sih, eh waktu itu yang bikin bukan gue sih tapi temen gue jadi kerjaan gue cuma liatin aja. Kita mulai bikin dari hari keberangkatan sampai pulang, dibuat dengan sedetail mungkin.

Misalnya hari pertama: Cek in hotel dulu, kemudian berangkat ke Borobudur, estimasikan juga waktunya disana berapa lama, kemudian ishoma dimana? Pulang jam berapa? Dengan adanya estimasi waktu kita bisa tentukan destinasi berikutnya. Jadi intinya to do list itu membantu banget.

7.  Hitung budget 

Nah terakhir ini agak sensitif emang. Setiap orang punya budget yang beda-beda dalam melakukan perjalanan, kalau udah pasti semuanya maka menghitung budget jadi lebih gampang. Walaupun nggak pasti juga sih, mana ada sih yang pasti. Tetapi paling enggak kita udah punya gambaran yang jelas berapa biaya yang dikeluarin nantinya, paling nggak tuh yah gak jauh beda sama yang udah catat di todo list.
Ini dia conton itinnya 

Lanjutannya  :)

Akhirnya, gue menulis ini juga dan mulai merasa manfaat bikin itin di setiap perjalanan. Kalau yang gue rasakan itu manfaatnya gue nggak buta arah dan tahu apa yang bakal gue lakuin di sana, pastinya waktu kita nggak kebuang percuma. Meskipun terkadang gue juga suka sih jalan tanpa itin, apalagi kalo jalan-jalan sendiri dan dadakan, itu punya sensasi yang berbeda.

Sampai jumpa lagi... J


Kemanggisan, 02 Oktober 2017


Erny Binsa

Tuesday, 1 August 2017

Menjadi Mata Untukmu



“Kak,  apa yang ada di pikiran lu saat pertama kali bertemu dengan orang kayak gw?”


Tiba-tiba ada pesan masuk isinya begitu, saya musti jawab apa ya? Ngomong-ngomong teman saya itu tuna netra, entah dia kesambet apa tiba-tiba nanya begitu.

Saya jadi ingat pertama kali bertemu dengan teman-teman istimewa, khususnya mereka yang tuna netra, kayaknya yang saya lakukan saat itu cuma mengamati dari kejauhan. Saya masih mikir gimana cara berinteraksi dengan mereka, saya takut kalau saya salah ucap nanti malah menyakiti hati mereka, maka dari itu butuh waktu yang agak lama untuk bisa akrab dengan mereka. 

Pertama kali saya berkenalam dengan seorang anak bernama Senna, seorang tunet yang punya minat di menulis.  Dia masih sekolah SMA ketika itu, kami belajar bersama di FLP Ciputat. Saya mikir keras,  ini anak gimana cara nulisnya yaa?  Emangnya dia bisa tau keyboard itu letak abjadnya ada di mana? Saya aja sering banget typo.

Suatu saat Senna mengajari saya gimana caranya dia bisa menulis, eh ternyata laptopnya bisa ngomong. Maksudnya tulisan yang sudah diketik Senna akan mengeluarkan suara, jadi dia tau kalau ada kesalahan dalam tulisannya.  Saya cuma manggut-manggut, sungguh betapa ribetnya. 

Begitu juga saat ia memainkan ponselnya, terkadang saya tersenyum melihatnya, betapa seringnya kita menatap layar ponsel, tetapi teman saya itu tidak bisa menatap secara langsung, hanya modal pendengaran dan gerakan jemarinya. Meski begitu Senna juga punya banyak prestasi, ia sering menang lomba menulis dengan segala keterbatasannya. 

Jalan-jalan ke Kota Tua

Hidup Menembus Batas

Dari mereka saya belajar bahwa kita bisa menembus batas. Kita bisa melawan segala kekurangan itu dengan prestasi dan kreativitas.  Lewat Senna saya berkenalan dengan teman-teman tuna netra lainnya, mulai dari Oki dan Rifki. Mereka semua mahir bermain musik,  Senna jago bermain flute, oki gitar,  dan Rifki biola. 

Latihan musik sebelum pentas
Suatu saat kami pernah manggung bersama  saat diundang menampilkan teatrikal novel tentang Hasan Al-Banna di Gramedia Matraman. Ditemani juga teman-teman saya lainnya,  kak lina,  lisfa,  ka yudis,  ka amel.  Sementara Senna, Oki, dan Rifki, mereka bertiga bermain insrumen musik. 

Sebelum tampil teater
Nah ini yang namanya Senna


Selesai pentas saat kegiatan di Gramedia Matraman

Terkadang saya berpikir, bagaimana seandainya dunia ini gelap. Mati lampu aja saya nggak betah, nggak berani, tetapi bagaimana mereka bisa hidup tanpa cahaya? Mereka pasti kesulitan melakukan banyak hal. Namun akhirnya saya percaya bahwa mereka mampu menembus batas. 
Saya tau mereka terkadang jauh lebih peka dibanding saya, dan hebatnya saya tidak pernah sekalipun mendengar mereka mengeluh dengan kehidupan yang mereka jalani, mereka selalu tertawa, selalu berpikir positif,  dan mereka juga punya mimpi. 

Mereka mungkin berbeda, tetapi jangan salah mereka juga bisa melakukan aktivitas seperti orang-orang pada umumnya, mereka juga bisa bekerja.  Mereka juga senang saat diajak nonton bioskop.  Suatu saat saya dan Lisfa mengajak Senna untuk nonton bioskop, sedikit tentang Senna, dia termasuk tuna netra total artinya tidak bisa melihat hal apapun. Coba bayangin gimana dia bisa nonton bioskop? 

Pengalaman itu seruu sekali, untunglah saat itu nonton film berbahasa indonesia kalo bahasa inggris saya nggak tahu apa yang akan terjadi..  wkwk mungkin sepanjang film itu saya baca subtitlenya. Sepanjang film diputar saya dan Lisfa bercerita secara bergantian, apa yang sedang dilakukan si tokoh, seakan kami adalah mata baginya.

Sebenarnya saya sendiri tidak tahu apa yang ada dibayangan Senna saat kami bercerita, walaupun kadang berisik juga sih diliatin orang-orang yang lagi menikmati film, untung ga ada yang protes. Hehehe...  Terakhir saya ketemu Senna adalah bulan puasa lalu, ngomong-ngomong sekarang dia lagi sibuk belajar dan menghafal Al-Quran dan dia sudah hafal 2 Juz.  Entah mengapa melihat mereka saya jadi malu dengan diri saya sendiri. 

Nah berbeda dengan Rifki,  dia termasuk tuna netra low vision meski masih bisa melihat tetapi penglihatannya lemah. Meski begitu dia jago banget main biola, bersama Rifki juga kami pernah berpetualang bahkan naik gunung bareng.

Mereka adalah sekolah bagi saya,  mengenal mereka membuat saya semakin bersyukur , saya senang pernah menjadi mata bagi mereka meskipun hanya sebentar.  Menjelaskan apa yang saya lihat, betapa indahnya segala hal yang ada di sekitar saya,  meski saya tidak bisa menjelaskan warna biru itu seperti apa? Warna putih seperti apa? Saya yakin hati kalian jauh lebih indah dari pada apa yang saya lihat. 

Saat kami bermain teater dadakan di Kota Tua

Terima kasih sudah mau berteman dengan manusia seperti saya dan terima kasih juga untuk kalian yang sudah baca :)


Salam, 


Erny Binsa

Tuesday, 18 July 2017

5 Tips Memilih Teman yang Asyik Diajak Berpetualang


Melakukan perjalanan seorang diri memang mengasyikkan, tetapi kalau bareng teman-teman pasti rasanya makin seru, bisa becanda dan ketawa sepanjang perjalanan, ada teman ngobrol, kalau kekurangan duit bisa pinjam, tentu saja ada yang bisa fotoin kamu selama perjalanan. Yah intinya kalau ada teman berpetualang itu artinya kamu punya teman yang bisa direpotin.

Nah, terkadang selama berpetualang kamu suka berbeda pemikiran dengan teman kamu, itu adalah hal yang wajar sih sebenarnya, toh setiap orang pasti berbeda. Itu semua tergantung bagaimana kamu mengatur ego. Tidak jarang kamu malah jadi kecewa karena perjalanan tersebut, maka dari itu pilihlah teman pertualang yang bisa membuat perjalananmu penuh kesan.

Nah, berikut ini Tips memilih teman yang asyik kamu ajak berpetualang:

1. Teman yang Sehobi

Ajaklah teman yang memang suka jalan-jalan seperti kamu. Kalian bisa memilih destinasi yang seru, biasanya teman yang hobi jalan memiliki banyak pengetahuan mengenai tempat yang akan dikunjungi. Tempat wisata yang keren, kuliner yang enak, penginapan yang murah meriah, dan bisa bantu cari tiket promo.


2. Terbuka Masalah Keuangan

Uang adalah hal yang sensitif. Ada baiknya kamu harus menghitung perihal budget yang harus dikeluarkan selama perjalanan. Akan lebih baik jika uang perjalanan tersebut dikumpulkan di satu orang untuk mempermudah perjalananmu, apalagi kalau banyak orang yang kami ajak, itu bisa mempermudah perjalananmu saat mau membayar tiket kereta, mengantre tiket masuk wisata dan lain-lain.

3. Jangan Ajak Teman Tukang Ngeluh

Pernahkah kalian mendapati seorang teman yang banyak mengeluh karena capek, tidak mau tidur di hotel yang murah, tidak mau cuma makan angkringan di pinggir jalan. Aduh tinggalin aja temen  model begitu. Perjalanan kamu akan banyak terhambat dengan teman yang gampang mengeluh, sebaliknya carilah teman yang tidak suka mengeluh, hadapi segala hambatan selama perjalanan bersama-sama.


4. Ajak Teman yang Sudah Kamu Kenal

Hm, teman bukankah seharusnya sudah saling kenal ya? Kalau tidak kenal ya bukan teman dong. Yap, jangan sampai kamu tiba-tiba ngajak orang yang belum di kenal, misalnya ketemu orang di jalan, kamu langsung ajak dia berpetualang. Kamu pasti langsung di cap manusia aneh. Asyiknya berpetualang dengan teman yang sudah kamu kenal, kamu akan tahu sifatnya, kebiasaannya, pokoknya jelek-jeleknya dialah.

5. Teman yang Tidak Baperan

Kebayang nggak sih, saat kamu nggak sengaja ngomong yang salah dikit trus temen kamu langsung terbawa perasaan, tiba-tiba menggalau, dilanjutkan dengan curhat berkepanjangan.

Nah itu aja tips dari saya, apakah teman punya tips lainnya? Yuk Sharing di kolom komentar!  Semoga perjalanan kalian menyenangkan. :)



Salam petualang,


Erny Binsa


Friday, 16 June 2017

Momiji (Review)


Judul         : Momiji
Penulis : Orizuka
Genre : Family, Romance
Tebal : 210 hlm
Terbit : Mei, 2017

Sebelum membaca buku ini saya pernah ikutan meet and greet bareng Orizuka di Gramedia Depok. Dan hasilnya adalah saya ‘kepo banget’ pengen baca. Alhamdulillah bisa kebeli juga bukunya, horeee …

Novelnya kali ini masih seputar remaja, romance tetapi masih dalam batas yang sewajarnya, dan juga berbicara tentang keluarga, seperti novel sebelumnya yang saya baca.

Ngomong-ngomong soal Momiji, ternyata Orizuka terinspirasi dari perjalanan solonya ke Jepang dan berjanji pada dirinya sendiri untuk menulis novel dengan setting Jepang dan nama tokohnya Momiji, yakni dedaunan yang berubah merah di musim gugur. Untuk tokoh Momiji sendiri digambarkan sesosok gadis yanki  yang urakan dengan rambut orange mekar, suka kabur-kaburan dari rumah, dia juga gadis yang suka berkelahi dengan geng motor, yah intinya tipikal cewek yang suka ngajak berantem gitulah. 

Dalam buku ini Momiji dipasangkan dengan tokoh bernama ‘Patriot Bela Negara’ dan dia orang Indonesia. Nah, berbeda dengan Momiji, nama Patriot ini tidak patriot sama sekali, berkebalikan dengan namanya dia adalah cowok introvert yang pemalu, bahkan namanya sering menjadi olok-olokan dan korban bully teman-temannya. 

Patriot biasa di sapa Pabel, dia membuktikan dengan belajar, kerja keras, dan menabung, akhirnya cita-citanya ke Negeri Sakura tercapai. Yah meskipun cuma sebulan di Jepang tetapi ia berhasil keluar dari zona nyamannya selama ini. Eh iya selain itu Pabel juga berniat mencari sosok Yamato Nadeshiko, salah satu tokoh anime yang menjadi inspirasinya, -_- eh ternyata di Jepang Pabel malah ketemu sama Momiji. Banyak kejadian-kejadian yang tidak pernah terbayangkan oleh seorang Pabel, dan kejadian itu justru membuatnya pengin cepat-cepat pulang ke Indonesia. 

Seperti yang saya tulis sebelumnya, kalau novel ini bersetting di Jepang dan Orizuka berhasil membuat setiap detail dan deskripsi yang bagus tentang Jepang. Bukan hanya latar, karakter tokoh juga dibuat sedemikian rupa dan seperti biasanya, memiliki ciri khas yang sulit dilupakan. Kalau kekurangannya sendiri, Orizuka banyak menyebutkan anime-anime yang saya nggak ngerti, maklum saya kan gak hobi baca anime jadi kurang paham. Satu lagi, meskipun ini novel remaja yang ringan saya merasa konfliknya kurang nendang, barangkali karena novel ini terlalu tipis jadi tidak semua tereksplorasi atau mungkin masih ada lanjutannya seperti 4R? Entahlah. Yang pasti saya cukup terhibur dengan novel ini. 


Jakarta, 17 Juni 2017
Salam, 


Erny Binsa

Wednesday, 24 May 2017

Seperti Hujan yang Jatuh Ke Bumi (Review)


Boy Candra
Kategori Fiksi (Novel)
Penerbit Mediakita
288 halaman
Rp. 65.000
 

Aku pernah belajar merelakanmu berkali-kali. Melepasmu pergi mencari cinta yang lain. Membiarkan kesempatan memilikimu hilang untukku. Sebab kamu berhak bahagia; meski sesungguhnya aku tidak bahagia dengan keputusan itu.

Kupikir hidup akan baik-baik saja. Semua harus berjalan seperti sedia kala. Kamu dengan seseorang yang dipilihmu. Aku entah dengan siapa,sendiri atau dengan yang lain. Aku mulai mencoba memberikan hatiku pada seseorang yang lain. Kubiarkan siapapun menggantikanmu. Namun, aku keliru. Melupakanmu ternyata tidak pernah semudah itu.
.
.
.
Ini adalah pertama kalinya saya membaca karya Boy Chandra. Entah kenapa saya tertarik ketika melihat covernya dan tulisan belakang buku tersebut. Sebelumnya karena memang penasaran sih, btw kenapa di setiap bukunya ada kata senja atau hujan? Kenapa yah?

Mulai baca bab awal saya suka dengan gaya Boy Chandra bercerita. Di sana saya berkenalan dengan salah satu tokoh bernama Juned yang lagi patah hati, dan penggambaran patah hatinya itu dapat banget. Saya berpikir sekaligus penasaran gimana cara Juned menyembuhkan patah hatinya? Bayangin aja pacarnya dihamilin sahabatnya, untung cuma pacar. (perlu gak sih bilang kalo itu keberuntungan?)

Bab selanjutnya  saya bertemu dengan Nara dan Kevin, tapi saya masih belum menemukan benang merah antara mereka bertiga, Juned itu siapanya Nara dan Kevin? Ceritanya berubah, alurnya juga berubah, padahal saya masih menikmati kisah lelaki yang lagi patah hati itu! Ow... Ternyata yang ingin diangkat bukan kisah Juned, padahal ekspekstasi saya sudah terlalu besar di situ. Saya bertanya-tanya, kenapa ia dikhianati? Bagaimana  Juned melanjutkan hidupnya? Tetapi saya tidak menemukan itu.

Berbeda halnya dengan Kevin, ia berperan sebagai sahabat Nara yang diam-diam jatuh cinta, tapi tidak berani mengungkapkannya karena tidak mau menghancurkan persahabatan mereka. Yup, kisah yang sudah sering saya baca sebenarnya, tetapi setiap penulis memiliki karakter tulisannya sendiri, bukan?

Ngomong-ngomong proses pertemuan Juned dan Nara juga biasa saja, saya heran kenapa mereka bisa saling jatuh cinta, karena sebagai pembaca saya kurang mendapat feelnya.  Tetapi saya biasanya tidak menyelesaikan bacaan ketika saya tidak mood, tetapi berbeda dengan novel ini.  Meskipun saya kurang suka dengan alur ceritanya tetapi saya tetap lanjutkan membaca karena seperti yang saya bilang, saya suka dengan gaya tulisannya. Kata-kata yang disampaikan keren, sehingga saya memerlukan pensil untuk menandai beberapa kalimat yang saya suka dan saya menikmati saat membacanya. Mungkin suatu saat saya akan membaca tulisan Boy Chandra yang lain.

Quote’s Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi:

"Tidak ada yang tahu kapan cinta pastinya datang. Tetapi kita selalu tahu kapan kita harus memulai"
(Hal. 148)

Jika kamu menanam biji padi maka akan tumbuh menjadi padi, juga bila kamu menanam biji nangka akan tumbuh menjadi pohon nangka. Namun berbeda jika menanam "HARAPAN", bisa jadi yang tumbuh adalah kebahagiaan, atau malah kesedihan. Sebab, harapan bukan bibit berbentuk pasti. Harapan yang ditanam akan tumbuh tergantung bagaimana perawatannya.

Hal yang paling sulit dari memendam perasaan pada sahabat sendiri adalah saat dia bercerita tentang orang yang ia cintai, dan kita harus menyediakan wajah bahwa kita menyukai ceritanya.
(Hal. 32)

Andai kamu paham bagaimana rasanya mencintai seseorang yang terus memintamu mencintai orang lain.
(Hal. 161)



   
3/5

Thursday, 19 January 2017

Jelajahi Taman Bunga Nusantara #OneDayTrip 2nd

Selamat datang di Taman Bunga Nusantara

Mainnya ke Taman Bunga? Ngapain coba? Kayak nggak ada tempat lain yang lebih bagus dah! Woi, Indonesia itu luas keleuss ... Diem aja deh!

Abaikan kalimat pembuka di atas! Baiklah ngelanjutin kisah perjalanan satu hari gue dari Jakarta ke Puncak, kisah sebelumnya bisa kalian baca di sini

Hari itu jam 11 siang, kita sudah selesai menjelajah satu tempat wisata di daerah Puncak, tepatnya di daerah Cianjur. Bingung mau ngapain lagi setelah itu, awalnya kita memutuskan untuk ke Puncak Pass. Tapi nggak jadi dan langsung melipir ke Taman Bunga Nusantara, jujur aja ingin pengalaman gue pertama kali ke taman bunga. Hm... gue agak males sebenarnya, lagian kalau cuma mau ke taman bunga dan ngeliat bunga mah di deket rumah juga bisa, ada tuh pasar kembang Rawa Belong, kenapa harus jauh-jauh ke Puncak coba?

Jadi intinya, gue nggak ada bayangan sama sekali mengenai taman bunga ini, tapi kita tetep berangkat. Sebelumnya kita beli nasi bungkus dulu di pinggir jalan buat bekal dan tambahan amunisi, kenapa belinya di pinggir jalan? Nggak di lokasi wisatanya ajah? Yah! Tau sendirilah ya, biasanya di lokasi wisata beli makan atau minum itu MAHAL! Gue suka anti sama yang mahal, mahal.  Eeehh.. bukan berarti gue suka yang murahan yah, pokoknya gitu dah susah jelasinnya.

Sebelumnya gue ke Kota Bunga Little Venice yang gue sendiri nggak ngerti ada di mana bunganya. Taman Bunga Nusantara jadi lokasi kedua perjalanan gue sama Ka Pia, emang lokasinya nggak jauh dari Kota Bunga itu. Sampai di sana, karena udah azan zuhur, kita memutuskan untuk solat dulu di mushola sebelum mulai menjelajah, eh tapi kita makan dulu deng! :D

Mata udah seger, perut udah kenyang, rasanya tuh... Ngantuk! Apalagi ngeliat banyak pohon-pohon menjulang tinggi, adem! trus bentuk pohonnya juga lucu-lucu, rasanya pengen dinaikin. Yah, kadang gue nggak bisa liat pohon nganggur rasanya pengen naik, meskipun gue nggak yakin bisa turun lagi.
Ehh... Jangan salahin gue! Gue sendiri nggak tahu kenapa potonya kagak bisa didiriin.. hufftt...

Tanpa Ba Bi Bu, gue panjat itu pohon, trus nangkring ngeliatin orang-orang, eh lebih tepatnya bukan gue yang ngeliatin tapi orang-orang yang ngeliatin gue, gue nggak peduli, entahlah Ka Pia juga berhasil mendokumentasiin momen gak penting ini. Setelah puas nangkring gue mulai menjelajah lagi, trus liat ke semak-semak yang banyak bunganya dan perhatian gue tiba-tiba beralih saat ngeliat ada capung lagi kawin!

Gue juga bingung, tiba-tiba spontan teriak ke Ka Pia.

“Kak, ada capung lagi kawin!”

“Mana-mana?” Ka Pia sumringah banget, sambil mengarahkan lensa kameranya ke arah capung itu.

“Woi ngapain dipoto?”

“Nggak apa-apa lucu.”

Okeh! #menghelanapas

Gue nggak bisa berkata-kata lagi, sejujurnya gue yang salah sih, harusnya gue nggak perlu bilang-bilang. Kasian kan privasi capung itu jadi keganggu, kira-kira kalo dipajang di media sosial bakalan digugat nggak yah? Baiklah, sepertinya gue mulai ngelantur.  Seharusnya gue ngomongin perjalanan gue ke Taman Bunga Nusantara ini, kenapa gue harus ngomongin hal nggak guna kayak capung lagi kawin? Kenapa?

Er, sadar  Er!

#namparpipisendiri

Akhirnya, gue ninggalin Ka Pia yang masih asyik motret capung itu. Gue coba motret berbagai macam hal, sampe-sampe gue juga motret Ka Pia yang lagi motret capung itu juga. Plis!
Lah ini dia lagi motret capung kawin dia

Baiklah kembali ke judul, gue lagi ngebahas apa tadi? Taman Bunga Nusantara! Yup sebelum masuk jangan lupa bayar tiket seharga Rp. 30.000/orang. Kita mulai menjelajah tempat itu, nggak kayak lokasi wisata pertama yang kecil banget itu, ini tuh beda, sinonim dari kota bunga, tempatnya luaaas banget! Berapa hektar yah? Kayaknya sekitar 35 hektar, pokoknya luas deh! Kalo muterin tempat itu sambil jalan kaki pasti berasa capeknya.

Trus di sana ada apa aja?

Banyak! Ada puluhan taman bunga dari berbagai macam jenis dan negara yang beda-beda, mulai dari taman Perancis, taman Amerika, taman Bali, taman Palem, banyak dah! Meskipun sejujurnya gue nggak begitu suka bunga tapi gue akui tempat ini keren banget! Ternyata bunga itu indah ya? Warna-warni, bentuknya lucu-lucu, namanya juga aneh-aneh sampai gue sendiri nggak hafal nama-namanya. Yup, otak gue emang terbatas! #Elus-elusdengkul
Ayoo tebak-tebakan, ini namanya bunga apa?
Ada kupu-kupu di antara bunga-bunga

Ini taman bunga, apa taman kupu-kupu sih?
Jangan tanya gue ini bunga apaan, karena gue nggak tau

Bunga yang ini juga gue nggak tau... :(
Trus di sana juga ada jam tangan super jumbo, taman angsa, jam tangan super jumbo, taman labirin. Hm apa lagi yah, oh iya ada juga tanaman yang dibentuk tanaman dan gueede banget! Cuma yang paling gede Angsa sama Dinusaurus, gue sendiri bingung gimana caranya mereka bisa bikin yang mirip banget sama aslinya. Padahal gue aja kalo gambar hewan di kertas hasilnya nggak karu-karuan, lah ini tanaman yang dijadiin binatang, kreatif. Gue cuma mau bilang “Elo keren, Bro!”
Ini yang gue bilang, tanaman dibentuk binatang.
Kali ini kelinci, suka suka suka ...

Cuma bisa ngambil foto angsanya dari belakang, jangan salahkan fotografer amatir
Pilih kanan atau kiri? kalau aku pilih kamu aja, gimana?
Seharusnya nggak perlu ada objek
Selama menjelajahi tempat ini, kita juga bisa mendengar musik. Karena di setiap sudut udah disediain speaker, baguslah lagu yang diputar juga bukan yang aneh-aneh, tempat itu disebut dengan air mancur musikal. Kenapa namanya air mancur musikal? Ya, karena di sana ada air mancur, trus ada musiknya juga. Okelah yang ini garing banget!

Gue dan Ka Pia asyik menikmati keindahan ini, nggak sia-sia kan perjuangan kita 3 jam naik motor dari Jakarta. Gue muter-muter di sana sampe kaki gue pegel, karena emang sengaja nggak mau naik kereta-keretaan, biar lebih menikmati gitu. Alhasil kita tergelepar di Taman Jepang. Capek! Solusinya adalah makan, trus lurusin kaki, trus tidur.
Sampe di Taman Jepang
Gue dan Ka Pia udah capek jalan, dan berakhir di tempat ini
Nah, ini gue ada di Taman Jepang. Gue nggak tau gimana jelasinnya secara detail.



Begitulah, petualangan gue One Day Trip dari Jakarta-Puncak. Eitsss... tapi ini belom kelar. Setelah ini gue mengunjungi tempat yang lebih indah, ternyata petualangan gue belum selesai sampai di Kota Bunga Little Venice yang kecil banget dan Taman Bunga Nusantara yang luas banget sodara-sodara. Waktu masih sore dan gue belom mau pulang ke rumah, dan akhirnya kita pergi lagi ... Mau kemana kita? Kalau mau tau ntar liat postingan berikutnya.

Ternyata perjalanan seharian ini nggak cukup dengan 2 postingan!

Sampai jumpa di postingan berikutnya... 


Salam Petualang,

Erny Binsa




LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...