Friday, 29 December 2017

4D3N TRIP JOGJA, Menikmati Keindahan Pantai Nglambor



Haloo... ini adalah hari ketiga perjalanan gue bersama 2 orang teman di Jogja! (penting gak sih?) 

Setelah selesai menyusuri Goa Pindul, kalian bisa baca kisahnya di sini (Goa Pindul) Waktu masih menunjukkan pukul 2 siang. Destinasi kami berikutnya adalah ke Pantai Nglambor, menurut searchingan sih kalau dari Goa Pindul kita hanya perlu waktu satu jam perjalanan naik motor, tetapi itu hanya bayang-bayang Gaes! Nyatanya kita tersesat.

Google Maps berasa enggak ada gunanya karena sinyal yang naik turun, hampir menyerah buat main di pantai hari itu. Tapi Alhamdulillah, sebuah titik cerah mulai terlihat, mungkin di beberapa tempat enggak ada sinyal tapi di tempat lainnya ada, kita tetap melanjutkan perjalanan meskipun enggak tahu bakal sampai jam berapa.

Hutan-hutan, gunung-gunung kita lewati, pemandangan yang indah, jalanan yang lumayan sepi, begitulah gambaran dari perjalanan kami. Untung juga ada plang-plang jalan yang bisa membantu kita sampai lokasi tujuan, hari semakin sore kita melewati jalanan asing, lewat sawah-sawah orang, gang-gang kecil, begitulah kata google maps. Udah lebih dari satu jam, 2 jam... Ya Allah... Akhirnya sampai juga di gerbangnya.

Ketika kami sampai gue mau nangis rasanya saat kita udah di pintu gerbang Pantai Siung, jadi di Pantai Siung ini ada beberapa pantai lagi, salah satunya ya Pantai Nglambor. Kita cukup mengeluarkan kocek Rp. 10ribu saja/orang. Dari pintu masuk ternyata masih lumayan jauh ke pantai nglambornya, kita melewati beberapa pantai lainnya.

Melalui perjalanan panjang itu, tersesat, kepanasan, dan  rasa hampir menyerah itu hilang setelah melihat Pantai Nglambor di depan mata. Indah. Semuanya seakan terbayar. Capek bawa motor, tiba-tiba capeknya hilang saat sampai di sana. Udah enggak sabar pengen mandi-mandi. Walaupun sebelumnya abis main air di goa pindul.

Satu hal yang pasti, kita sampai di Pantai Nglambor kesorean dan ternyata udah enggak bisa snorkeling. Air lautnya udah pada  pergi jauh, sebentar lagi bakal pasang dan menyisakan karang-karang di bibir pantai. Meskipun begitu gue tetep bersyukur udah bisa melangkahkan kaki kesini, bertiga, naik motor. Jadi kita masih bisa menikmati keindahan alamnya.

Kenapa sih kita bisa mampir ke sini? Sebelumnya gue kalo ke Jogja paling mampirnya ke candi atau museum, gue juga pengen lihat pantainya, eh pernah sih ke pantainya di Parangtritis tapi waktu itu gue enggak begitu menikmati karena terlalu ramai. Ternyata banyak pantai yang indah-indah, terutama di Gunung Kidul. Namanya gunung tapi banyakan pantai di sini... Hehehe...

Setelah searching akhirnya pantai inilah yang kami pilih. Kami enggak bisa snorkeling saat itu, jadi cuma main-main di pinggir-pinggir pantai. Banyak banget biota laut di sana, terutama bulu babi. Hati-hati keinjek! Gue juga gak akan banyak bercerita di sini. Langsung aja kalian lihat foto-fotonya yak! Kali aja suatu saat pengen main ke sana :)

Oh iya, buat kalian yang datang kesorean juga bisa menginap di sana lho. Seru kan bisa bermalam di pinggir pantai. Tapi saat itu gue langsung pulang sih, karena masih ada destinasi lainnya yang menunggu... hehehe...











Thursday, 28 December 2017

Lima Pencapaian yang Terjadi di 2017

Selamat akhir tahun semuaaa ...

Sejujurnya saya bingung sih harus mulai tulisan ini darimana? Bahkan, saya jadi berpikir panjang 'Ngapain aja gue di 2017?'

Saat awal 2017 saya mencatat resolusi saya dan hasilnya? hmm... mungkin hanya 20% dari rencana itu yang berhasil terwujud. Sisanya? rencana Allah dan itu indah-indah. Alhamdulillah ...

Kalau dipikir-pikir 2017 itu benar-benar menguras perasaan banget, apa-apa bawanya ke hati. Jadi saya berharap tahun depan di 2018 ini, saya enggak cuma pakai hati tetapi pakai otak juga. hehehe...

Langsung saja ini 5 pencapaian versi saya di 2017.

1. Buka Kafe Stritpud





Alhamdulillah April 2017 kemarin saya bersama 2 orang teman berhasil membuka sebuah kafe kecil-kecilan. Sebenarnya dari kecil saya udah suka jualan sih, makanya saya punya cita-cita kalau saya mau jadi pedagang yang bisa menulis. Itu aja, simpel. Hehehe...

Saya merencanakan buka Stritpud itu sejak akhir 2016 dan berhasil buka di bulan April 2017. Cobaan datang satu-persatu, kalau diceritain di sini mungkin bakalan terlalu panjang. Kami sempat tutup di bulan Juni. Kemudian pindah tempat dan buka lagi di bulan Oktober, baru buka 2 bulan masalah kembali datang. 

Meskipun begitu, saya bersyukur karena sejak buka cafe. Saya bisa semakin dekat dengan teman-teman, terutama yang tergabung dengan Stritpud. Susah senang kita sama-sama, makan enggak makan kita sama-sama. Bersama mereka saya bukan hanya belajar tentang bisnis tetapi juga belajar tentang kehidupan. 

Saat Kafe ini dibuka posisi saya masih bekerja di sebuah komunitas pembelajar biMBA-AIUEO sebagai penulis. Tentu saja ini kayak perjuangan banget. Pagi-Sore saya harus bekerja, pulang kerja hingga malam saja jualan. Capek tenaga, capek materi, waktu habis begitu saja. Tetapi itu enggak sebanding dengan apa yang saya dapatkan.

Lewat kafe ini saya jadi belajar mengenal karakter teman-teman saya, oh ini ada yang baperan, ada yang terlalu perfeksionis, ada yang sembarangan, ada yang penuh pemikiran, ada juga yang kurang bertanggung jawab. Saya belajar bagaimana cara menghadapi mereka,saya belajar menyelesaikan masalah, saya belajar untuk tidak egois dan belajar peduli.

Memang bukan income yang saya dapatkan dari stritpud, tetapi saya bersyukur bisa bertemu dengan teman-teman yang baik.


2. Solo Backpacking ke Bandung




Sebenarnya kalau di resolusi pengennya pergi sendirian ke Jogja atau Dieng. Eh ternyata pas pergi ke sana ada teman yang mau ikut. Yaudah deh enggak jadi.

Alhamdulillah November lalu saya pergi sendirian, enggak jauh sih cuma ke Bandung. Ini juga sebagai kado ulang tahun saya sih, hehehe... Saya kadoin diri saya jalan-jalan. Cuman, karena waktu itu jalannya akhir bulan dengan budget yang menipis banget jadi perginya enggak jauh-jauh dari kota bandung.

Perjalanan ini bikin saya banyak mikir, saya senang bisa punya waktu untuk diri saya sendiri meskipun cuma 2 hari aja sih. Jadi saya di sana ngapain aja? cuma jalan kaki keliling ke tempat yang asing, makan yang enak-enak, pergi tanpa tujuan. Seruuu... menurut sebagian orang mungkin itu enggak jelas banget. Tetapi buat saya itu menyenangkan.

Apalagi perjalanan kali ini saya enggak 'melarikan diri' kok, kalau dulu kan saya niat jalan-jalan kalau mau melarikan diri, sekarang udah enggak lagi, saya lebih menikmati perjalanan saya kali ini. 

Saya penasaran tahun depan saya bisa solo backpacking kemana ya? Hehehe...

3. Membeli 50 Buku

Saya sendiri juga enggak paham kenapa membeli 50 buku bisa masuk ke resolusi saya tahun lalu. Meskipun begitu saya bersyukur karena bisa beli 50 judul buku. Mimpi saya adalah membangun perpustakaan di rumah yang bisa diberdayakan untuk masyarakat sekitar. Kalau dalam satu tahun saya bisa beli 50 buku, 10 tahun bisa 500 buku. 




Saya sendiri paham sih, kalau sekarang orang banyak juga yang suka bacanya lewat gadget, saya juga kadang-kadang baca ebook juga, enaknya lebih simpel dan mudah dibawa kemana-mana. Tapi di satu sisi saya juga sedih kalau kebiasaan baca buku malah jadi berkurang, perpustakaan jadi sepi, toko buku enggak laku. 

Makanya sebisa mungkin saya juga harus menargetkan diri saya untuk baca buku bukan baca e-book, meskipun sama-sama membaca juga sih intinya. Buat kamu yang suka baca buku pasti tau gimana perbedaannya. hehehe...


4. Menulis Cerpen Anak


Alhamdulillah saya bekerja di sebuah tempat yang bisa mendukung passion saya sebagai penulis di Majalah Sahabat biMBA. Saya banyak belajar menulis, kalau biasanya nulis fiksi dan ngeblog aja, sekarang belajar nulis berita, belajar nulis artikel, belajar SEO juga sedikit-sedikit, dan terakhir diberi kesempatan untuk menulis cerpen anak.

Biasanya saya kirim cerpen anak ke Majalah Bobo enggak pernah dimuat, hahaha... Eh di biMBA malah dibuat buku yang akan diperuntukkan puluhan ribu murid biMBA. Sebenarnya berkarya itu apalagi menulis bukan segi materi yang ingin dicapai, tapi dari segi bermanfaat untuk orang lain. 

Menulis cerpen anak adalah pengalaman baru buat saya, katanya sih mudah, katanya simpel hanya tinggal mempelajari bahasa anak-anak. Yap emang benar, tetapi juga kita harus memahami kata yang baik dan buruk, mengubah persepsi yang negatif menjadi positif. Apalagi buku ini dibaca oleh anak usia dini, mereka belajar lebih cepat dibanding orang dewasa. 

5. Buat Proyek Puisi Musikal

Saya jarang sih bikin puisi, kalau mau ya saya buat, terutama kalau lagi baper. Cerita awalnya cuma iseng-iseng aja belajar ngedit-ngedit video, masukin puisi yang saya tulis digabung instrumen. Trus jadi deh sebuah puisi musikal, nggak tahu kenapa malah jadi buat channel youtube. 


Saya cuma mikir aja awalnya, kalau tulisan saya ditulis aja tanpa dinikmati ya buat apa? Jadi saya cari cara dan ujung-ujungnya bikin video ini. Kalian bisa kasih saran dan masukan buat video ini yaa... Hehehe... 






Yap, mungkin segini aja sih pencapaian yang terjadi selama 2017 (menurut saya). Mungkin belum ada apa-apanya, masih banyak kurangnya, masih harus banyak belajar lagi. Semoga 2018 bisa lebih fokus mengerjakan apa yang saya suka, membaca lebih banyak, menulis lebih banyak, berpikir lebih banyak. 


"Tulisan ini diikutsertakan dalam #endoftheyearpost #EVENTBE Blogger Energy"




Jakarta di Penghujung Desember,




Erny Binsa


Monday, 4 December 2017

4D3N TRIP JOGJA: Menyusuri Goa Pindul, Sungai Oyo, dan Goa Putri


Catatan perjalanan ini lanjutan dari Trip Jogja sebelumnya, kalian bisa baca disini (TRIP JOGJA BAGIAN 1)

Day 3: Sabtu, 26 Agustus 2017

Jam 4 pagi alarm kami udah sahut-sahutan, tapi bangunnya jam malah jam 5. Setelah solat subuh, kami sibuk packing kecuali gue yang memilih buat tidur lagi. Tetapi tetap aja gue kelar duluan packingnya, setelah kelar packing dan mandi gue pun memutuskan untuk tidur lagi. Hahaha enggak berfaedah banget emang dah hidup gue.

Jam 7 pagi kami mulai angetin motor dan siapin google maps, ini adalah perjalanan pertama gue di Jogja naik motor ke tempat yang asing. Maaf ya kalo agak norak dikit, yang penting kan noraknya enggak banyak. Destinasi kami hari ini adalah Caving di Goa Pindul, sekitar 2 jam perjalanan dari penginapan kami di daerah keraton. Perjalanannya lumayan menantang, naik turun gitu dan agak serem emang.

Sebelum sampai di Goa Pindul, ada orang yang menawarkan diri mengantarkan sampai lokasi goa pindul, gratis katanya! Kelihatannya juga resmi, secara mereka berpakaian emang seperti bagian dari goa pindul. Kami mengikuti orang itu dari belakang sekitar 10 KM perjalanan lagi akhirnya sampai juga.

Sejujurnya gue agak kecewa, karena biaya yang udah gue siapin jauh beda sama paket wisata di sana. Budget kami cuma 75 ribu/orang sesuai dengan searchingan website yang tertera, tetapi kita malah di kenakan biaya 150 ribu untuk 3 paket wisata. Goa Pindul, Sungai Oyo, dan Goa Putri. Udah gitu kalau mau pakai jasa kamera harus bayar lagi sekitar 200ribuan kalo enggak salah, akhirnya gue memutuskan untuk foto sendiri menggunakan hape dan sarung HP anti air. Hihihi...

Petualangan Goa Pindul

Jadi gini Gaes, menurut informasi yang gue dapatkan. Goa pindul itu pintu masuknya banyak, jalur resminya ada 9 . Wajar saja kalau setiap tempat berbeda harganya, tergantung pintu mana kalian masuk. Nah kebetulan pas gue kebagian yang agak mahal. Meskipun begitu menurut gue harga segitu enggak ada apa-apanya dibandingkan pengalaman dan keseruan yang gue dapatkan di sana.


Selamat datang di Goa Pindul


Setelah sarapan kami menunggu guide kami datang, beruntung kami juga enggak digabung dengan grup lain. Jadi kami bertiga ditemani satu pemandu. Sebelumnya kami memakai pelampung dan disiapkan ban untuk masing-masing orang, kemudian perjalanan menyusuri Goa Pindul pun di mulai. Meskipun hanya berempat (sama guidenya) kami tetap rame, ngomong mulu sampe capek, nanya terus mengenai sejarah goa pindul, padahal mah entah ngerti apa kagak dijelasin guidenya.

Cuma kelihatan siluetnya... :D

Kami mulai masuk ditarik sama guidenya masuk ke dalam goa, terus dijelasin sejarahnya yang gue sendiri lupa apa itu. Huhuhu... Keasyikan main ciprat-cipratan air sih. Semakin ke dalam semakin gelap. Jadi di dalam goa itu punya tingkat kegelapan yang berbeda-beda, ada yang terang, semi gelap, dan gelap gulita. Makanya kita butuh senter buat penerangan.

Lucunya nih, di dalam goa itu banyak kelelawar lho, ada yang masih bayi pula. Setiap menemukan mereka gue selalu menyapa, “Halo kelelawar, kalian enggak pada kegelapan apa?” Gue takut sebentar lagi itu kelelawar akan berubah jadi Batman, terus dia ngeliat gue, trus dia jatuh cinta, trus gue dilamar, trus kita menikah dan bahagia selamanya. Mulai ngawur.

Pokoknya satu kata yang bisa menggambarkan goa pindul itu, “SERUUUUU!”

Sampai di Ujung Goa


Menyusuri Sungai Oyo

Gue pikir dari Goa Pindul ke Sungai Oyo itu bisa dicapai dengan jalan kaki. Ternyata kami disiapkan mobil pick up menuju Sungai Oyo, gue sih senang aja yang penting enggak perlu bayar lagi. Perjalanan ternyata sebentar tetapi enggak secepat waktu naik andong ke Borobudur yah! Di atas mobil pick up itu kami habiskan untuk sharing, menikmati pemandangan sekitar dan akhirnya gue ngeliat pohon kayu putih lho. Tahu kan? Kayu putih? Yang ada lagunya, ‘minyak kayu putih digosok ke badan, bendera merah putih tandanya menang’ gituuu...
Berasa kambing gak sih?

Ayo siap-siap menyusuri sungai oyo
Jangan sok cakep deh! Bodo ah...

Setelah mendengar intruski dari guide yang kocak itu, kami langsung terjun ke sungai, eh maksudnya masih pakai Ban, soalnya sungainya lumayan dalam katanya. Gue berasa ada di sungai amazon tapi versi indonesianya, suasananya masih asri banget! Kanan kiri banyak bebatuan. Oh iya sungai ini lumayan panjang sekitar 4 KM, tetapi juga lumayan santai jalannya. Bukan jalan sih tapi ditarik sama guidenya, mungkin badan kami pada kegedean jadi guidenya keberatan gitu.

yang penting bahagia Gaeees....

Ada yang udah pernah main kesini??

kalau musih hujan mungkin airnya bisa lebih tinggi lagiii...


Seneng banget! Kita udah kayak bocah, lagian siapa sih orang yang gak suka main air kalo begini caranya? Selain pemandangannya kita juga dapat banyak pengetahuan lho. Sang guide banyak bercerita nama-nama batu, sejarahnya.

“Neng itu disitu namanya air terjun pengantin, kalau ketetesan airnya nanti cepet dapat jodoh,” katanya.

Oh yaaa?

Dengan bodohnya gue ngikutin. Padahal gak ada air yang turun dari situ. Enggak lama kemudian si guidenya nyiramin air ke muka gue. Ternyata gue dikerjain, wah ngajak becanda apa ngajak berantem ini orang?

Di tengah perjalanan banyak orang yang terjun dari batu besar ke sungai. Kita dengan santai pengen ikutan juga, gue juga pengan bisa mengalahkan rasa takut gue, gue pasti bisa. Tetapi pas sampai di atas, ya Allah ini dengkul berasa lemes banget. Perasaan tadi enggak setinggi ini deh, gimana kalo gue kelelep terus enggak keluar ke permukaan, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Gue pengen loncat tapi gue takut.

Ka Mawaddah udah lompat duluan, gue berdoa dulu, gemeteran, yakinin diri gue kalo gue pasti bisa. Soalnya kalo gue enggak memaksa diri buat lompat suatu saat gue mungkin bakal menyesal, kenapa gue enggak berani coba? Kenapa gue takut? Bodo amatlah dengan pikiran kayak gitu, akhirnya gue lompat tanpa aba-aba...

Jebuuuurrrr....

Pelampung gue copot!

OMG!

Eh gak jadi copot deng, ternyata masih di badan gue. Wkwk...

Akhirnya gue bisa! Gitu aja gue seneng lho, biarin!

Ini Ka Mawaddah yang lompat, gue gak kebagian potonya... huhuhu

Gimana kalo kita menatap masa depan aja? 
Segeeeeer...



Legaa setelah lompat dari tebing batu...

Et dah kenapa ini mas-mas guidenya malah selfie di HP gue.. :D

Kita kembali berjalan, dan perjalanan 4 KM menyusuri sungai oyo pun selesai.
Selamat tinggal Sungai Oyo, semoga suatu saat kita bisa berjumpa lagi.

Bermain di Sungai Bawah Tanah 
(Goa Putri/Goa Sarirejo)

Saat itu memang wisata goa putri menjadi pilihan, kami dikasih helm dan senter. Nah guidenya udah beda lagi, tetapi guide sebelumnya tetep ikut buat motoin kita di dalam goa walaupun hasilnya gitu, burem. Sebelum masuk ke dalam goa gue menemukan keanehan Gaes. Masa katanya kita bakal ke goa putri tetapi tulisannya malah Goa Sarirejo, gue enggak tahu mana yang bener. Udah gitu sepi banget, kayaknya yang masuk ke goa itu cuma rombongan kita doang.
Katanya kita ke goa putri tapi kenapa namanya Goa Sarirejo? Kenapaaaa?
 Sebelum masuk seperti biasa, kita di briefing dulu, karena ada beberapa hal yang dilarang. Kami mulai masuk ke lorong gelap itu, cuma ada suara genangan air yang menetes-netes, sama suara guidenya yang memantul, alhasil malah gak kedengeran. Semakin ke dalam goa berasa makin pendek, gue jalan jongkok, dengkul sama muka ketemu saking sempitnya, untung aja muat. Kemudian, kita bisa berjalan di sana, terkadang badan kami ngambang karena airnya terlalu dalam. Suasanya menyeramkan, mencekam, tetapi kalian harus coba.


Kira-kira begini suasananya...

Emang agak sempit, untung aja gue muat

Gimana kalian mau coba?


Setelah badan kami mulai capek akhirnya sampai juga di mulut goa dan kami kembali ke basecamp Goa Pindul. Kami mandi, solat, makan siang, dan bersiap untuk perjalanan berikutnya.



Salam Petualang,



Erny Binsa

Thursday, 23 November 2017

(4D3N) Trip Jogja, Have Fun in Borobudur & Alun-alun Kidul



Lagi-lagi ini adalah rencana solo traveling yang gagal. Hahaha... Ujung-ujungnya gue malah jalan bertigaan sama temen. Kalau biasanya dulu gue ke Jogja karena ada kerjaan atau sambil liputan kali ini gue emang pengen pure liburan, tanpa harus mikirin kerjaan ataupun lain hal. Gue pengen punya waktu buat diri gue sendiri.

Setelah menyusun itinerary, nabung, beli tiket kereta dari jauh-jauh hari, terus booking penginapan, akhirnya sampai juga kami di Jogja. Dan gue pun bersyukur karena enggak harus sendiri ke sini, karena semakin banyak temen yang ikut tentu saja budget gue jauh lebih murah. Wkwk... Bukan itu juga kok, tetapi karena ada mereka gue jadi bisa gila maksimal.
Kalau gitu, langsung aja ya kisah menyedihkan ini di mulai.

Day 1: Kamis, 24 Agustus 2017

Gue berangkat ke stasiun senen jam 8 malam, kalo enggak salah keretanya berangkat jam 10an deh. Gue orangnya gak suka ribet bawa barang yang harus ditenteng-tenteng, lebih baik gue bawa ransel besar atau carier tapi barang-barang gue masuk semua ke situ. Kecuali barang berharga ya, kita harus jago nyimpennya.

Selama perjalanan ini cuma gue habisin buat baca buku, makan cemilan, ngobrol, niupin bantal leher yang dibawa Firdha tapi kempes lagi dalam 5 menit (gitu aja terus sampe pagi), dan akhirnya kami tertidur.


Day 2: Jumat, 25 Agustus 2017

Pagi-pagi kami udah disambut sama matahari terbit dari jendela. Enggak lupa kami juga udah mengelap iler-iler yang menempel di pipi bekas tidur pulas semalam (Eh ini perlu diomongin gak sih? Hahaha). Sekitar jam 6 pagi kami sampai di Stasiun Lempuyangan, tujuan pertama kami adalah penginapan, gue bersyukur karena sepagi itu kita udah bisa cek in dan disambut hangat sama mas-mas yang ganteng (tapi sampe sekarang gak tau itu orang jomblo atau enggak).

Destinasi pertama kami adalah Borobudur. Ini keinginan Ka Firdha dan Ka Mawaddah ya. (Gue manggil Kk karena mereka ini Kk Kelas gue Cuy, biar sopan dikit!). Sebenernya gue udah pernah ke Borobudur sebelumnya sama temen yang berbeda juga, kita liat apakah sensasinya akan tetap sama pemirsa?

Saat itu gue nginep di deket keraton Jogja, jadi kita jalan kaki dan tanya-tanya trans Jogja terdekat. Ya, begitulah demi menghemat budget kita emang ngeteng ke sana. Kita naik trans Jogja cuma Rp. 3.600 trus turun di terminal Jombor, dari sana baru deh naik bis ke Borobudur, harganya Rp. 20.000 sekali jalan. Kayaknya udah berapa kali tidur ya gue di bis itu dan enggak sampe-sampe.

Sekitar 2 jam perjalanan kita sampai di terminal Borobudur, terus langsung ditawarin naik becak atau andong ke tempat wisatanya. Sejujurnya gue itu lupa-lupa inget, kayaknya dari sini kita hanya perlu jalan kaki aja, tapi akhirnya kami malah memutuskan naik andong dengan harga Rp. 20.000 (kalo gak salah) lo tau gak sih, kita lagi asik-asiknya naik kuda liat perjalanan belum sampe 2 menit kita udah sampe! Udah sampe gaes, gue ulangin. Perasaan gue baru naro pantat deh tau-tau udah disuruh turun. Huhuhu...


Ngapain Aja Kita di Borobudur?

Biar enggak dibilang no pict hoax... Hahaha...

Sisi lain dari borobudur, batu-batunya tersusun rapi


Disambut dengan payung terbang... owowww

Payung payung apa yang bisa terbang? Coba tebak! 

Enggak tahu kenapa payung ini harus dibegituin, tapi kok bagus yah. :D

Jadi katanya, Borobudur ini tuh termasuk satu dari tujuh keajaiban dunia lho? Percaya gak? Tapi sih katanya udah bukan keajaiban lagi, gue juga gak tau sih alasannya apa, kalau kalian mau cari tau ya silahkan. Gue enggak menyangkal kalau Borobudur emang warisan dunia, gue enggak kebayang sih, kok ada ya orang yang mau mengukir itu batu-batu terus nyusun-nyusun sesuai dengan sejarah yang terjadi, ya walaupun gue sendiri gak tau makna dari ukiran itu apa? Tapi menurut gue itu keren. Oh iya sekedar informasi sekarang biaya masuk candinya Rp. 40.000/orang.

Ini nih yang gw bilang, batuan ini disusun gak pake lem lho... amazing


Jadilah bangunan ini.... Borobudur.
Apalagi banyaknya susunan batu itu dibangun tanpa ada perekat apapun lho, bingung enggak lu kenapa itu bisa nempel dan enggak jatuh, secara itu kan juga lumayan tinggi. Nah dari atas candi borobudur ini kita bisa melihat gunung merbabu, merapi, sumbing, dan sindoro yang mengapit candi ini. Gue sih cuma menyarankan kalau kalian mau ke sini mending agak sorean deh, soalnya panas. Hehehe... Bukan hanya sekedar panas sih alasannya, tetapi waktu sore itu kalian bisa melihat sunset yang Indah dari balik pegunungan itu... Aaahhh itu pasti indah banget!

Mungkin ada yang bilang, lu ke jogja ngapain main ke candi? Kayak enggak ada tempat yang lebih bagus deh. Coba ke gunung kidul pantainya bagus. Iye gue mau ke sana juga terus elu mau apa? Jadi, perjalanan itu bukan tentang destinasinya. Tetapi tentang kebersamaannya, tentang belajarnya, tentang sejauh mana kita bisa menahan ego kita. Itu menurut gue jauh lebih penting dibanding destinasinya. Hihihi sotoy ya gue.

Maafkan kami kadang suka enggak jelas

Yang ini juga, mohon maaf... hahaha

Ambil foto ini lumayan lama, soalnya banyak orang lewat di belakangnya. Nunggu sepi baru deh klik!

Belajar moto, dan begini hasilnya...

Gue pun bingung gaes kenapa harus kayak giniii?

Kita di Borobudur sampe jam 2 dan kembali pulang ke penginapan. Kali ini kami memutuskan jalan kaki ke terminal, biar enggak keki lagi kalau naik andong, eh tau enggak sih? Masa kita ketemu lagi sama abang-abang supir dan kenek yang kita tumpangin, akhirnya pulang bareng mereka lagi. Kali ini Ka Mawadah beraniin diri buat nawar.

“Mas, tadi kan kita udah naik trus sekarang naik lagi. 50ribu ya bertiga ke terminal jombor?” tanpa banyak cingcong, akhirnya dikasih. Uhuy baik bener dah. Nah di dalam bis itu ternyata ada penumpang sepasang Bule yang kebingungan secara enggak ada yang paham termasuk abang keneknya yang tiba-tiba minta tolong ditransletin bahasa inggris. Plis, salah orang mas... Akhirnya gue serahin ke Ka Firda yang englishnya lebih baik dari gue dan ternyata diapun menyerah.

Sepanjang perjalanan kami kembali tidur, enggak tau kenapa tidur di bis kok enak ya? atau karena gue aja yang pelor? Entahlah itu masih misteri. Kami sampai di penginapan sekitar jam 5, sebelumnya beli cemilan dulu karena udah kelaparan. Istirahat sebentar, mandi, solat, dan siap-siap perjalanan lagi.

Suasana Malam Alun-Alun Kidul

Selepas Isya, kami siap-siap berangkat ke Alun-alun kidul. Kali ini kami sewa motor yang memang udah disiapin sama mas-mas ganteng itu. Murah kok, satu hari cuma 50rb-70rb kebetulan kita sewa sampai 2 hari. Coba deh bayangin kalau kita sewa mobil itu sekitar 400ribu sehari, selama masih ada yang murah ngapain juga harus yang mahal. Inget  gak ada pepatah yang mengatakan, bersusah-sudah dahulu bersenang-senang kemudian. Apa hubungannya coba sama tulisan ini? bingung kan lu?

“Kenapa kita harus sewa motor? Kenapa enggak sewa sepeda aja?” tanya Ka Mawadah.

Woi, Jogja itu gede, destinasi kita jauh-jauh, dan waktu kita terbatas cuma tiga hari. Gue pikir dia bakal protes kenapa enggak sewa mobil? Ternyata dia malah ngajakin yang lebih susah, naik sepeda. Ya Allah, tabahkanlah hati hambamu ini... Aamiin.

Lanjut ya ...

Kami menuju Alun-alun kidul bermodalkan google maps (terima kasih google map, tanpamu kami hanyalah butiran debu jalanan yang terombang-ambing tak tahu arah). Ternyata lokasinya juga deket dari penginapan kita, enggak sampai 10 menit kita udah sampai.

Sebelumnya gue udah pernah ke Alun-alun dan jauh banget bedanya, perasaan dulu enggak serame ini deh. Udah banyak orang jualan, banyak sepeda yang dimodif jadi mobil atau bus. Sumpah ini kreatif banget, meskipun gue enggak naik sih. Hahaha... tentu saja yang terkenal di sini tuh pohon beringin kembar itu. Perlu gue ceritain gak nih kisahnya? Pasti bakalan panjang banget jadi gue ringkas aja ya.

Konon pada zaman dahulu kala... Et dah kelamaan banget yak? Intinya tuh, pohon ini dianggap mistis dan mitosnya kalau kalian bisa melewati jalan di antara pohon kembar itu dengan mata tertutup[ berarti kalian punya hati yang suci dan bisa terkabul hajatnya. Inget yak, ini cuma mitos lho! Gue sendiri enggak percaya, cuma gue penasaran aja kenapa gak bisa melewatin pohon itu. Apakah hati gue terlalu kotor. OMG hati gue kotor!

Setelah iseng-iseng, sebuah tragedi terjadi. Kacamata gue hilang gaes! Kami bertiga mencari-cari kacamata gue yang jatuh di lapangan itu, entah jatuhnya di mana. Akhirnya ketemu dalam keadaan patah dan kotor. Syedddiiiih... Akhirnya karena udah malam dan gak tahu ada optik terdeket, alhasil kami ke warung buat beli hansaplas supaya kacamata gue bisa ditambal. Beruntung, kacamata gue bisa kesambung lagi. Amazing!

Setelah menyambung kacamata di bawah pohon beringin, akhirnya kami mulai kelaparan dan makan di pinggir-pinggir lapangan. Seru sih, bisa sekaligus melihat langit, melihat lalu lalang orang lewat. Akhirnya kesampaian juga cobain kopi joss! Gue heran, apakah kopi jos itu cuma kopi hitam dicampur areng gitu? Abis keliatannya gitu sih, rasanya sama aja hanya agak lebih pahit dari biasanya.

Nah ini tempat makan kita, cuma meja meja kecil yang disusun. Kayak lagi belajar kelompok gak sih! 
 
Coba fokus ke kacamatanya gaes, itu kacamata ditambal pake hansaplas... jangan liat orangnya.

Kopi Joss yang enggak sesuai dengan ekspektasi gue... huhuhu

Ini bukan mobil, tapi sepeda lho... Coba aja naik!


Sebelum jam 10 malam kami akhirnya sudah kembali ke penginapan. Besok pagi, petualang yang sebenarnya baru akan di mulai!

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...