Skip to main content

KALIAN HADIR MERINGANKAN BEBAN SAYA, DIK!


Senang sekali melihat kalian, Dik! Kadang tertawa, kadang menangis, kadang juga suka ngadu kalau dijahatin teman. Hahaha... Alhamdulillah kehadiran adik-adik tadi sore kembali membuat saya kembali tersenyum. Ah... saya suka sekali melihat wajah-wajah polos mereka, wajah yang apa adanya seperti tanpa memiliki masalah. Apalagi saat melihat mereka antusias membaca doa, berebut minta dulu-duluan baca Iqro. Begitu semangatnya kalian, Dik!

Seperti tadi, seorang anak menarik-narik jilbab saya sambil ketakutan dan sekadar bicara
"Kak, Dia nakal!" Huh dasar bocah!

Intinya saya merasa lepas sekali jika bersama mereka, seperti menjadi anak kecil lagi, tertawa bersama, sedikit meringankan beban saya. Kangen merindukan suasana seperti ini padahal mah kadang saya merasa kerepotan sendiri kalau udah pada berantem, nangis, teriak-teriak.

Rasanya ingin jadi anak kecil lagi, meskipun masa kecil saya tidak begitu bahagia setidaknya saya cukup dimengerti. Namun, sudahlah. Insya Allah saya Ikhlas...

Jadi inget tadi pas lagi ngajar TPA, ceritanya ada seorang murid yang datang ke saya. Namanya Raffi.
Raffi : Kak, kakak mirip sama kakakku
Saya : Masa?
Raffi : Iya bener, namanya Kak Icha. Mukanya sama suaranya sama cuman Kak Icha nggak pake kacamata
Saya : Oh gitu, kenalin dong sama Kak Icha
Raffi : Ayo kak kapan-kapan ikut
Saya : Memang Kak Icha dimana
Raffi : Di Medan, Kak
Saya : *Ngurut dada* (Deuh kirain mah deket, pake ngajak-ngajak segala lagi)

Lain halnya dengan perbincangan tadi.
Raffi  : Kakak udah nikah, Ya?
Saya : Kata siapa Kakak udah nikah? belum kok.
Raffi  : Ah Kakak bohong ! (idih kok dia yang nyolot yak?)
Saya : Belum, ngapain Kakak bohong
Raffi  : Itu Kakak pakai cincin. *Gubrak* (Hah memang buat yang belum nikah nggak boleh pake cincin apa ya?)
Saya : Memang kenapa kalau pake cincin?
Raffi : Kata Mama kalau pakai cincin berarti udah nikah. Ya kan, Kak? itu cincin kawin kan, Kak?
Saya : *Nyengir* Bukan, Ini cincin hadiah waktu Kakak beli Chiki Zacki. (Jawabannya keren kan?) Dan Raffi percaya, Yess!!

Hahaha seru banget kan kalau udah berbincang sama anak kecil? meski sedikit-sedikit makan hati, tapi itu benar-benar membuat saya merasa dihargai dan dimengerti meski dengan cara yang berbeda...

Ah nanti kalau seandainya udah nikah, nggak mau seperti yang diiklan yang katanya dua anak lebih baik. Apaan coba tuh? Suka-suka dong.. Nanti maunya punya anak minimal tujuh.. itu angka kesukaan saya loh! Hahaha... Udah ah...

Comments

Popular posts from this blog

Seperti Hujan yang Jatuh Ke Bumi (Review)

Boy CandraKategori Fiksi (Novel)Penerbit Mediakita288 halamanRp. 65.000


Aku pernah belajar merelakanmu berkali-kali. Melepasmu pergi mencari cinta yang lain. Membiarkan kesempatan memilikimu hilang untukku. Sebab kamu berhak bahagia; meski sesungguhnya aku tidak bahagia dengan keputusan itu.
Kupikir hidup akan baik-baik saja. Semua harus berjalan seperti sedia kala. Kamu dengan seseorang yang dipilihmu. Aku entah dengan siapa,sendiri atau dengan yang lain. Aku mulai mencoba memberikan hatiku pada seseorang yang lain. Kubiarkan siapapun menggantikanmu. Namun, aku keliru. Melupakanmu ternyata tidak pernah semudah itu.
. . . Ini adalah pertama kalinya saya membaca karya Boy Chandra. Entah kenapa saya tertarik ketika melihat covernya dan tulisan belakang buku tersebut. Sebelumnya karena memang penasaran sih, by the way kenapa di setiap bukunya ada kata senja atau hujan? Kenapa yah?
Mulai baca BAB awal saya suka dengan gaya Boy Chandra bercerita. Di sana saya berkenalan dengan salah satu tokoh b…

Sepenggal Kisah di Pedalaman Baduy

Saya selalu menikmati sebuah perjalanan, dan beberapa pekan yang lalu saya menuju pedalaman Baduy. Sebenarnya untuk tahun ini perjalanan ke Baduy tidak ada dalam daftar list yang akan saya kunjungi. Namun, entahlah. Saya juga tidak menyangka bisa sampai disana.

            Suku Baduy terbilang unik dan berbeda dari lainnya. Mereka masih menjunjung tinggi adat istiadat dan saya memberi jempol untuk orang-orang yang masih bertahan dengan kehidupan di Baduy khususnya Baduy Dalam.

            Sebelum menuju Baduy Dalam kami diperkenalkan dengan seorang bapak-bapak bernama Mang Alim. Beliau suku Baduy asli dan kami akan bermalam di rumahnya. Mang Alim mewakili suku Baduy Asli, Suku Baduy Dalam memakai baju warna putih, memakai ikat kepala, jalan tidak memakai sandal. Mereka berbahasa sunda.

            Sebelum keberangkatan menuju Baduy, Mang Alim memberikan petuah sebelum melakukan perjalanan sekitar 2 jam dari Desa (Saya lupa nama desanya) sebut aja desa itu.

TRAGEDI PULAU DOLPHIN

Tragedi Pulau dolphin
Bismillahir rahmaanir rahiim
Udah lama banget ga nulis ya… gak produktif banget nih gak pernah posting tulisan.. -__-
Alhamdulillah karena saya abis jalan-jalan jadi saya jadi ada bahan buat ditulis. Sebenernya sih bahan banyak ada di mana-mana malah, masalahnya saya males ke toko bahan. Apalah apalah…

Pulau dolphin adalah salah satu pulau di sekitar pulau seribu. Mau kesana kudu transit dulu ke pulau harapan yang jaraknya 3-4 jam dari muara angke. Siap-siap mabok…
Beberapa kali pula saya dan teman-teman merencanakan ke pulau tapi hasilnya nothing alias gak pernah jadi. Kali ini saya tekadkan kalau perjalanan ini harus tetap jadi, berapapun orang yang ikut. Alhamdulillahnya terkumpul sekitar 11 orang yang ikut perjalanan ke pulau lumba-lumba yang pada kenyataannya ga ada lumba-lumbanya adanya malah ikan lepuh. #eh
Kita berangkat sekitar jam 8 pagi dari muara angke, kapal mulai berangkat. Karena sudah penuh kita kebagian duduk di belakang deket mesin, silahkan men…