Skip to main content

Onrust Traveller with Kompas Khatulistiwa...

Bismillahir rahmanir rahiim....

Yuhuuuuu..... akhirnya bisa jalan-jalan lagi, meskipun awalnya nggak ada niat sih. belakangan ini emang saya sering bolak-balik Jakarta Bogor. kalo di itung-itung bisa empat kali mondar-mandir dalam kurun waktu seminggu, saya juga sebenernya bingung sih. ada apaan yaa di Bogor??

Nah sabtu kemaren saya diajak temen buat ikut traveling, wuih... siapa juga yang nolak kalau di ajak jalan-jalan? Nah Perjalanan kali ini kami ke Pulau Kelor, Pulau Cipir, dan Pulau Onrust yang terletak di Kepulauan seribu. Dan ini adalah perjalanan pertama saya ke pulau seribu. 

Sebenernya target tahun ini saya memang ada niatan mau ke Pulau Tidung. Tapi ketika ada kesempatan ke Pulau Onrust ya ikut ajalah, dari pada nggak sama sekali.

Kita ngumpul di Kota Tua, saat itu saya cuma kenal sama kak Lina. Ya soalnya ini orang yang ngajak saya jalan-jalan. lainnya saya nggak kenal, tapi Alhamdulillah sih pada kenalan.. wkwk...

Dari Kota Tua kami langsung melanjutkan perjalanan ke Muara Kamal, tempat di mana kami akan menaiki sebuah kendaraan laut. yaelah ngomong perahu aja ribet banget. Baiklah, meskipun bau-bau amis sudah mulai tercium semriwing. Kami langsung melanjutkan perjalanan ke Pulau Kelor. Feeling saya sih ini pulau banyak daun kelornya eh ternyata bener 
:D

Ini Foto di Pulau Kelor. di belakang kami ada Benteng Martello yang dibangun oleh orang Belanda. katanya sih di pulau ini tempat pembuangan mayat-mayat pemberontak. Dan di sana nggak ada kehidupan, Pulau ini kosong dan puanas banget. Pas banget buat yang lagi galau. semaleman aja di sini di jamin galaunya ilang!

Kalau mitosnya sering terlihat dan terdengar suara kucing. Padahal nggak ada kucing di sana. namanya juga nggak ada kehidupan.
Benteng martello sudah hampir hancur akibat penjarahan dan karena letusan gunung berapi.Makanya sekarang yang tersisa hanyalah pondasi batu bata kemerahan yang sering diterpa gelombang pantai.
Bersama teman-teman baru di Komunitas Kompas Khatulistiwa...

^_^







  

Nah dari Pulau Kelor kami langsung berangkat ke Pulau Cipir... Cihuyy...
Selamat datang di pulau cipir....
Awalnya pulau ini disebut Pulau khayangan. Cipir adalah pulau bekas Rumah Sakit untuk perawatan dan karantina penyakit menular bagi Jemaah Haji. Dan mitosnya banyak Jemaah Haji yang disuntik mati di sini... Hiyyy...
Sisa-sisa bangunan Rumah Sakit yang masih tersisa.. 








di Pulau Onrust.... ada kejadian menarik di sini. eh tapi ntar dulu deh saya mau cerita sejarah yang saya tahu dulu. Konon, di pulau ini. duhh males banget deh cerita pake kata konon... 

Lanjut aja yaaa... dulu Pulau ini adalah tempat persinggahan kapal-kapal yang akan menuju Jakarta atau nama kerennya dulu batavia. Namun sekarang dipindahkan ke Tanjung Priok. Pulau ini juga terdapat 35 asrama haji dan penjara.

Selain itu di Pulau Onrust terdapat makam Karto Soewiryo, namun sampai sekarang masih simpang siur apakah benar atau tidak. Dan di sana ada juga pemakaman orang-orang belanda, yang paling terkenal itu 
makamnya Maria Van Del Veldes. mitosnya lagi, kalau menjelang malam hari ini si Maria suka iseng nampakin diri dan pake baju putih, bentar deh baju putih atau merah yaa? hem, kalau mau tau kisahnya searching mbah google aja deh, saya rada sieun ceritanya...  hehehe....

Sepulang dari makam kemarin saya dan teman-teman ke makam Karto Soewiryo. Dan sengaja duduk di tepi pantai sambil melihat-lihat foto yang tersimpan di kamera. anehnya, ada 13 foto yang hilang tanpa ada gambar apapun, hanya gelap tanpa gambar padahal sebelumnya masih utuh. Kemana larinya tuh foto??
Hiyyy.... Baiklah mungkin kesalahan kamera. Sampai sini dulu deh ceritanya... Semoga bermanfaat... :))

Terimakasih buat teman-teman Komunitas Kompas Khatulistiwa, atas ilmu pengetahuannya di sepanjang perjalanan. Satu kekecewaan saya, kenapa baru tahu sekarang dan baru gabung sekarang dengan kompas khatulistiwa? wkwk... Mudah-mudahan untuk selanjutnya bisa ikut jalan-jalan lagi.... aamiin...
Save Culture - Save Nature in Your Adventure!

Wasallamuu'alaikum.....


Senin, 16 Juli 2012

Comments

Post a Comment

Terima kasih sudah singgah. Silakan berkomentar :)

Popular posts from this blog

Seperti Hujan yang Jatuh Ke Bumi (Review)

Boy CandraKategori Fiksi (Novel)Penerbit Mediakita288 halamanRp. 65.000


Aku pernah belajar merelakanmu berkali-kali. Melepasmu pergi mencari cinta yang lain. Membiarkan kesempatan memilikimu hilang untukku. Sebab kamu berhak bahagia; meski sesungguhnya aku tidak bahagia dengan keputusan itu.
Kupikir hidup akan baik-baik saja. Semua harus berjalan seperti sedia kala. Kamu dengan seseorang yang dipilihmu. Aku entah dengan siapa,sendiri atau dengan yang lain. Aku mulai mencoba memberikan hatiku pada seseorang yang lain. Kubiarkan siapapun menggantikanmu. Namun, aku keliru. Melupakanmu ternyata tidak pernah semudah itu.
. . . Ini adalah pertama kalinya saya membaca karya Boy Chandra. Entah kenapa saya tertarik ketika melihat covernya dan tulisan belakang buku tersebut. Sebelumnya karena memang penasaran sih, by the way kenapa di setiap bukunya ada kata senja atau hujan? Kenapa yah?
Mulai baca BAB awal saya suka dengan gaya Boy Chandra bercerita. Di sana saya berkenalan dengan salah satu tokoh b…

Sepenggal Kisah di Pedalaman Baduy

Saya selalu menikmati sebuah perjalanan, dan beberapa pekan yang lalu saya menuju pedalaman Baduy. Sebenarnya untuk tahun ini perjalanan ke Baduy tidak ada dalam daftar list yang akan saya kunjungi. Namun, entahlah. Saya juga tidak menyangka bisa sampai disana.

            Suku Baduy terbilang unik dan berbeda dari lainnya. Mereka masih menjunjung tinggi adat istiadat dan saya memberi jempol untuk orang-orang yang masih bertahan dengan kehidupan di Baduy khususnya Baduy Dalam.

            Sebelum menuju Baduy Dalam kami diperkenalkan dengan seorang bapak-bapak bernama Mang Alim. Beliau suku Baduy asli dan kami akan bermalam di rumahnya. Mang Alim mewakili suku Baduy Asli, Suku Baduy Dalam memakai baju warna putih, memakai ikat kepala, jalan tidak memakai sandal. Mereka berbahasa sunda.

            Sebelum keberangkatan menuju Baduy, Mang Alim memberikan petuah sebelum melakukan perjalanan sekitar 2 jam dari Desa (Saya lupa nama desanya) sebut aja desa itu.

TRAGEDI PULAU DOLPHIN

Tragedi Pulau dolphin
Bismillahir rahmaanir rahiim
Udah lama banget ga nulis ya… gak produktif banget nih gak pernah posting tulisan.. -__-
Alhamdulillah karena saya abis jalan-jalan jadi saya jadi ada bahan buat ditulis. Sebenernya sih bahan banyak ada di mana-mana malah, masalahnya saya males ke toko bahan. Apalah apalah…

Pulau dolphin adalah salah satu pulau di sekitar pulau seribu. Mau kesana kudu transit dulu ke pulau harapan yang jaraknya 3-4 jam dari muara angke. Siap-siap mabok…
Beberapa kali pula saya dan teman-teman merencanakan ke pulau tapi hasilnya nothing alias gak pernah jadi. Kali ini saya tekadkan kalau perjalanan ini harus tetap jadi, berapapun orang yang ikut. Alhamdulillahnya terkumpul sekitar 11 orang yang ikut perjalanan ke pulau lumba-lumba yang pada kenyataannya ga ada lumba-lumbanya adanya malah ikan lepuh. #eh
Kita berangkat sekitar jam 8 pagi dari muara angke, kapal mulai berangkat. Karena sudah penuh kita kebagian duduk di belakang deket mesin, silahkan men…