Skip to main content

Ramadhan Without 'Emak'


Bismillahir rahmaanir rahiim...

                Siang tadi saya belanja sesuatu ke warung dekat rumah. Lalu seorang ibu-ibu bertanya sama saya...
                “Erny, nanti teraweh di rumah?” Ibu itu tetangga saya. Biasanya setiap Ramadhan tiba di rumah memang selalu buat tempat Sholat Taraweh. Imamnya tidak lain adalah Emak. Tapi, kini Emaknya sudah pergi menghadap Allah. Lantas siapa yang mau diamanahi menjadi Imam?

                Saya menggeleng kepala. Mungkin tahun ini saya akan solat taraweh di Masjid atau di rumah sendirian. Selesai buka puasa biasanya saya memang tidak pernah keluar rumah, sudah menjadi hal yang biasa solat berjamaah dengan Emak. Emak suka melarang kalau saya taraweh di masjid apalagi kalau bareng teman-teman, bisa nggak khusyu’ katanya. Tapi kali ini sudah berbeda.

                Dan barangkali saya harus belajar menyesuaikan diri dengan keadaan, bahwa mungkin sekarang memang sudah waktunya di bulan ini saya menghadapi kenyataan tanpa Emak. Di rumah tidak seperti dulu lagi, masakan Emak yang paling enak, kalau saya kebagian tugas cuci piring sehabis berbuka atau sahur, paling kalau lagi mau yaaa bantuin Emak masak meskipun malah jadi ngerecokin akhirnya.

                Apalagi sahur nanti, hm... sudah tidak terdengar lagi suara merdunya mengaji. Jurus paling ampuh membangunkan saya sahur, kalau nggak mempan suara mengaji Emak akan lebih kencang lagi, pokoknya sampai benar-benar bangun. Kalo nggak bangun juga sudah pasti memercikkan air ke muka saya. J

                Dan saya tidak akan menemukan lagi masa-masa seperti itu, saya harus bisa menjadi mandiri apapun yang terjadi. Teringat perkataan teman saya saat datang takziah.

                “Er, gw inget banget terakhir ketemu Emak Haji bulan puasa kemaren. Emak nyuruh gw supaya puasa tahun ini yang paling baek, soalnya belum tentu ramadhan  tahun besok gak ketemu lagi. Eh Emak haji malah pergi duluan,” saya cuma bisa tersenyum aja mendengar celotehnya. Kali ini memang puasa ramadhan pertama tanpa Emak. Hm... Ya sudahlah, not life must go on.

Intinya harus lebih baik meski tanpanya, beliaupun tidak akan senang jika saya hanya berdiam diri, mengutuk diri, i was never alone. Bagaimanapun keadaan saya kini, saya hanya berharap Allah memeluk saya erat, semoga Allah selalu meridhoi setiap langkah kita.. J

Besok puasa, mari kita sama-sama berlomba dalam kebaikan teman-teman...


20 Juli 2012

Comments

Popular posts from this blog

Seperti Hujan yang Jatuh Ke Bumi (Review)

Boy CandraKategori Fiksi (Novel)Penerbit Mediakita288 halamanRp. 65.000


Aku pernah belajar merelakanmu berkali-kali. Melepasmu pergi mencari cinta yang lain. Membiarkan kesempatan memilikimu hilang untukku. Sebab kamu berhak bahagia; meski sesungguhnya aku tidak bahagia dengan keputusan itu.
Kupikir hidup akan baik-baik saja. Semua harus berjalan seperti sedia kala. Kamu dengan seseorang yang dipilihmu. Aku entah dengan siapa,sendiri atau dengan yang lain. Aku mulai mencoba memberikan hatiku pada seseorang yang lain. Kubiarkan siapapun menggantikanmu. Namun, aku keliru. Melupakanmu ternyata tidak pernah semudah itu.
. . . Ini adalah pertama kalinya saya membaca karya Boy Chandra. Entah kenapa saya tertarik ketika melihat covernya dan tulisan belakang buku tersebut. Sebelumnya karena memang penasaran sih, by the way kenapa di setiap bukunya ada kata senja atau hujan? Kenapa yah?
Mulai baca BAB awal saya suka dengan gaya Boy Chandra bercerita. Di sana saya berkenalan dengan salah satu tokoh b…

Sepenggal Kisah di Pedalaman Baduy

Saya selalu menikmati sebuah perjalanan, dan beberapa pekan yang lalu saya menuju pedalaman Baduy. Sebenarnya untuk tahun ini perjalanan ke Baduy tidak ada dalam daftar list yang akan saya kunjungi. Namun, entahlah. Saya juga tidak menyangka bisa sampai disana.

            Suku Baduy terbilang unik dan berbeda dari lainnya. Mereka masih menjunjung tinggi adat istiadat dan saya memberi jempol untuk orang-orang yang masih bertahan dengan kehidupan di Baduy khususnya Baduy Dalam.

            Sebelum menuju Baduy Dalam kami diperkenalkan dengan seorang bapak-bapak bernama Mang Alim. Beliau suku Baduy asli dan kami akan bermalam di rumahnya. Mang Alim mewakili suku Baduy Asli, Suku Baduy Dalam memakai baju warna putih, memakai ikat kepala, jalan tidak memakai sandal. Mereka berbahasa sunda.

            Sebelum keberangkatan menuju Baduy, Mang Alim memberikan petuah sebelum melakukan perjalanan sekitar 2 jam dari Desa (Saya lupa nama desanya) sebut aja desa itu.

TRAGEDI PULAU DOLPHIN

Tragedi Pulau dolphin
Bismillahir rahmaanir rahiim
Udah lama banget ga nulis ya… gak produktif banget nih gak pernah posting tulisan.. -__-
Alhamdulillah karena saya abis jalan-jalan jadi saya jadi ada bahan buat ditulis. Sebenernya sih bahan banyak ada di mana-mana malah, masalahnya saya males ke toko bahan. Apalah apalah…

Pulau dolphin adalah salah satu pulau di sekitar pulau seribu. Mau kesana kudu transit dulu ke pulau harapan yang jaraknya 3-4 jam dari muara angke. Siap-siap mabok…
Beberapa kali pula saya dan teman-teman merencanakan ke pulau tapi hasilnya nothing alias gak pernah jadi. Kali ini saya tekadkan kalau perjalanan ini harus tetap jadi, berapapun orang yang ikut. Alhamdulillahnya terkumpul sekitar 11 orang yang ikut perjalanan ke pulau lumba-lumba yang pada kenyataannya ga ada lumba-lumbanya adanya malah ikan lepuh. #eh
Kita berangkat sekitar jam 8 pagi dari muara angke, kapal mulai berangkat. Karena sudah penuh kita kebagian duduk di belakang deket mesin, silahkan men…